Minggu, 01 Februari 2009

Karamah Syekh Umar Al Muhdhar

Karamah Syekh Umar Al Muhdhar

Seperti dikatakan pada buku-buku sebelumnya masalah karamah dalam silsilah buku biografi ini, merupakan subjek yang bukan titik berat, sebab tujuan dari buku ini adalah untuk memperkenalkan kepada generasi zaman ini biografi para pendahulunya dengan gaya berkomunikasi dan berpikir mereka bahwa para wali adalah manusia yang paham betul bagaimana menghargai waktu, usia, dan agama, sehingga mereka meletakkan segala sesuatu sesuai tempatnya, dan barang siapa meletakkan segala sesuatu pada tempatnya akan tampak dari dirinya rahasia waktu, umur, dan agama sehingga tidak memprioritaskan salah satu diatas lainnya tapi asas mereka dalam masalah agama dan dunia adalah tujuan Allah SWT, sehingga mereka menjadikan agama sebagia target utama dan dunia sebagai media untuk bisa sampai kepada target.

Banyak diantara generasi sekarang yang terjangkiti penyakit alergi terhadap para wali dan orang-orang saleh, hal ini sebab gencarnya serangan informasi yang memojokkan madrasah-madrasah tradisional, sebenarnya kita bisa memberikan penjelasan kepada para pembaca perihal karamah-karamah tersebut namun kondisi sekarang tidak memungkinkan maka kami suguhkan sebagai gantinya sikap-sikap yang berhubungan dengan praktik sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, dalam hadist beliau ” barang siapa yang menghidupkan sunnah-sunnahku disaat kehancuran umatku maka dia berehak pahala seratus syahid”

Karamah bukan merupakan syarat kewalian, ketakwaan adalah sikap consisten, maka karamah dan ketakwaan adalah konsisten dan beramal saleh, subjek inilah yang akan kami angkat dalam otobiografi ini.

Seseorang yang berfikir tentang karya-karya otobiografi akan dihadapkan pada kenyataan bahwa suatu peristiwa menuntut seorang penulis untuk memhami masa terjadinya peristiwa tersebut juga kesiapan para konsumen buku tersebut, orang-orang tedahulu yang tercakup didalamnya para ulama, para ahli hadist, para mujtahid, para ahli usul sudah barang tentu ada diantara mereka yang terkenal dengan karamahnya, haalnya, ataupun maqam-maqamnya. Sedangkan untuk masa sekarang ara penulis dihadapkan pada celaan dan ungkapan-ungkapan lepas. Hal ini sebenarnya bisa teratasi dengan memperlakukan ilmu diatas kaidah moderat dan tanpa menambah-nambahi ataupun mengurang-ngurangi.

Banyak sekali buku-buku otobiografi yang mengusung cerita-cerita tentang karamah Imam Umar Muhdar sebagai bahan kajian, demikian halnya para imam lain. Kebanyakan kitab-kitab klasik selalu menjadikan masalah karamah dan hal-hal yang luar biasa sebagai salah satu tajuk pemicaraan mereka. Pembuktian merupakan tuntutan umum yang mana dia juga menjdi ukuran kepribadian para tokoh dan keutamaan mereka.

Para pecinta dan pengagum Syekh Umar Muhdhar sampai saat ini masih bisa merasakan karamah dan pengaruhnya seperti wali-wali Allah yang lainnya. Namun perang info sekarang ini terkonsentrasi pada Al Kitab dan Al Sunah, kedua referensi ini pada saat ini dipamerkan dan dipasarkan kepada para generasi sekarang dalam bentuk yang mandul dari buah praktiknya, dan hal ini telah menghiasi logika generasi sekarang sehingga memalingkan mereka dari mengambil sikap yang benar.

Pendeknya, saya katakana kepada para pembaca yang budiman bahwa banyak dari cerita-cerita karamah yang membutuhkan filter yang kuat agar bisa disuguhkan sejalan dengan pola piker generasi saat ini, sehingga para pendahulu tidak tedhalimi maqam dan martabat mereka dan pemahamam para pemuda zaman sekarang dapat dibenarkan dengan teknik yang tengah-tengah dengan tanpa mengingkari seratus persen, juga tidak menerima apa adanya cerita-cerita tersebut, juga dengan cara pentahqiqan akan kebenaran riwayat dan para periwayatnya.

Tugas ini tidaklan mudah namun kita berharap Allah akan mempermudah bagi orang dikehendaki-Nya.

Kepergian Syekh Umar Al Muhdhar

Penulis Al Gharar mengatakan,

فذاك الذي قد سما في العلا إلى ذروة الفجر حتى فخر
هو الليث حقا ترى للعدا لديه ارتعاد إذا ما زأر
له صارم المجد صمصامه إذا هزه طار منه الشرر
بتول إذا ما سطا سطوة على الوتر ألقاه شفعا و مر
و من ذروة العز خصت له و من نال ما عنه كل حسر

Sang imam selalu rutin dalam menyebarkan ilmu dan mengamalkannya, mengunjungi para janda dan anak-anak yatim, melakukan dak’wah ilaa Allah, juga mengemban amanat thariqah yang dimandatkan secara turun menurun dari para pendahulunya, sampai pada suatu hari ketika mudzin mengumandangkan azan dzuhur sedang beliau saat itu sedang duduk lalu beliau menjawab selamat datang bagi penyeru dan shalat, lalu beliau menghadap kiblat dan memulai shalat, berdiri, bertakbiratul ihram, melakukan ritual shalat dan bersujud, sisaat inilah ruh beliau berpindah sedangkan beliau dalam keadaan sujud, tidak bergeming dari posisinya sampai para jamaah merasa ada keganjalan, lalu diangkat dan mereka mendapati beliau teah meninggal dunia, pada hari senin 2 dzul qa’dah tahun 833M.

Goncanglah Tarim ketika mendengar kabar ini bagai tersambar petir, ratusan orang berjubel untuk mengantar jenazah beliau yang berjalan diantara bahu para keluarga, pecinta dan pengikut beliau hingga sampailah di tempa peristirahatan akhir disamping para pendahulunya.

Penulis Al Jauhar mengatakan,

سقى الله قبرا سما و افتخر بجثمان شمس المعالي عمر
لقد ضم إمام الهدى أبا حفص الليث ذا المشتهر
صباح الظلام و غوث الأنام رفيع المقام مزيح الضرر
كريم تسلسل من سادة كرام صفوا عن مشوب الكدر
حووا سر أسرار خير الورى و فيهم سرى سره و انحدر
إلى أن تلقاه شيخ الورى و صار له المعدن المستقر
تشعشع من بعدهم نجمه و نار فلما تعالى زهر
فآه على القوم قد أوحشوا و آه على فقد تلك الغرر
و آه على السيد المرتضى و ما ينفع الآه بعد القدر
سلام سلام على روحه من الواحد الفرد منشي الصور
فذاك الذي قد سما في العلا إلى ذروة الفجر حتى فخر

Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang telah tercurahkan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar