Minggu, 01 Februari 2009

Kalam Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz

Dalam ceramah Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz Bin Syaikh Abubakar bin Salim (semoga Allah memanjangkan umurnya dalam keadaan sehat wal afiat, Amin), beliau bercerita tentang Al-Habib Hasan bin Ahmad Jamalullail. Habib Hasan bin Ahmad ini kalau sudah membaca ayat suci Al-Qur’an, beliau seakan merasakan sangatlah nikmat sepertinya beliau makan madu atau makan makanan yang sangat lezat. Sehingga apabila beliau sedang duduk membaca ayat-ayat Al-Qur’an, maka beliau tidak merasakan lapar maupun haus.

Oleh karena itu ketika masuk bulan Ramadhan, beliau berkata,

“Aku tidak akan membaca Al-Qur’an pada siang hari bulan Ramadhan ini, karena apabila aku membaca Al-Qur’an, maka aku tidak akan merasakan laparnya orang berpuasa.”

Jadi beliau pindahkan waktu membaca Al-Qur’an pada malam hari, sedangkan pada siang harinya di bulan Ramadhan beliau melakukan aktivitas ibadah-ibadah yang lainnya, dan pada malam harinya beliau gunakan untuk membaca ayat suci Al-Qur’an.

Inilah orang yang benar-benar merasakan nikmat dari kalam Allah Ta’ala. Bagaimana dengan kita?. Mengertikah arti daripada ayat yang kita baca?. Bagaimanakah hati kita, apakah merasakan khusyu’ sewaktu membacanya?. Bagaimanakah perasaan hati kita apabila sampai pada ayat yang menjelaskan tentang azab Allah bagi orang yang berbuat dosa atau nikmat dari Allah bagi orang yang beramal sholih?

Mutiara Al-Habib Umar Ibn Hafidz pada Majlis penutup Dowroh 2008:

‘Tujuan Para Ahli Kheir(orang yang membuat kebaikan) adalah untuk mendekatkan dirinya kepada Allah s.w.t.Dan Orang yang paling dekat dengan Allah adalah orang yang paling dekat dengan (Sayyidina) Muhammad di akhirat nanti.Sesungguhnya (Sayyidina) Muhammad telah memberi kita berita ini(Hadis):’Sesungguhnya orang yang paling LAYAK bersama ku adalah mereka yang paling banyak berselawat keatas ku ‘.

Dan bersama berita ini,ia memberi khabar kepada kita bahawa orang yang banyak berselawat ke atasnya,hatinya bersih,sirnya bersinar,batinnya berkelipan hingga dia(orang yang banyak berselawat) itu menjadi diantara orang yg paling mulia peribadinya.

‘Sesungguhnya Orang yang paling DEKAT kedudukannya bersama ku adalah mereka yang paling mulia akhlaknya(Hadis).Dan tidak yang paling DEKAT itu kecuali yang paling LAYAK.Ianya adalah sama.Orang2 yang banyak berselawat keatasnya adalah mereka yang memiliki peribadi yang mulia,hidup dalam dirinya itu akhlak2 Rasulullah (sollahu ‘alaihi wa sallam)…

Taqwa Kepada Allah

Kaum mislimin yang dimuliakan ALLAH SWT,mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada ALLAH SWT,agar kita mendapatkan kebahagiaan di dunia dan Akhirat,tugas kita sebagai manusia hanya menyembah ALLAH yang Esa.ALLAH berfirman:
“Bertaqwalah kepada ALLAH sebenar-benarnya bertaqwa {Ali ‘Imran 102} dalam arti kata ALLAH benar-benar memerintahkan kita bertaqwa hanya kepadanya.
Arti dari pada Taqwa adalah : Meninggalkan semua larangan ALLAH dan mengerjakan semua perintah ALLAH.
ALLAH SWT menjadikan didalam ketaqwaan itu adalah semua keberuntungan bagi orang yang bertaqwa.Wahai hamba-hamba ALLAH, Taqwa telah diwasiatkan Robulalamim buat ummat terdahulu sampai hari kiamat nanti, Dalam Firman ALLAH SWT:
“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu,bertaqwalah kepada ALLAH” {An Nisaa’ 131}.
Taqwa adalah salah satu jalan siraturahmi kita kepadanya,banyak sekali ALLAH SWT menuliskan kalimat TAQWA didalam kitab suci AL QURAN.
Dan banyak sekali keberuntungan orang yang bertqwa,mereka akan medapatkan pejagaan dari ALLAH SWT,ALLAH berkata: “Bertaqwalah kalian sesungguhnya ALLAH selalu bersama orang-orang yang bertaqwa” {Al Baqarah 194} Orang yang bertaqwa akan mendapatkan ilmu yang tanpa dia sadari,sepeti dalam Firman ALLA SWT : “Bertaqwalah kepada ALLAH SWT,ALLAH mengajarimu” {Al Baqarah 282}. Kaum muslimin yang dimuliakan ALLAH,apa bila kita ingin medekatkan diri kepada nya,koncinya adalah Taqwa,kemuliaan manusia disisi yang Maha Mulia adalah ketaqwaan,ALLAH berkata : “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”.{Al Hujuraat 13}
jadi dapat kita fahami bahwa bukanlah kemulian itu dengan nasabnya ataupun dengan hartanya tapi kemuliaan yang sesungguhnya adalah apa bila manusia tersebut bisa benar-benar bertaqwa seperti ketaqwaan yang telah dicontoh kan oleh kekasih ALLAH,Nabi kita MUHAMMAD SAW.yang ketaqwaan nya benar-benar tingkat tinggi,alangkah beruntung kita bernabi kepada beliau,sangat-sangat beruntung,kita seharusnya kita malu tidak bisa mencontoh ketaatan ROSULULLAH. Guru mulia megatakan siapa orang yang lalai dari pada ketaqwaan maka mereka telah meghilangkan

Seni berdakwah

Seorang dai yang menyeru ke jalan Allah Ta’âla hendaknya menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat dengan cara yang mudah dan sederhana. Hendaknya ia memilih tema yang sesuai bagi mereka, memilih kalimat yang tidak membangkitkan nafsu, tapi yang mendekatkan mereka kepada Allah. Hendaknya ia memilih kalimat yang dapat menyucikan nafs dengan cepat, bukannya ucapan yang memberatkan mereka, yang mereka anggap berat dan sulit. Seorang dai seharusnya mendahulukan yang lebih penting menurut waktu, zaman dan keadaan masyarakat saat itu. Ia harus memperhatikan masalah yang lebih besar dan penting, memperhatikan semua yang fardhu dan kewajiban-kewajiban utama lainnya.

Dakwah dengan tema di atas akan sukses jika metode yang digunakan tidak menyebabkan orang lari dan tidak mempersulit. Dakwah sebaiknya dilakukan dengan memberikan himbauan (targhib) dan juga ancaman (tarhib), sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis.

Jika berdakwah kepada para pemula, bila mengajak mereka untuk mengerjakan kebaikan, jangan sekali-kali memaksa, jangan menyampaikan permasalahan-permasalahan yang tidak dapat dipahami dan dianggap berat oleh mereka. Sebab, sesuai tabiatnya, nafs akan lari jika merasa keberatan. Dan jika nafs lari, ia akan menentang dan memusuhi kebaikan, kemudian mencari pembenaran (justifikasi) bahwa perbuatannya sesungguhnya baik. Jika pemula memandang ucapan dai tersebut keras, terlalu berat dan tidak mampu ia laksanakan, maka nafs-nya akan memberontak.

Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkatan pemikiran (pendidikan) mereka. Jika berbicara dalam suatu majelis yang dihadiri oleh orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, jangan berkata, “Celakalah orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, nerakalah tempat mereka.” Ucapan semacam ini akan membangkitkan hawa orang yang durhaka tadi sehingga ia akan menentangnya. Akan tetapi hendaknya kita berkata, “Allah Ta’âla berfirman :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS Al-Isra, 17:23)

“Perhatikanlah, bagaimana Allah yang Maha Mulia memberikan wasiat kepada kita, bagaimana Ia menunjukkan kedudukan kedua orang tua. Orang tua memiliki hak dan kedudukan yang agung. Orang yang berbakti kepada keduanya akan memperoleh berbagai kebaikan. Nabi telah memperingatkan kita agar tidak durhaka kepada kedua orang tua. Beliau bersabda begini dan begini.” Jika dakwah disampaikan dengan cara demikian, maka akal dan nafs akan mendengarkan dan nafs tidak akan memberontak.

Dalam ucapan kaum sholihin dan guru-guru kita, banyak kita temukan ucapan-ucapan yang keras, tapi masyarakat menerimanya. Sebab, mereka memiliki hâl dan maqôm yang agung. Jika ucapan itu muncul dari orang lain, masyarakat tidak akan menerimanya dan akan menganggap terlalu berat untuk dilaksanakan. Namun, karena mereka yang mengucapkannya, maka masyarakat mau menerimanya.

Sebagai dai yang masih awam, kita jangan menempatkan diri kita di kedudukan kaum khowwâsh, seperti Habib Alwi bin Syihab, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri, ayahku Sayid Muhammad bin Salim atau kaum sholihin terkemuka lainnya. Mereka kadang kala menyampaikan ceramah-ceramahnya dengan keras. Meskipun demikian, ucapan mereka meninggalkan kesan dalam hati pendengarnya. Sebab, mereka memiliki hâl dan maqôm yang mendukung dan masyarakat yang mau menerimanya. Adapun orang-orang seperti kita ini, sebelum berbicara kita wajib memperhatikan dan menyederhanakan pesan yang akan kita sampaikan. Jika ada kata-kata yang sulit, hendaknya kita ganti dengan kata-kata yang mudah dipahami. Sebagai contoh, jika hendak mencegah seseorang dari memutuskan hubungan kekerabatan, jangan berkata, “Di majelis ini ada seseorang yang memutuskan hubungan kekerabatan.” Atau berkata, “Dewasa ini tidak seorang pun yang tidak memutuskan hubungan kekerabatan. Maka mereka semua terkena laknat.”

Meskipun ucapan ini mengandung kebenaran, tapi masyarakat tidak akan menerimanya. Kita tidak boleh berkata demikian, tetapi sebaiknya kita berkata, “Marilah kita perhatikan kerabat kita, marilah kita raih pahala lewat mereka, marilah kita usahakan agar hubungan kekerabatan menjadi sebuah nikmat. Jika kalian mau menundukkan nafs lalu menyambung tali silaturahmi dan berbuat baik kepada mereka, maka kabar gembira bagi kalian, kalian akan memperoleh umur yang panjang dan rezeki melimpah. Sebab, Nabi saw bersabda :

“Silaturahmi memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kalian hendaknya menggunakan kalimat-kalimat seperti ini. Jika dakwah disampaikan dengan cara demikian, maka semua orang akan menerimanya. Ucapan kalian menjadi baik dan mudah diterima oleh nafs. Sebenarnya tujuan orang menyampaikan dakwah dengan keras adalah juga untuk menyeru manusia ke jalan Allah, tapi caranya tidak benar. Karena itulah Allah berfirman kepada Nabi kita Muhammad saw :

“Karena rahmat Allah-lah kamu dapat berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS Ali Imran, 3:159)

[Diambil dari Manhaj Dakwah, cetakan I, 2001, penerbit Putera Riyadi Solo]

konci syurga,dan Seorang yang sholeh berkata : Siapa orang yang melalaikan Taqwa kepada ALLAH selama hidup didunia,maka mereka akan mejadi orang-orang yang sangat menyesal di hari kiamat nanti.
ALLAH megatakan : “dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”{Ali ‘Imran 102} Mudah-mudahan ALLAH SWT memberikan kita hidayah taufiknya agar kita bisa selalu bertaqwa dan dimatikan kita dalam keadaan islam AMIN YA ROBBALALAMIN

Persiapan mental bagi para dai

Setiap dai harus menyadari bahwa langkah pertama yang harus ia tempuh adalah membunuh nafsu ammârah bissû’-nya dengan cara menanggung gangguan dan celaan masyarakat.

Imam Ahmad bin Umar bin Smith, seorang dai, berkata, “Jika kalian ingin berdakwah di suatu tempat atau pertemuan, katakanlah kepada diri kalian bahwa masyarakat akan berkata, ‘Diamlah! Kami tidak menginginkan kalian, kami tidak ingin mendengarkan kalian, kami tidak menyukai ucapan kalian.’ Andaikata mereka benar-benar berkata demikian, hendaknya kalian tetap menyampaikan perintah Allah, hendaknya kalian menemui mereka dengan kasih sayang. Tapi, jika ternyata mereka menyambut kalian dengan baik, maka itu adalah tambahan nikmat dari Allah. Dengan demikian, nanti, andaikata ada orang yang mencaci dan menentang kalian, maka perbuatan mereka tidak akan berpengaruh atau melukai hati kalian.”

Pria dan wanita yang shidq tidak akan terpengaruh oleh ucapan manusia, sebab ia berbicara bukan untuk manusia. Orang yang berbicara untuk manusia akan terpengaruh oleh ucapan manusia, sedangkan orang yang berbicara karena Tuhan manusia tidak akan terpengaruh oleh ucapan manusia. Ia berbicara karena Allah Ta’âla dan orang yang berbicara karena Allah Ta’âla perlu adab, izin, kelembutan, waktu yang sesuai dan tema yang tepat. Aku lebih suka jika tema yang diangkat tidak keluar dari hukum-hukum thohâroh, salat, puasa, zakat, birrul wâlidain, berbuat baik pada tetangga, silaturahim, pendidikan anak-anak dan semacamnya.

Jika ada yang bertanya tentang suatu persoalan hendaknya kalian kembalikan kepada ahli ilmu atau ulama yang berada di kota Tarim atau Seiwun. Di negara kita ini banyak ulama, oleh karena itu, barang siapa memiliki persoalan hendaknya ia bertanya. Namun, jika pertanyaan yang diajukan jelas, misalnya masalah wudhu atau thohâroh, dan ia memiliki jawaban yang meyakinkan, maka ia boleh menjawabnya. Jika tidak, maka ia dilarang menjawabnya.

Inilah langkah pertama untuk menjual diri kita kepada Allah. Jika kita telah menjual diri kita kepada Allah, maka kita tidak akan terpengaruh oleh ucapan seseorang, bahkan kita akan merasa senang. Karena inilah, maka Habib Alwi bin Abdullah bin Syihabudin tetap tenang ketika mendengar bahwa Habib Muhammad Al-Haddar ra di tahan di kota Adn pada masa pemerintahan Inggris. Setelah dibebaskan, Habib Muhammad Al-Haddar ra segera menemui Habib Alwi bin Abdullah. Habib Alwi berkata kepadanya, “Aku mendengar kau berdakwah di jalan Allah. Masyarakat senang, terkesan dan memperoleh manfaat dari dakwahmu. Namun, ketika kulihat kau tidak memperoleh gangguan sedikit pun, aku merasa cemas. Aku berkata dalam hati, jika dia pewaris salaf, bekerja untuk salaf, tentu dia akan memperoleh gangguan. Sebab, demikianlah sunatullah berlaku bagi para nabi dan kaum sholihin. Jika tidak ada seorang pun yang mengganggunya, aku khawatir apa yang ia peroleh hanyalah istidrâj. Ketika kudengar mereka memenjara-kanmu, hatiku menjadi tenang, berarti kau berada di jalur para salaf yang saleh, semoga Allah meridhoi mereka semua.”

Lihatlah, bagaimana cara berpikir orang-orang yang berakal dan kaum ulama.

Oleh karena itu, jika kau dengar ada seseorang yang berbicara buruk tentangmu, maka berbahagialah, jika ada seseorang yang mengganggumu, maka berbahagialah dan berbuat baiklah kepadanya. Sebab, inilah tanda shidq (kebenaran), tanda kesuksesan, tanda keberuntungan dan tanda keselamatan. Kaum sholihin merasa ringan mengorbankan diri dan harta mereka untuk kepentingan dakwah. Mereka mengajak masyarakat untuk kembali ke jalan Allah dan memeluk agama Nabi Muhammad, bukan untuk mengambil sesuatu dari mereka, mereka bahkan memberi.

Kaum Muhajirin menjadi miskin karena memberikan dan meninggalkan hartanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan kaum Anshor mendermakan harta dan rumah mereka untuk Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah meridhoi mereka semua. Kaum Anshor mengasihi saudara-saudara mereka kaum Muhajirin. Beginilah orang-orang yang shôdiq bersikap. Mereka meletakkan perintah Allah di atas hubungan kekerabatan, di atas adat, di atas norma (qowâid), di atas segala sesuatu. Mereka bahkan rela menanggung siksa karenanya. Sayidina Ammar, Sayidina Yasir, Sayidatina Sumayyah, Sayidina Bilal dan yang lain, semuanya mengalami penderitaan dalam berdakwah. Namun sekarang dakwah menjadi mudah. Kita tidak mengalami kesulitan seperti yang mereka alami. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan sebaik-baik balasan.

Adapun kita sekarang, paling tidak harus memiliki kesungguhan, bersedia menanggung gangguan tanpa mengeluh. Para ulama berkata bahwa tanda keburukan akhlak adalah jika kau mengeluhkan keburukan akhlak seseorang, jika kau berkata, “Masyarakat berakhlak buruk, semua perbuatan mereka buruk.” Inilah tanda bahwa akhlakmu buruk. Sebab, jika akhlakmu baik, kau tidak akan mengeluh kepada seorang pun ketika mendapat gangguan dari masyarakat.

Wahai kaum mukminat, demikian inilah pendidikan yang benar. Sayang pendidikan semacam ini tidak ditemukan lagi di zaman ini.

Kita semua senang jika dakwah dapat ditegakkan dan masyarakat tolong-menolong dalam berdakwah. Namun, kita harus mendalami segala persoalan tentang dakwah. Jika seorang dai memiliki sifat-sifat mulia di atas, maka kabar gembira baginya. Ia akan memperoleh pertolongan salaf yang sholeh. Ia akan mendapat pertolongan dari pemimpin para rasul, pertolongan Fatimah Az-Zahra dan Khodijah Al-Kubra. Sebab itulah jalan mereka, akhlak mereka. Ia akan berhasil menundukkan nafs-nya dan mengutamakan Allah Ta’âla di atas dirinya. Berkat dia Hadhramaut akan memperoleh kebaikan, penduduk negeri ini dan seluruh kaum muslimin akan memperoleh kebaikan. Bahkan kebaikan itu akan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Namun, jika kita melupakan akhlak itu, melupakan sifat-sifat mulia tersebut, dan mengira bahwa dakwah ke jalan Allah Ta’âla hanyalah sekedar penampilan, pidato, sekedar penghormatan yang diberikan masyarakat kepada kita, sekedar keinginan masyarakat untuk mendengarkan ucapan kita, maka kita telah hilang tersesat dan menyia-nyiakan dakwah.

Hari-hari kita berlalu, tapi banyak kebaikan yang terlewatkan, dan tidak ada seorang pun membantu kita. Sebab, kita tidak menempuh jalan mereka, tidak bersikap tawadhu (merendahkan diri), ikhlas, shidq terhadap Allah, tidak beradab dan tidak membalas keburukan dengan kebaikan.

Mereka rodhiyallôhu ‘anhum sering melakukan perjalanan untuk menyebarkan dakwah di segala penjuru dunia, di daerah yang subur maupun gersang, dataran rendah maupun tinggi. Mereka melupakan berbagai kenikmatan, meninggalkan kampung halaman, mengorbankan jiwa dan harta, demi dakwah untuk menanamkan keyakinan dalam hati dan akal masyarakat, sehingga hati mereka mau menghadap kepada Allah, sehingga angin keimanan bertiup kencang dan menebarkan keberkahan. Pemerintahan tauhid, iman, ibadah dan takwa dapat diselenggarakan. Semua ini dapat kita raih jika kita mau menempuh jalan mereka, menyadari sifat-sifat mulia tersebut. Negeri ini dalam waktu singkat akan dipenuhi cahaya dan Allah mencurahkan kebaikan yang sangat banyak. Sejarah (kaum sholihin) yang telah lama hilang akan segera berulang kembali, yakni sejarah Zainab Ummul Fuqoro, isteri Al-Faqih Al-Muqoddam, sejarah anak perempuan Ahmad bin Muhammad Shohib Mirbath, sejarah perjalanan anak-anak perempuan Assegaf, Al-Muhdhor, Alaydrus, sejarah perjalanan kaum wanita yang taat, arif, ahli ibadah, bertakwa dan waraE Sesungguhnya sejarahkehidupan mereka di negeri ini sangat agung. Kita telah banyak kehilangan sejarah perjalanan hidup mereka. Semoga Allah mengembalikan akhlak mereka yang telah lama hilang kepada kita, Insya Allôh.

Jika kalian bersikap shidq kepada Allah, semua pintu pasti akan terbuka untuk kalian, dan kalian akan merasakan manisnya iman. Nafs kalian akan tunduk dan kalian akan memperoleh kedudukan tinggi di sisi Allah. Sebab, orang yang merendahkan diri, oleh Allah akan diangkat dan ditinggikan kedudukannya. Kita harus merendah dan menerima ucapan ini dengan kekuatan. Kita harus berkeinginan untuk melipatgandakan kekuatan dakwah dengan menerapkan adab, akhlak, kelembutan, kasih sayang dan rahmat. Kita harus memperbanyak kunjungan kepada sesama kita (kaum muslimin), mempererat hubungan di antara kita. Kita harus membekali diri kita dengan ilmu dan pemahaman mengenai metode dan sarana-sarana dakwah.

[Diambil dari Manhaj Dakwah, cetakan I, 2001, penerbit Putera Riyadi Solo]


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar