Minggu, 01 Februari 2009

Habib Umar prihatin terhadap Ulama indonesia

Para habib dari Hadramaut (Habaib Al Hadramy), Yaman, menyatakan keprihatinannya terhadap sikap para ulama di Indonesia yang cenderung berorientasi politis ketimbang sebagai pengayom umat.

“Kami prihatin dengan sikap ulama sekarang ini. Seharusnya mereka berada di tengah-tengah, bukan berpihak pada kepentingan kelompok tertentu,” kata sesepuh Habaib Hadramy, Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar, usai bertemu dengan ratusan ulama di Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu sore.

Ia mengingatkan, para ulama agar kembali berperan sebagai pemberi nasihat dan menyebarkan rasa kasih sayang

kepada semua golongan umat, bukan mencerai-beraikannya.

“Boleh saja ulama melakukan siyasah (berpolitik), tapi jangan berorientasi pada kekuasaan. Ulama harus mampu

menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat,” ujar pengasuh Al Ma?had Darul Musthofa, Tarim, Hadramaut, Yaman itu memberikan nasihat.

Demikian pula dia juga merasa prihatin dengan sikap beberapa tokoh Islam di Indonesia yang radikal dan ekstrim dalam menyampaikan syiar Islam.Kendati sebagian dari mereka ada yang pernah menimba ilmu di Hadramaut, bahkan juga keturunan dari Habaib Hadramy, namun masih belum bisa menegakkan konsep Islam di Indonesia secara damai. “Sebenarnya dari negara manapun ajaran Islam itu tetap sama. Kalau hendak berdakwah, sampaikan dengan cara yang damai dan penuh persaudaraan. Kami sangat menyayangkan ada beberapa tokoh Islam di Indonesia yang memiliki keturunan Hadramaut tetapi tidak pernah memahami cara-cara berdakwah seperti kami,” ujarnya.

Menurut dia, para habaib di Hadramaut selalu menekankan untuk mentauladani sikap Rasulullah SAW dan pengikutpengikutnya dalam menegakkan syariat Islam. Ia menegaskan, ajaran Islam tidak kenal kekerasan dan intimidasi dalam menyampaikan persoalan “haq” dan “bathil”,halal dan haram, serta nasihat-nasihat kepada umat. Demikian halnya dengan persoalan yang terjadi di Palestina, tidak perlu disikapi secara reaksioner, tapi tempuhlah dengan cara-cara damai sesuai dengan syariat Islam.

“Sejak dari dulu Al Quran telah menyatakan, seperti itulah sikap Israel, sehingga kita tidak perlu kaget meskipun disana ada rencana penggalian situs di sekitar Masjid Al Aqsha,” ujarnya.

Kalaupun ternyata yang dilakukan Israel merugikan atau bahkan merusak simbol-simbol Islam, Habib Umar mengajak umat Islam di seluruh dunia bersatu-padu memberikan peringatan kepada mereka sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam kesempatan itu, Habib Umar menjelaskan kedatangannya bersama 11 habib dari Hadramaut untuk bersilaturrahim sambil menyampaikan pokok-pokok ajaran Islam secara damai sesuai perintah Allah dan tauladan Rasulullah SAW.

Hadramaut dikenal luas oleh masyarakat karena hampir seluruh nenek moyang warga keturunan Arab di Indonesia berasal dari sebuah daerah di Provinsi Yaman Bagian Selatan itu. Beberapa ulama, terutama dari kalangan habaib di Indonesia, pernah belajar ilmu agama Islam di Hadramaut selain di Kairo, Mesir. Oleh sebab itu tidaklah heran jika kedatangan Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar dan rombongan di Kediri, disambut antusias ratusan ulama khususnya dari kalangan pondok pesantren salafiyah.

Selain para pengasuh Ponpes Lirboyo, diantaranya KH Idris Marzuqi dan KH Anwar Manshur, tampak pula beberapa ulama khosh NU, seperti KH Zainuddin Djazuli, KH Nurul Huda Djazuli, KH Abdul Aziz Manzhur, KH Muhammad Subadar, dan KH Aziz Masyhuri.

Setelah berpidato dalam Bahasa Arab di depan para ulama di Masjid Al Hasan, Lirboyo, Habib Umar juga melakukan tabligh akbar di depan ribuan santri Ponpes Lirboyo di Aula Al Muktamar.

Rombongan dari Hadramaut itu juga disuguhi peragaan pencaksilat Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (Gasni) yang didirikan salah seorang pengasuh Ponpes Lirboyo Almarhum KH Makshum Jauhari pada saat Gestapu tahun 1960-an.

(ant/mad)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar