Minggu, 01 Februari 2009

Banyak Dzikir, Banyak Kebaikan Dunia Akhirat

Oleh : Sayyidy al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz BSA

Sabtu, 25-02-2006, di rumah al-Habib Thohir bin Yahya - Semarang. Diterjemahkan : Sayyidy al-Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan

Sayyidy al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz memulai ceramahnya dengan mengucap syukur pd Allah Swt yg telah mengumpulkan kita di perkumpulan yang mulia ini, perkumpulan yang penuh dengan rohmat, keberkahan dari Allah Swt, Allah Jalajaluh telah menentukan perkumpulan ini sebelum menciptakan alam semesta sehingga kita sekalian di malam hari ini berkumpul di perkumpulan yg mulia ini dengan di bawah naungan keridhoan Allah Swt, dengan di bawah naungan rohmat Allah Swt, perkumpulan yang bersambung dengan Nabi Muhammad Saw, perkumpulan di bawah naungan dakwahnya Nabi Muhammad Saw, perkumpulan di bawah ajaran Nabi Muhammad Saw.

Kita berkumpul di malam hari ini, berkumpul berdzikir pada Allah Swt, mendengarkan ilmu yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, mendengarkan mempelajari apa-apa yang telah dibawa oleh Nabi kita Nabi Besar Muhammad Saw, kita berkumpul di malam hari ini mendengarkan ilmu, mendengarkan apa yang diajarkan Rosulullah tidak lain agar kita mengamalkan mempraktekkan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Perkumpulan kita malam hari ini tidak lain adalah karena keberkahan Nabi Muhammad Saw, kalau bukan karena Rosulullah, kalau bukan karena Nabi Besar Nabi Muhammad Saw kita tidak akan pernah mengenal satu sama lain diantara kita, kalau bukan karena baginda besar Rosulullah Saw kita tidak akan pernah hadir di majlis ini, kalau bukan karena baginda besar Rosulullah Saw kita tidak saling mewasiatkan dengan al-haq washobar satu sama lain ayyuhal ihwan, kalau bukan karena baginda besar Nabi besar Muhammad Saw kita tidak akan pernah memiliki perbedaan dengan orang-orang kafir, orang-orang yang telah ditentukan oleh Allah untuk jauh dari Allah Swt, orang-orang yang dilaknat oleh Allah Swt, akan tetapi lihatlah Allah Jalajaluh menentukan kita di dalam qodlo’ dan qodar-Nya dijadikan kita sebagai orang-orang beriman di sisi Allah Swt.

Oleh karena itulah ayyuhal ihwan kita ikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, kita ikuti ilmu yang dibawa Nabi Muhammad, yang menyerukan ajaran ini adalah Nabi Muhammad, ajaran yang datang dari Allah Swt, bukan dari pemikiran manusia, bukan dari orang yang sempit pemikirannya akan tetapi ajaran ini, agama ini datang dari Allah Swt dan ketahuilah: Kemuliaan kita, keagungan kita, kehormatan kita adalah dengan mengikuti ilmu Nabi Muhammad, dengan berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad Saw, berpegang teguh pada ajaran yang dibawa Nabi Muhammad, dengan mengikuti jejak yang dibawa Nabi Muhammad Saw.

Perkumpulan kita di malam hari ini tidak lain adalah suatu pertanda dari Allah Swt, pertanda bahwa Alloh menghendaki untuk kita suatu kebaikkan, ini merupakan perkumpulan kita malam hari ini, pertanda bahwa Allah Swt akan mengangkat bala’ dari kita sekalian, akan menyucikan hati kita, akan menyinari hati kita dengan cahaya-Nya yang terang benderang, perkumpulan kita di malam hari ini adalah perkumpulan yang penuh keberkahan dari Allah Swt, walaupun terkadang di malam hari ini kita berkumpul agak malam, akan tetapi walaupun kita agak capek sedikit berkumpul di ini malam, akan tetapi ingatlah nikmat yang diberikan Alloh Swt, sudah sepantasnya kita sebagai hamba untuk berjuang di jalan Allah Swt, untuk berkorban demi Allah Swt.

Demi Allah kalau bukan karena hadits, kalau bukan suatu hadits yang diucapkan oleh Rosulullah Saw, cukup hadits yang diucapkan Rosulullah Saw, di dalam hadits Rosulullah Saw bersabda:
“Di mana mereka orang-orang yang saling mencintai karena Aku (dikatakan oleh Allah)?”

Di hari kiamat kelak nanti diserukan suatu seruan yang memanggil mereka yang saling mencintai karena Allah Swt, yang saling menjenguk satu sama lain karena Allah Swt, yang saling berdzikir berkumpul berdzikir karena Allah Swt, mereka kelak akan di naungi oleh Allah Swt di bawah naungan rohmat Allah Swt. Di hari yang menakutkan, hari kiamat, dimana Allah Swt mendekatkan matahari sehingga disebutkan matahari didekatkan oleh Alloh Swt di atas kepala manusia satu mill sebagaimana disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw, sehingga manusia tertimpa suatu kesusahan yang begitu dahsyat, yang begitu menakutkan, mereka di bawah terik matahari yg panas, mereka dibanjiri oleh air keringat mereka sendiri, sehingga Nabi Muhammad Saw menyebutkan tentang hari kiamat yang begitu dahsyat, orang-orang yang dikumpulkan oleh Allah Swt di hari kiamat berdesak-desakan satu sama lainnya, diceritakan telapak kaki di atas seribu telapak kaki di bawahnya.

Sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw bahwa mereka dibanjiri oleh keringat mereka, beberapa orang yang keringatnya sampai ke mata kakinya, beberapa lagi yang sampai ke lututnya, beberapa lagi sampai menutupi hidungnya.

Disebutkan di dalam hadits bahwa Nabi Muhammad ketika membawakan hadits tersebut beliau Saw mengisyaratkan ke hidungnya, beberapa orang sampai ditutupi oleh keringat sampai ke hidungnya, beberapa lagi sampai di atasnya, sampai 70 hasta karena tenggelam oleh keringat. Na’udzubillah mindzalik. Hari yang menakutkan, hari dimana Alloh Swt mengumpulkan al-awwalin wal ahirin, dan ketahuilah di hari yg menakutkan tersebut tidak ada yang mampu memberikan pertolongan dan syafa’at melainkan Nabi Muhammad Saw, Nabi yang agung, Nabi yang mulia di sisi Allah Swt.

Di dalam hadits, baginda Nabi besar Muhammad Saw, beliau Saw bersabda:
“Aku adalah orang yang pertama kali memohon syafa’at kepada Allah Swt, dan aku adalah orang yang pertama kali yang diterima syafa’atnya oleh Allah Swt.”

Dan ini Nabi Muhammad Saw, lihatlah di dalam hadits ini NabiMuhammad Saw mengajarkan agar kita menjalin hubungan dengan Nabi Muhammad Saw, menjalin hubungan yang erat dengan Rosulullah Saw. Dahulu para shohabat Rosulillahi Saw pernah suatu kali mereka berkumpul, berbicara satu sama lain membahas para Nabi-Nabi Allah, para Anbiya’ Allah yang diutus oleh Allah, manusia-manusia yang mulia di sisi Allah Swt, dan inilah perkumpulan mereka para shohabat Rosulillahi Saw, mereka berkumpul mengingat Allah, mereka berkumpul mengingat Nabi Muhammad, mereka berkumpul mengingat orang-orang yang dimuliakan oleh Allah Swt.

Lihat keadaan kaum muslimin sekarang, berbeda dengan keadaan para shohabat Rosulillah, kaum muslimin di jaman kita (mereka) berkumpul mengingat orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, menyebut nama-nama orang yang hina di sisi Allah Swt, sehingga betapa banyak kaum muslimin yang terpengaruh oleh pemikiran barat, pemikiran orang-orang yang tidak pernah sujud kepada Allah Swt. Kewajiban kita kaum muslimin, kewajiban kita sekalian ayyuhal ihwan adalah kita menyuburkan keimanan di dalam hati kita, kita tingkatkan keimanan kita pada Allah Swt, dan sungguh kemuliaan kita, keagungan kita dengan Allah Swt. Allah berfirman di dalam al-Qur’an:
“Kemuliaan, keagungan adalah milik Allah Swt, milik Rosulullah Saw, dan milik mereka yang beriman kepada Allah Swt, adapun mereka orang-orang munafiqin tidak mengetahui kalau kemuliaan adalah milik Allah Swt.”

Oleh karena itu ayyuhal ihwan, kita agungkan Allah Swt, kita agungkan mereka mereka orang-orang yang diagungkan oleh Allah Swt, muliakan orang-orang yang dimuliakan oleh Allah Swt. Kewajiban kita mengagungkan Allah, mengagungkan Rosulullah, mengagungkan para shohabat Rosulillah, mengagungkan para auliya’ Allah Swt. Disebutkan ketika pada suatu hari para shohabat Rosulillah Saw berkumpul, mereka menyebutkan tentang keistimewaan para Nabi-Nabi yang terdahulu. Beberapa dari mereka
mengatakan:
‘Lihatlah Nabi Ibrohim yang dijadikan oleh Allah sebagai Kholilullah (sebagai kekasih Allah Swt, sebagai orang yang dimuliakan oleh Allah Swt)!”

Maka beberapa shohabat yang lain mengatakan:
‘Tapi lihat Nabi Musa yang lebih agung yang dijadikan oleh Allah sebagai Kalimullah, orang yang bicara langsung dengan Allah Swt!”

Beberapa lagi mengatakan:
‘Lihat Nabi Isa As yang dijadikan oleh Allah sebagai Ruhullah sebagai Kalimatullah Swt!”

Beberapa lagi mengatakan tentang Nabi Adam yang diciptakan oleh Allah Swt secara langsung. Ketika mereka sedang menyebutkan keistimewaan para Nabi yang terdahulu, datang kepada mereka Nabi Muhammad Saw, ketika Nabi Muhammad datang pada mereka dan mengucapkan salam kepada mereka, Nabi Muhammad mengatakan kepada mereka,
‘Wahai para shohabatku, kalian berkumpul pada saat ini menyebutkan tentang keistimewaan para Nabi utusan-utusan Allah Swt, kalian mengatakan bahwa Nabi Ibrohim adalah Kholilullah dan memang demikian Nabi Ibrohim adalah Kholilullah. Dan, kalian menyebutkan bahwa Nabi Musa adalah Kalimullah (orang yang berbicara langsung dengan Allah, yang bermunajat langsung dengan Allah) dan memang demikian adanya Nabi Musa sebagai Kalimullah.
Dan demikian pula dengan Nabi Isa, dengan Nabi Adam As adalah orang yang mulia di sisi Allah Swt.’

Kemudian Nabi mengatakan kepada mereka,
‘Dan ketahuilah wahai para shohabatku bahwa aku adalah kekasih Allah Swt, aku adalah habibullah, aku adalah kekasih Allah Swt, dan aku orang pertama yang memberikan syafa’at di hari kiamat nanti, dan aku adalah orang yg mulia dari kalangan makhluq yang diciptakan Allah Swt (aku yang mulia diantara mereka), dan aku adalah orang yang pertama yang mengetuk pintu Surga sehingga aku adalah Nabi pertama yang akan memasuki Surga dan bersamaku orang-orang fuqoro’ dari orang-orang mukminin (orang-orang yang beriman kepada Allah Swt).’

Lihatlah Nabi Muhammad Saw, bagaimana beliau mengajarkan kita agar kita selalu menguatkan hubungan kita dengan Nabi Muhammad Saw. Allah dan Rosul-Nya lebih pantas kita agungkan, lebih pantas kita puaskan kalau memang kita beriman kepada Allah Swt.

Disebutkan oleh Sayyidina al-Habib Umar bahwa perkumpulan kita ini adalah perkumpulan yang insya Allah membawa keberkahan untuk kita sekalian, kita kelak di hari kiamat akan dibangkitkan oleh Allah Swt di hari yg menakutkan. Mengelompokan diri daripada Allah ke dalam Surga-Nya, dan kelompok akan digiring oleh Allah Swt ke dalam Neraka Na’udzubillah mindzalik. Oleh karena itulah persiapkan diri kita untuk menghadapi hari kiamat yang menakutkan dengan mensucikan hati kita, dengan menghidupkan syari’at Nabi Muhammad Saw, dengan melaksanakan apa yang diperintahkan Allah Swt, jauhkan segala larangan Allah, jauhkan apa-apa yang diharomkan oleh Allah
Swt. Perbuatan yang diharomkan oleh Allah Swt seperti riba’, seperti ucapan-ucapan yang kotor yang tidak diridhoi Allah Swt, tinggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah, melihat hal-hal yang diharomkan oleh Allah, mata kita…jauhkan mata kita dari maksiat yang diharomkan oleh Allah Swt! Agungkan perintah Allah Swt, agungkan apa yang diperintah oleh Allah Swt.

Dan, al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz memberikan wasiat kepada kita sekalian agar menjadikan bagian dari al-Qur’an, kita membaca al-Qur’an setiap harinya, jangan kita tinggalkan al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah Swt. Setiap hari kita baca al-Qur’an, setiap hari kita berdzikir kepada Allah Swt, lihatlah Allah Jalajaluh berfirman di dalam al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah selalu kepada Allah, berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang banyak.”

Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt. Pernah sekali baginda besar Nabi Muhammad Saw ditanya oleh beberapa shohabat,
“Wahai Nabi Muhammad, mereka orang-orang yang berjihad di jalanmu, siapa diantara mereka yang mendapatkan pahala yang paling besar dari Allah Swt?”

Maka Nabi Muhammad Saw mengatakan,
“Mereka orang-orang yang berjihad yang paling besar mendapatkan pahala dari Allah Swt adalah orang yang paling banyak berdzikir kepada Allah Swt.”

Sehingga beberapa shohabat bertanya lagi kepada Nabi Muhammad,
“Wahai Nabi Muhammad, mereka orang-orang yang mendirikan sholat, siapa diantara mereka yang paling banyak mendapatkan pahala dari Allah Swt?”

Maka Nabi Muhammad menjawab sebagaimana jawabannya yang pertama, beliau mengatakan,
“Yang paling banyak mendapatkan pahala dari mereka adalah orang yang paling banyak berdzikir kepada Allah Swt.”

Beberapa shohabat lagi bertanya kepada Nabi Muhammad,
“Wahai Nabi Muhammad, orang yang berzakat, siapa dari mereka yang paling banyak mendapatkan pahala dari Allah Swt?”

Maka Nabi Muhammad Saw mengatakan,
“Adalah orang yang paling banyak berdzikir kepada Allah Swt.”

Shohabat bertanya lagi,
“Mereka ya Rosulullah, mereka yang bersedekah di jalan Alloh, siapa diantara mereka yang paling banyak mendapatkan pahala dari Allah?”

Maka Nabi Muhammad Saw mengatakan,
“Yang paling banyak mendapatkan pahala dari Allah Swt adalah mereka orang-orang yang paling banyak berdzikir kepada Allah Swt.”

Ketika mendengar perkataan tersebut, Sayyidina Abubakar, Sayyidina Umar mengatakan kepada Nabi Muhamamad,
“Orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, mereka kelak memperoleh seluruh kebaikan dunia dan akhirat!”

Maka Nabi Muhammad mengatakan kepada para shohabat-nya,
“Memang demikian, mereka orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, mereka telah memperoleh seluruh kebaikan dunia dan akhirat.”

Sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Al-Habib Abdullah bin Husein bin Thohir, beliau menyebutkan di dalam beberapa perkataannya beliau memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah Swt, bahwa bagi mereka keamanan dan keselamatan di dunia dan akhirat dari Allah Swt. Bahkan disebutkan di dalam hadits Nabi Muhammad Saw bahwa petir tidak akan menyambar orang-orang yang berdzikir kepada Allah Swt. Di dalam hadits yang lain, disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw bahwa seseorang hamba tidak mengerjakan suatu amalan yang mampu menyelamatkannya dari siksa api Neraka yang lebih ampuh daripada dzikir kepada Allah Swt. Ketika beberapa shohabat datang kepada Nabi Muhammad Saw, beberapa shohabat mengadu,
“Ya Rosulullah, syari’at Islam banyak amalannya, aku bingung bagian mana yang harus aku dahulukan? Maka berikan wasiat padaku suatu amalan ya Rosulullah yang aku pegang dengan teguh.”

Maka Nabi Muhammad Saw memberikan kepadanya wasiat agar dia banyak berdzikir kepada Allah Swt.

Disebutkan lagi, seorang anak dari kalangan shohabat Rosulillah ditawan oleh orang-orang kafir, maka ayah dan ibu dari anak tersebut mengadu kepada Nabi Muhammad Saw, mengadu bahwa anaknya ditawan oleh orang-orang kafir, maka Nabi Muhamamd Saw memberikan wasiat kepada ayah dan ibu dari anak tersebut agar banyak berdzikir kepada Allah Swt. Dan Nabi Muhammad memberikan suatu dzikir yang berbunyi “Lahawla walaquwata illabillah” agar kedua orang tua tersebut memperbanyak membaca dzikir “Lahawla walaquwata illabillah”, maka sang ayah dan sang ibu membaca “Lahawla walaquwata illabillah” dzikir yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad, setiap waktunya dibaca dzikir tersebut.

Dan Allah Swt, ketika anak tersebut sedang ditawan kebetulan para penjaga yang mengawasi anak tersebut sedang ketiduran, maka sang anak ini berhasil menyelamatkan dirinya berkat pertolongan dari Allah Swt, keluar dari penjara! Sehingga dia mendapati orang-orang yang menjaga penjara sedang tertidur maka anak ini kabur, dan di luar melihat onta-onta orang-orang kafir, onta yang dimiliki orang-orang kafir, maka dirampaslah onta-onta tersebut dan dibawa ke kota Madinah. Ketika sampai sang anak, setelah menyelamatkan dirinya dari tawanan orang-orang kafir dengan membawa
harta rampasan dari orang-orang kafir, langsung datang ke rumah ayah dan ibunya. Didapati ayah ibunya sedang memperbanyak dzikir membaca “Lahawla walaquwata illabillah” yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw, maka sang anak ini mengetuk pintu rumah orang tuanya. Ketika dibuka, orang tuanya sangat berbahagia melihat anaknya telah diselamatkan oleh Allah Swt dengan berkat dzikir yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Oleh karena itulah ayyuhal ihwan, kita perbanyak dzikir kepada Allah Swt, berdzikir dengan hati yang hadir, dengan kekhusyukan di dalam hati kita, sehingga disebutkan beberapa orang wanita datang kepada seorang wali min auliya’ illah di kota Baghdad, kebetulan wanita ini memohon-mohon kepada wali tersebut agar dituliskan kepadanya, kebetulan salah seorang keluarganya sedang sakit maka ini wanita datang wali min auliya’ illah itu agar dituliskan suatu dzikir yang dicelupkan ke dalam air untuk diminum oleh anaknya atau keluarganya yang sedang sakit. Maka sang wali ini meminta kepada sang wanita tersebut untuk gelas untuk dituliskan di dalam gelas tersebut dzikrullah Swt yang nanti akan dituangkan air ke dalamnya untuk diminum oleh keluarganya yang sedang sakit. Baru diambil itu gelas, dan ini syeikh ini wali baru memulai menulis nama Allah, tiba-tiba gelas tersebut pecah karena tidak kuat menanggung nama Allah Swt. Ini wali menulis dengan hati yang hadir, dengan kekhusyukan di dalam hatinya, baru menulis “La illaha illalloh” di dalam gelas, itu gelas langsung itu pecah, maka ini wali mengatakan kepada wanita itu, “Coba bawakan gelas yang lain untuk aku tulis nama Allah didalamnya!”

Dibawakan gelas yang lain, baru mulai menulis itu gelas pecah lagi, dan begitu seterusnya beberapa kali dibawakan gelas dan setiap kali ingin ditulis nama Allah itu gelas langsung pecah, maka sang wali ini mengatakan kepada wanita itu,
“Lebih baik engkau wahai wanita pergi kepada orang sholeh yang lain dan mohon do’a kepadanya, karena hatiku ini selalu hadir kepada Allah Swt, apabila aku berdzikir kepada Allah, hatiku khusyuk kepada Allah sehingga setiap kali aku menulis ini gelas akan pecah dan apabila engkau membawakan aku gelas yang ada di seluruh kota Baghdad, semuanya akan pecah tidak akan mampu menahan nama Allah yang aku akan tuliskan ke dalam gelas tersebut.”

Lihatlah bagaimana orang-orang sebelum kita, ketika mereka berdzikir pada
Allah Swt, dan beginilah sepantasnyalah kita berdzikir kepada Allah Swt.

Al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, Al-Imam al-Quthb Sayyidina al-Habib Abdullah al-Haddad, beliau ketika berdzikir kepada Allah, beliau berdzikir dalam keadaan khusyuk, bahkan di tiap keadaannya beliau selalu dalam keadaan ingat kepada Alloh Swt, dalam keadaan khusyuk sehingga disebutkan ketika beliau akan sholat, beliau selalu memberikan wasiat para sahabatnya agar apabila beliau pergi sholat agar tidak seorangpun berbicara dengannya. Mengapa? Karena ketika beliau akan pergi ke Mushola untuk sholat, beliau sedang mengumpulkan hatinya untuk mengingat kepada Allah Swt, mengkonsentrasikan hati dan pikirannya untuk mengingat kepada Allah Swt. Disebutkan bahwa al-Habib Abdullah al-Haddad pernah sekali ketika ingin sholat di suatu Mushola atau di suatu Masjid, ketika beliau mengucapkan takbirotul ihrom, tembok yang ada di depannya langsung terbelah karena wibawa nama Allah Swt yang diucapkan al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Dan inilah para auliya’ Allah, orang-orang yang sebelum kita ketika mereka berdzikir kepada Allah Swt.

Dan al-Habib Umar di akhir ceramahnya, beliau memberikan do’a kepada kita sekalian, beliau berdo’a dengan do’a yang insya Allah dikabulkan oleh Allah Swt. Beliau menyebutkan ketika beliau berdo’a, beliau mengatakan apabila salah seorang dari kita, bahkan apabila seseroang dari ujung bumi dia berjalan merangkak untuk menghadiri do’a yang dibaca ini maka memang sudah sepantasnya dia berjalan merangkak walaupun dari ujung dunia karena insya Allah do’a kita dikabulkan oleh Allah Swt, dan al-Habib Umar mendo’akan kepada kita sekalian agar majlis kita ini diberikan keberkahan oleh Allah Swt, dan dijadikan majlis kita ini majlis yang bersambung dengan Nabi Muhammad Saw, do’a yang bersambung dengan do’a Nabi Muhammad, majlis yang bersambung dengan majlis Nabi Muhammad Saw.

Ini sedikit yang bisa saya (*) terjemahkan dari apa yang saya (*) fahami dari ceramahnya Sayyidina al-Habib Umar, mudah-mudahan apa yg kita dengar membawa manfaat untuk kita sekalian, wassholollohu ala sayyidina Muhammadin, wa ala alihi washohbihi wassalam, walhamdulillahirrobbil alamin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar