Rabu, 28 Januari 2009

Syekh Said bin Isa al Amudy Ra

Lisanul Hal

“Wahai…Saudara. Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil, dan siapa yang bermujahadah maka ia dapat menyaksikan, siapapun yang bertakwa maka derajatnya akan naik, barang siapa yang menanam tentunya ia akan memanen, dan Allah sangatlah dekat dan Maha mengabulkan.”Syekh Said bin Isa al Amudy, dikutip dari kitab “Araisul Wujud” Hal. 52.

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah SWT, yang anugerahNya tiada pernah terputus. Shalawat dan salam atas Nabi Ummi (tak membaca dan menulis) yang bersabda: “Barang siapa yang melindungi seorang mukmin dan seorang munafik – aku melihat beliau bersabda- maka Allah SWT akan mengutus malaikat untuk menjaga dagingnya dari api neraka di hari kiamat, dan barang siapa yang menimpakan suatu cela kepada seorang muslim, maka Allah SWT akan menahanya di jembatan (sirath-pen.) jahanam hingga cela tersebut keluar.” Serta keluarganya yang suci, para sahabat pilihan, dan pengikut-pengikutnya dalam kebajikan sampai hari kiamat.

Nasab Yang Berkah

Beliau adalah Syekh Said bin Isa bin Ahmad bin Isa bin Sya’ban bin Isa bin Dawud bin Abu Bakr bin Talhah bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakr Asshiddiq Khalifah Rasulullah SAW . Dijuluki al Amudy -semoga Allah SWT merahmatinya-, karena saking banyaknya mendirikan shalat dan selalu menjaganya, shalat tiang agama dan saat paling dekat bagi hamba dalam munajatnya, bahkan diriwayatkan :”Bahwasanya Islam inti dari segala sesuatu, dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat”. Dari sini, Syekh Said mendapat gelar “al Amudy” diambil dari “Amududdin (Tiang agama) yang berasal dari kata “al imad” kemudian sesuai dengan ejaan masyarakat setempat di ganti menjadi “al Amudy”.

Kelahiran dan Sisi Kehidupannya

Syekh Said bin Isa lahir di lembah Dauan, berada dalam asuhan kedua orang tuanya yang serba kekurangan, jauh dari hiruk pikuk kehidupan, mendapat bimbingan agama yang baik dan senantiasa melaksanakan amal kebajikan. Saat itu pengajaran agama terbatas pada sistem talaqi (sebatas pada penyampaian verbal) maka dari itu, beliau tidak pernah belajar membaca dan menulis di masa kecilnya. Namun, kedekatan dan keterikatannya dengan para masyayekh (ahli agama) yang tak pernah terabaikan ditambah obsesinya yang tinggi menjadikan dirinya berkembang, pikirannya terang, dan mendapatkan kemurnian ajaran dari sumbernya. Beliau juga memperoleh tempat di hati orang-orang sholeh karena kedekatannya dengan mereka dan banyaknya doa-doa yang dipanjatkan serta wejangan yang berkenaan dengan pencerahan pikiran, dzikir, dan makrifatullah. Beliau adalah sosok yang istiqamah, hidup dalam lingkup masjid dan pengajian orang-orang sholeh, serba kekurangan, berada di lembah yang tandus…lembah yang cocok untuk beribadah, dan tempat untuk menyepi. Syekh Said bin Isa acapkali menyendiri menelusuri pegunungan yang terjal itu, mencari kambingnya di antara semak belukar, dan bebatuan, dengan senantiasa bertafakur akan kekuasaan Allah SWT atas ciptaannya, diiringi pancaran cahaya keimanannya dan ketajaman sanubari dalam merenungai ihwal penciptaan itu. Demikianlah, mutiara hikmah memuncah darinya. Cita-citanya yang tinggi, membuatnya tenggelam dalam mujahadah dan menempa diri, menjadikan lisannya senantiasa berzikir, dan menghiasi hatinya dengan rasa syukur. Sehingga untaian katanya terasa indah di telinga pendengarnya, penyejuk duka hati dan pedihnya dosa-dosa. Terkadang beliau menyampaikan wejangan melalui kehalusan (kedalaman) pemahaman dan sketsa yang tidak dapat di ilustrasikan. Dari keningnya terbias cahaya yang mematahkan kecongkakan orang-orang yang sombong, dan menerangi jalan orang-orang yang mencari jalan kebenaran. Keluhuran pekertinya yang mengagumkan menjadikan dirinya bahan perbincangan khalayak ramai.

Menurut sejarawan, Syekh Said mempersunting putri Syekh Said bin Ahmad Balwaar Bilafif. Konon selepas perkawinan, istrinya melihat Syekh Said berlainan dengan apa yang didengar dari ayahnya tentang ihwalnya, kejadian itu diutarakan kepada ayahnya yang zuhud (tidak mencintai dunia) dan ahli ibadah, “Bagaimana aku dapat hidup dengan orang yang tidak giat bangun malam”?ujarnya. Ayahnya berkata: ”Kembalilah kepadanya dan perhatikan apa yang ia perbuat dan diucapkan di waktu malam”. Sang istri kembali disertai salah seorang utusan dari keluarganya untuk membawa kabar Syekh Said. Ketika menjelang malam sang istri memperhatikan apa yang dilakukan suaminya hingga terbit fajar, setelah itu melaporkan kepada utusan ayahnya sesuai dengan apa yang ia lihat “ Sesaat sebelum terbit fajar, ia bangun kemudian mendirikan shalat, dan berucap: ”aku...aku..aku…”. Setelah kabar tersebut sampai di telinga Syekh Said Balawar, ia mengutus seseorang untuk menyampaikan pesan kepada putrinya: “Maqam (pangkat kewalian) inilah yang masih belum kita capai” artinya bahwa maqam Syekh Said bin Isa alAmudy telah mencapai tahapan menjawab Sang Penyeru “Adakah dari hambaKu yang bertaubat?, adakah dari hambaKu yang meminta?”

Syekh Said tenggelam dalam samudera kerinduan. Hembusan angin membawakan berita kepadanya perihal ihwal para kekasih Allah SWT di masa itu, membisikkan kabar ahli tarikat di Syam, Yaman, Hijaz, Maroko, Irak setiap pagi dan sore. Bersamaan dengan itu Syekh Said terus momohon kepada Allah SWT untuk dapat berkumpul dengan mereka lahir dan batin, sehingga dapat merasakan ajarannya yang agung dan bias cahanya di saat tertimpa lara. Pada hari ahad di waktu dluha tahun 590, desiran angin membawa berita kepada Syekh Said, sebagaimana hembusan angin yang membawa kabar kepada Ya`kub As. Berkenaan dengan ini Allah SWT berfirman dalam Al Quran:

ولما فصلت العير قال أبوهم إني لأجد ريح يوسف

Artinya : Tatkala kafilah telah keluar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka : “sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)”.

Yaitu ketika Syekh Abdullah al Shaleh al Maghriby menuju lembah Dauan dengan membawa
surat kedua untuk Syekh Said bin Isa al Amudy. Sedangkan surat pertama telah diberikan kepada al Ustazd al A`dham al Faqih al Muqaddam Muhammad bin Ali Ba Alawy di kota tarim. Kemudian mengambil janji setia, dan talbis (memakaikan kain sebagai tanda resmi dari sebuah tarikat), serta menyuruhnya untuk tidak merahasiakan ajaran tarikatnya. Setelah itu pengambilan ajaran tasawuf berlanjut secara terbuka. Dan menjadi syiar bagi para penempuh jalan menuju Allah SWT.

Dari sini terlihat bahwa kabar mengenai keberadaan al Faqih al Muqaddam dan Syekh Said bin Isa al Amudy sampai ke Maghrib (sebutan untuk pedataran Maroko,
Mortania, Tunisia, alJazair) melalui Hijaz. Setelah Syekh Abu Madyan al Maghriby mendapatkan keterangan perihal kedua orang tersebut, beliau mengutus Syekh Abdurrahman alMaq`ad seorang Syekh berasal dari Hadramaut yang berada di Maghrib dan mengambil ajaran tarikat darinya untuk menyampaikan misi itu. Menurut penuturan Syekh Syuaib, utusannya itu akan wafat di tengah perjalanannya sebelum sampai ke Hadramaut, dari itu Syekh Abdurrahman harus meminta rekan seperjalanannya menuju Hijaz yaitu Syekh Abdullah Shaleh al Maghriby salah satu keturunan raja-raja Maghhrib untuk melanjutkan misi menyampaikan surat tersebut kepada yang bersangkutan.

Utusan Syekh Abu Madyan di Dauan

Utusan Syekh Abu Madyan sampai di Tarim dan menyampaikan misinya sesuai dengan yang di minta. Setelah itu, utusan tersebut bergegas menuju Lembah Dauan untuk menemui Syekh Said bin Isa al Amudy. Akhirnya, atas petunjuk warga, sang utusan berhasil menemui Syekh Said sedang mengembala kambingnya di pelosok lembah Qaidun yang tentram. Saat itu Syekh Said berusia 80 tahun . Kemudian sang utusan mentalbis (memakaikan kain) Syekh Said dengan khirqah , membaiatnya, serta memintanya untuk menyebarkan ajaran tasawuf dengan terang-terangan di lembah itu. Sebelumnya Syekh Said tidak menampakkan ajaran tasawuf dalam bentuk sebuah tarekat, namun beliau senantiasa menghiasai dirinya dengan pekerti dan perilaku tasawuf. Tidak lupa utusan itu menceritakan pertemuannya dengan al Faqih al Muqaddam di Tarim, bahwa beliau sudah menyebarkan ajaran tasawuf secara terbuka, mengajak kepada jalan menuju Allah SWT, meninggalkan martabat, mengenyampingkan apapun selain Allah SWT, sebagaimana orang-orang zuhud yang meninggalkan masalah keduniaannya.

Syekh Said adalah sosok yang rendah hati, tidak menyukai dunia dan kemasyhuran, tumbuh di lingkungan para pecinta akhirat dan benar-benar memusatkan hatinya kepada Allah SWT. Baiat dan talbis yang diperoleh merupakan mahkota yang hanya di semayamkan kepada mereka yang memiliki kedudukan yang tinggi, dan Syekh Said mengambilnya tanpa adanya keinginan kepada hal tersebut. Ia bertutur : Tiada akan merasakan dzauq (ketentaram dan kemurnian rasa,) kecuali yang memiliki hal (suasana kedamaian jiwa) dan sebuah maqam tidak akan didapat kecuali oleh mereka yang menempuh jalan menuju tuhannya.

Dzauq adalah cahaya dari kedalaman jiwa yang di pancarkan oleh Sang Pengasih pada hati yang di dalamnya terdapat pengagungan. Hal dirinya menariknya pada sebuah penghadiran diri (kembali menuju Allah SWT) di saat-saat tertentu, yang dengannya kebeningan nurani dapat dicapai. Sejak itu, Syekh Said menampakkan jati dirinya sebagai penempuh tasawuf yang selalu merindukan tuhannya…para penduduk lembah menyambut kedatangan Syekh Abdullah al Sholeh al Maghriby dengan hangat dan gembira, sehingga untuk beberapa saat beliau tinggal bersama mereka, kemudian pindah ke lembah Maifa`ah. diriwayatkan bahwa beliau berdiam di desa “Asbaun” dan mempersunting salah seorang wanita, yang darinya mendapatkan beberapa putri.

Sepeninggalnya, berliau berwasiat untuk menyerahkan urusan putri-putrinya kepada Syekh Said bin Isa al Amudy. Yang menakjubkan dari Syekh al Maghriby menjelang wafatnya, beliau diminta menunjuk “Syekh” menggantikan posisinya dari salah seorang tiga tokoh besar yang pernah mengambil ajaran tasawuf darinya yaitu : Al Faqih al Muqaddam, Syekh Said bin Isa al Amudy, dan Syekh Ba Hamran. Setelah mengheningkan dirinya beberapa saat beliau berkata : “Syekh kalian sepeninggalku adalah si pemilik tasbeh, dan aku telah menjadikan wasiatku menjadi empat bagian”. Adapun warisannya berupa tasbeh, tongkat, panci, lentera, habwah (kain yang diikatkan antara pinggang dan kaki), bastah (semacam tempat untuk kue), dalqan (pedang yang mudah di hunus).” Setelah wafat, pembagian harta waris Syekh al Maghriby terbagi sebagai berikut : Tongkat dan tasbeh bagian al Faqih al Muqaddam, panci dan lentera untuk Syekh Said bin Isa al Amudy, sedangkan bastah dimiliki Syekh Ba Hamran, adapun yang mendapat bagian dalqan adalah Syekh Ba Umar.

Dalam wasiat tersebut, pemilik tasbeh yaitu al Faqih al Muqaddam ditunjuk sebagai Syekh pengganti. Dan kenyataannya para tokoh besar tasawuf tersebut bernaung di bawah bendera al Faqih al Muqaddam, memiliki satu visi di antara sesama tokoh ajaran tasawuf dalam mengemban misinya menyebarkan tarekat.

Syekh Said Al Amudy Khazanah Keluarga Ba Alawi

Sejak adanya hubungan erat antara kedua tokoh besar sufi yang mengibarkan bendera tasawuf di Hadrmaut itu, tersebarlah di antara khalayak sebutan “Keluarga al Amudy khazanah (tempat simpanan, pemegang sirr) keluarga Ba Alawy”. Artinya dari keterkaitan dan kedekatan jiwa keduanya, menjadikan Syekh Said sebagai tempat titipan segala ketetapan al Faqih al Muqaddam, bahkan pematahan pedang atas perintah al Faqih al Muqaddam merupakan simbol yang mengandung makna konkrit dan abstrak. Yaitu meninggalkan segala bentuk keduniaan yang menjadi ikon masyarakat saat itu, dengan menempuh ajaran tarekat tidak mengejar martabat dan kemasyhuran, menyibukkan diri dengan ilmu dan pengamalannya, ketimbang disibukkan dengan urusan yang berkenaan dengan pedang (perang dsb). Inilah pola pembaharuan pemikiran yang bersumber dari kedalaman jiwanya.

Dalam kitab “al Syamil” disebutkan bahwa gelar di atas, berdasarkan peninggalan al Faqih al Muqaddam yaitu rahasia keilmuannya, serta berkat eratnya jalinan persahabatan antara mereka. Dalam hal ini Habib Ja`far bin Ahmad al Habsyi menyatakan sanjungannya atas Syekh al Amudy, sebagaimana berikut : Dalam dirinya (al Amudy) tersimpan rahasia keluarga Alawy, kami telah memperoleh keterangan itu dari lisan orang yang terpercaya.

Simbol pematahan pedang di atas tidak dimaksudkan al Faqih al Muqaddam untuk mengajak para Alawiyin kepada kebodohan dan kerendahan ketika menempuh tarekat ini, sebagaimana dikira oleh beberapa anak cucunya yang kurang memahaminya. Akan tetapi al Faqih al Muqaddam mematahkan pedangnya berdasar dua aspek pokok yaitu : Aspek politik dan aspek religius-sosial.

Berkenaan dengan aspek politik, ahli sejarah Sayyid Muhammad bin Ahmad al Syatiry mengupasnya dalam kitab “Adwar at Tarikh al Hadramy” sebagai berikut : “Di masa al Faqih al Muqaddam dan sebelumya para penguasa di Hadramaut menyoroti ruang gerak Alawiyin yang mendapatkan tempat di hati rakyat. Mereka khawatir kekuasaannya runtuh, dari itulah mereka selalu mengawasai gerak gerik Alawiyin dan terus menyudutkannya, seperti perlakuan para penguasa sebelumnya, yang bermula sejak Bani Umaiyah, Bani Abbas dan lainnya.
Al Faqih al Muqaddam menyadari, peristiwa tersebut telah dialami keluarganya. Kejadian seperti itulah yang membuat kakeknya Shahib Mirbath (Muhammad bin Ali) hijrah dari daerahnya. Kejadian konkrit yang pernah di saksikan sendiri adalah kematian pamannya Alwy yang diracun oleh al Qahtany penguasa Tarim saat itu. Dari sini kita lihat bahwa simbol peletakan senjata saat itu berarti kesediaan untuk berdamai satu sama lain. Karena tentunya pada suatu saat nanti silang sengketa antara lawan maupun kawan tak dapat dihindarkan, permusuhan dan dendam dari generasi ke generasi akan terus berlanjut, sebagaimana terjadi antara kabilah saat ini. Maka dari itu, dengan wawasannya yang luas al Faqih al Muqaddam menyikapi hal tersebut dengan menghilangkan inti dari pokok permasalahannya, menempuh ajaran tasawuf, serta memegang tongkat perlambang dari kesufian, yang menempati posisi pedang di mana ketika itu menjadi simbol kekerasan, penindasan, dan segala bentuk kejahatan serta alat untuk mendapatkan kekuasaan”.

Adapun aspek religius-sosial dari simbol pematahan pedang tersebut dijelaskan al Syatiry pula dalam kitabnya “al Adwar” sebagaimana berikut: “Dari beberapa sumber yang terkumpul menyatakan bahwa al Faqih al Muqaddam meletakkan pedang bahkan mematahkannya adalah seruan yang mestinya di landasi dengan praktek melalui ucapan dan perbuatan, yaitu meninggalkan akidah yang tidak benar yang beredar sebelum itu, dibuktikan perbuatan dengan konsisten memupuk kebersamaan, meningkatkan persaudaraan sesama umat Islam, sebangsa dan seagama di antara kabilah-kabilah di setiap unsurnya.

Dan bahwasanya ilmu dan iman merupakan senjata yang paling ampuh untuk membawa masyarakat kepada kemajuan dan kebahagiaan hidup. Dari pandangan hidup ini, al Faqih al Muqaddam memiliki keberanian dan peranan penting. Begitu pula Syekh Said bin Isa, peranannya dalam mengimplementasikan pedoman ini tidak kalah dengan pelopornya yaitu al Faqih al Muqaddam. Menurut buku-buku sejarah, sisa-sisa dari pecahan pedang yang dipatahkan tersebut dilestarikan oleh keluarga al Amudy bersama peninggalan al Faqih yang lain, sesuai dengan apa yang diwasiatkan oleh al Faqih al Muqaddam. Hal seperti ini adalah bentuk implementasi dari tradisi ajaran kesufian yaitu menyerahkan pakaian atau lainnya kepada salah seorang murid yang bakal menempati posisi masyakhah (pimpinan tarekat). Sebagaimana yang dilakukan oleh Syekh Sholeh al Maghriby yang mewasiatkan beberapa peninggalan untuk murid yang mumpuni dalam mengambil ajaran tasawuf. Peninggalan tersebut masih tersimpan di Qaidun hingga saat ini, di bawah pengawasan pihak yang bertanggung jawab atas makam Syekh said bin Isa al Amudy…sebagai perlambang dari hubungan erat di antara kedua tokoh besar tersebut. Keeratan seperti inilah yang disebut dengan “al ittihad alkully” (persatuan menyeluruh) baik dari sisi ajaran, keilmuan, pengamalan, dan pertalian darah.

Dalam penjelasannya Sayyid Alwy bin Tahir berkata : “Sejak dahulu telah terjalin ikatan erat antara keluarga al Amudy dan keluarga Ba Alawy, berkat hubungan antara Sayyid al Kutb al Ghaust al Faqih al Muqaddam Jamaluddin Muhammad bin Ali Ba Alawi dengan Syekh al Kabir al Arif billah Said bin Isa al Amudy, dengan ini keluarga al Amudy mendapatkan banyak kebajikan dan keberkahan lahir maupun batin, senantiasa berada dalam akidah yang benar, dan pertalian darah yang tiada terputus. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Setiap nasab dan pertalian darah pada hari kiamat terputus, kecuali nasabku dan pertalian darahku…” sebagaimana makna hadis. Mereka juga mendapatkan sentuhan dari keilmuannya dan pelimpahan rahasia-rahasia dan pemahamannya. Tidak sedikit dari para masyayekh, orang-orang shaleh, tokoh sufi dan lainnya kala itu yang mengambil ilmu lahir maupun batin baik yang berkenaan dengan syariat, tarikat dan hakikat darinya.

Dalam kitab “Araisul Wujud” disebutkan : “Adapun beberapa hal yang diperoleh oleh Syekh Said berkat keeratannya dengan Sayyiduna al Faqih al Muqaddam beserta keturunannya, antara lain seperti apa yang diungkapkan oleh Syekh al Allamah Ba Sudan dalam bukunya “Faidh al Asrar” berikut persaksian para wali-wali Allah SWT, yaitu adanya titipan rahasia nubuwah, yang dengannya gelar “Khazanah Bani Alawi” disandangnya. Cukuplah kiranya hal tersebut untuk menisbatkan maqam dan menyematkan tanda kehormatan kepadanya.

Sungguh pangkat yang tinggi, nafahat yang agung, serta pertaliannya dengan budi pekerti Rasulullah SAW telah mencukupkannya dari segala hal.
Gelar “Khazanah Keluarga Ba Alawi” memang pantas atas dirinya.

Tareqat A Amudiyah

Seiring dengan perkembangan zaman, mungkin pemakaian term “tarekat” dapat di analogikan dengan kata “madrasah”. Jikalau generasi kita proses belajarnya dalam setiap jenjang dan struktur pendidikan memakai metode ilmu psikologi, sosial, ekonomi, filsafat dll, terpengaruh dengan sistem Dikarto dan Baflofy, Roust, dan Jean Jack Rosou, dan yang sejalan dengannya, di mana pemikirannya banyak berperan pada terbentuknya formula sekolah modern, yaitu sekolah yang memberikan ijazah kepada para alumninya.



Ketika kita membahas permasalahan tasawuf dengan cermat, kita akan menemukan kenyataan bahwa proses pendidikan modern yang ada saat ini baik di barat maupun timur lebih terkontaminasi dengan metode di atas ketimbang proses pendidikan tasawuf sebagaimana tuduhan mereka bahwa sistem pengajaran tasawuf merupakan pengaruh dari metode barat. Sebenarnya tuduhan itu tak lain hanyalah hasil rekayasa orentalis. Dari sinilah, timbul propaganda terhadap tasawuf dan proses sistem pengajaran non klasikal.

Walaupun demikian, terkadang kita melihat beberapa oknum yang menisbatkan dirinya kepada tasawuf tidak konsisten (berlebih-lebihan, atau mengabaikan) baik dari segi sistem maupun metodenya. Sebagaimana hal itu juga terjadi dalam proses bermazdhab dan aneka ragam cara pandang hingga saat ini, tapi kita tidak bisa mengklaim penyimpangan yang dilakukan segelintir penganutnya tersebut merupakan bias dari sistem dan metode yang ada dalam ajaran tasawuf.

Sebagai contoh, pendidikan yang ditempuh oleh orang-orang yang bermazdhab Hambali, tidak sedikit dari pengikutnya yang menyimpang baik dari segi pemikiran, hukum, maupun keyakinan, namun dengan kenyataan itu, para ulama tidak menisbatkannya kepada mazdhab Hambali dan penganutnya secara keseluruhan. Melainkan mengkhususkan penyimpangan tersebut hanya kepada yang bersangkutan. Inilah konsep dalam Islam, yang telah diimplementasikan para sahabat dalam menyikapi perbedaan corak pandang, keyakinan, maupun politik pada masa-masa awal Islam. Jadi, pendidikan tasawuf adalah corak pendidikan yang mempraktekkan ajaran Islam dalam segala aspeknya. Yang salah satu tujuan urgennya adalah pembinaan akhlak dan keistiqamahan hati pada kemurnian ajaran Nabi Muhammad SAW. Adapun mengenai keterkaitannya dengan syariat Islam bersinergi dengan aneka macam corak pandang madzhab Islam yang ada. Yang terpenting dalam pembahasan ini adalah seputar pendidikan tasawuf yang ada di Hadramaut.

Sebelum abad ketujuh Hijriyah di Hadramaut tidak terdapat ajaran tasawuf. Di lain tempat sekitar Yaman berkembang tarekat Qadiriyah. Seiring dengan perkembangan tarekat Qadiriyah, sejak abad ke tujuh Hijriyah muncul pula di Hadramaut tarekat Syuaibiyah.
Setelah itu bermunculan tarekat-tarekat lain, dan pengajaran tasawuf terus berkembang. Kala itu, pengajaran ini menjadi pavorit dalam mewakili corak pendidikan pemikiran yang mampu mengimbangi tantangan zaman saat itu. Dari situlah, kita menemukan sosok mujtahid dalam bidang Usul dan Hadist semisal al Faqih al Muqaddam banting setir dari posisinya -sebagai Mujtahid Usul- kepada tasawuf yang tidak menyukai kemasyhuran. Beliau beserta generasi penerus dari ahlulbait , pengikut yang menyintainya, dan para ahli agama rela menempuh jalan kefakiran dan menghiasi dirinya dengan perilaku kaum sufi. Pedoman ini merupakan keharusan dalam ekosistem masyarakat, serta relevan dengan perkembangan zaman saat itu. Maka dari itu, ketika hal ini menjadi sebuah keharusan dan merupakan kebutuhan primer dalam hidup, tidak ada jalan lain kecuali menempuhnya. Dalam hal ini Syekh Said bin Isa al Amudy antusias dalam menjalaninya dengan senantiasa berada di bawah naungan bendera Mujtahid Usul –al Faqih al Muqaddam- yang memiliki satu misi dan berasal dari satu sumber. Adapun penamaan “Tarekat al Amudy” oleh sejarawan maksudnya adalah rentetan pengambilan sanad yang bersambung dengan seorang Syekh yang mana seorang murid setelah itu mengembalikan sanadnya kepadanya…dilanjutkan pengambilan baiat dan tahkim (pengokohan seorang Syekh) untuk generasi setelahnya. Dari itulah, al Imam al Allamah al Wajih Abdurrahman bin Abdullah bal Faqih dalam kitabnya “Raf`u al Sitar” berkata : “Sesungguhnya tarekat al Amudiyah salah satu dari tarekat yang masyhur dan diridoi, terdiri dari sekitar 23 tarekat, seluruhnya kembali kepada satu tarekat, yaitu tarekat Syekh Syuaib Abu Madyan.
Syekh Abu Madyan Syuaib
Syekh Abdurrahman al Maqad
Syekh Abdullah al Shaleh al Maghriby
Al Faqih al Muqaddam Syekh Said al Amudy Syekh Ba Amran
Cabang Tarekat al Amudiyah melalui Tarekat keturunan Syekh al Amudy dan murid-murid setelahnya.

Syekh Said dan Murid-muridnya

Beberapa kewajiban seorang Syekh yang shaleh, al Murabby (mampu membimbing pada kebenaran hakiki) al Nasih (mampu menunjuki kejalan yang benar) adalah kemampuannya mencetak sosok pengikut yang dapat mengambil mutiara ilmu, amal dan kemurnian pekertinya, mampu mengimplementasikan esensi yang terdapat pada sosok Syekh dari tindakan kesehariaan, ketaatan dan ketekunan mujahadah, serta kebenaran tawajuhnya kepada Allah SWT.

Syekh Said adalah salah satu figur seorang Syekh pembimbing yang sulit dicari tandingannya saat itu, khususnya setelah hidup dalam masa yang lama, berikut keintimannya dengan Syekh Abdullah al Shaleh al Maghriby, dan mampu mencetak seorang pembimbing rohani dan jiwa. Beliau pernah mengutarakan akan keadaan dirinya sebagai berikut : “Dari hasil bimbinganku aku telah menjadikan seorang Muqaddam sebanyak 17 Syekh.
Di antara mereka ada yang mendapatkannya secara rahasia, sebagian lagi ada yang memperolehnya secara terang-terangnan”. Maksud dari “takdim”(pengedepanan) di sini adalah formula untuk dapat menjadi panutan dalam sebuah pengajaran dan suri tauladan yang baik.

Murid-murid yang mengambil tarekat dari Syekh Said al Amudy menyebarkannya ke berbagai pelosok negeri.
Di antara mereka yang tersohor akan kealiman dan kesalehannya antara lain :
1. Syekh Muhammad bin Muhammad Ba Abbad al Dauany, beliau adalah salah seorang murid kesayangan Syekh Said, mengambil pengetahuan dari SyekhSaid secara sempurna hingga tuntas, sekaligus mendapat izin atas kemampuannya untuk tampil sebagai Syekh. Konon, masalah ini menjadi sangat mengganjal perasaan salah seorang murid Syekh Said, beliau merasakan gejala tersebut, dan berkata kepada murid-muridnya : “Janganlah kalian berprasangka yang tidak baik kepadaku, sesungguhnya Syekh Muhammad Ba Abbad adalah Buzzal Kuhhal dan kalian qu`dan yang belum mampu membawa bebannya”. Syekh Ba Abbad mempersunting salah seorang putri dari keluarga al Amudy, dan mempunyai beberapa orang anak antara lain: Al Ghazali, Ummu Mahmud, Umu Abil Qasim, dan Umu Ruqayyah, sebagaimana disebutkan dalam kitab “Uns al Salilkin” di sela-sela keterangannya tentang karamah Syekh Said al Amudy, Syekh Ba Abbad hidup di desa “Radum” daaerah “al Wahidy” dan wafat di sana, kuburannya tidak asing lagi di mata masyarakat, keturunan beliau masih tersisa hingga saat ini dengan sebutan “Keluarga Ba Abbad”.
2. Syekh Muhammad bin Salim Ba Wazir.
3. Syekh Najih bin Amta`
4. Syekh Ba Umar dari daerah Urah
5. Syekh Ba Yazid dari daerah al Khamilah
6. Syekh Ba Balil
7. Syekh Ba Asyan dari Ribat yang terkenal di lembah Dauan.
8. Syekh Ba Haj dari daerah Rimah Lembah Amaqien
9. Syekh Sulaiman Ba Mani` dari Huraibah
10. Syekh Hasan Bal Khoir dari Hajr
11. Syekh Ali dan Syekh Aflah
12. Para Syekh dari keluarga Ba Hamisy.

Di antara mereka yang belajar kepada Syekh Said adalah kedua putranya Syekh Jamaluddin Muhammad bin Said dan Ali bin Said, dari keduanya silsilah tarekat ini berlanjut kepada anak cucu dan kerabatnya, seperti Maula Sya`b Khodm Syekh Umar bin Muhammad, Syekh Ustman bin Umar bin Muhammad, Syekh Muhammad bin Ustman, Syekh Abdullah bin Muhammad bin Ustman dari Dzimar, Syekh Ustman bin Abdullah, Syekh Ahmad bin Muhammad yang bergelar dengan “al Qadim”, Syekh Ustman bin Ahmad, Syekh Umar bin Ahmad yang bergelar “ al Tayyar”, Syekh Abdullah bin Umar Shahib al I`rd, Syekh Umar bin Ahmad Abdullah, Syekh Abdurrahman bin Umar, biografinya terdapat dalam kitab “an Nur as Safir”, Syekh Ustman bin Muhammad yang disebutkan dalam kitab “Tarikh Ba Makhramah”, Syekh Ahmad Abdurrahman yang pernah belajar kepada Bin Hajr al Haitami dan al Romli, Syekh Umar bin Abdulkadir yang pernah belajar kepada Imam Haddad, Syekh Abdullah bin Ustman dari Daufah, Syekh Ustman bin Said yang di kuburkan di Ribat Ba Asyan, Syekh Ustman bin Abdulkadir dari “Lembah Yabast” Syekh Muhammad bin Abdullah yang di makamkan di daerah Qaidun, Syekh Ustman bin Ahmad yang dikenal dengan sebutan Ahmad al Shagir untuk membedakan antara dia dengan kakeknya Muhammad bin Ustman bin Ahmad al Qadim, beliau – Syekh Ustman- adalah orang yang pertama kali memindahkan “zawiyah al Amudy” dari Qaidun ke Budhah. Tatkala berada di Qaidun, Zawiyah tersebut dikelola oleh Syekh Umar bin Ahmad, kemudian karena beberapa hal beliau melepas tanggung jawabnya dan selanjutnya menyerahkan tanggung jawab kepada saudaranya Ustman.

Figur dan Akhlaq Mulia Syekh Said

Beliau berperawakan tinggi besar, berkulit sawo mateng, jenggotnya lebat, terbersit darinya cahaya dzikir dan ibadah, tidak sombong dan congkak, senantiasa rendah hati dan menghiasi kehidupannya dengan ibadah dan kefakiran, menaiki kendaraan tanpa alas, memakai pakaian seadanya dengan tidak berlebih-lebihan dan pamer, sosok yang dermawan, menafkahkan apa yang dirizkikan Allah SWT kepadanya kepada yang berhak, memberi makanan fakir miskin, menghormati tamunya, begitu pula tidak sungkan-sungkan memberikan apa yang Allah SWT limpahkan dari rahasia ilmu kepada murid-muridnya, tidak kikir dan tidak berlebihan-lebihan dalam menginfakkannya, beliau juga banyak melakukan mujahadah dalam menempuh jalan Allah SWT, banyak berdzikir, sering merenung, cepat terpengaruh dengan bacaan al Quran, sering mengunjungi para sholihin dan wali-wali Allah SWT. Memenuhi hak-hak keluarga, kerabat, dan tetangganya.

Dari dirinya tercipta kebajikan, baik yang sifatnya umum ataupun khusus dan sangat bernilai, sentuhan tangannya yang barokah menyembuhkan penyakit orang-orang sakit, lewat doanya Allah SWT melepaskan segala kesedihan yang menimpa, demikian pula sering tampak pada dirinya karamah dan hal di luar nalar, yang menandakan maqam Syekh Said dan kemulyaannya, dan kebenaran penyerahannya kepada yang Maha mengabulkan segala doa yang tertimpa lara dan yang Maha menghilangkan segala keburukan. Tidak sedikit dari para pengarang kitab yang menulis tentang karamah yang tampak dari diri Syekh Said, dan kami sengaja melewatkannya karena hal tersebut tidak lain hanyalah buah dari amal perbuatannya dan hubungan yang hakiki antara seorang hamba dan tuhannya. Pembahasan kita saat ini berkisar seputar amal perbuatan itu sendiri, yang mana Allah SWT telah menganugerahkan kepadanya melalui sosok dan maqamnya, dan itu merupakan inti dari persaingan dalam mencapainya, serta upaya dalam mendapatkanya, demikian juga sebab diterimanya amalan di sisi Allah SWT. Adapun atmosfir generasi kita saat ini yang telah terkena virus penginkaran terhadap segala apa yang bertentangan dengan akal, penyebabnya adalah banyaknya pengaruh racun (kemodernan) yang memasuki dirinya. Akal pada dasarnya sebuah elemen yang kemampuan dan daya tampungnya terbatas, tidak dapat dijadikan sebuah ukuran dalam menilai sesuatu dalam dimensi agama maupun kehidupan di dunia ini. Akan tetapi fungsi dari komponen akal ini dalam pandangan Islam – yang merupakan tujuan penciptaannya- agar digunakan sesuai dengan fungsi dan objek kegunaannya yang bersinergi dengan hal-hal konkrit, pemahaman objek tertentu, menganalisis serta memanfaatkan daya pikir untuk menyingkap apa yang ada di balik alam dan isinya. Adapun menjadikan akal sebagai tolak ukur dalam menghukumi sesuatu yang abstrak adalah sebuah kemustahilan, hal itu telah menyalahi tujuan penciptaannya.

Yang perlu diketahui oleh generasi saat ini, bahwa karamah adalah kesan lahiriah (akibat amal perbuatan) yang terjadi atas izin Allah SWT pada hambanya yang shaleh, sedangkan sihir dan semacamnya juga merupakan kesan lahiriah terjadi atas izin Allah SWT yang tampak dari hambanya yang mustadraj (keadaan yang bersifat sementara). Adapun mukjizat adalah kesan lahiriah terjadi atas izin Allah SWT yang di tampakkan kepada para Nabi dan para Utusan yang mulya. Jadi, dalam setiap tingkatan terdapat pengertian dan dalilnya. Siapapun yang menisbatkan kesan (pengaruh) ini kepada yang bukan ahlinya, hal itu berarti telah menyelahi tujuan penciptaannya atas seorang hamba. Dan telah menjadikan akal dan hawa nafsunya tolak ukur dalam menyikapi apa yang bersumber dari Allah SWT dan Rasulnya. Maka berhati-hatilah mereka yang menentang perintah-Nya akan tertimpa fitnah atau adzab yang pedih.

Syekh Said dan Ilmu Agama

Para ulama mengklasifikasikan ilmu pengetahuan kepada dua bagian : pertama Ilmu Kasby dan kedua Ilmu Wahby. Ilmu Kasby adalah sesuatu yang diperoleh oleh seseorang dengan usaha keras saat mencarinya, senantiasa duduk bersama ulama dan Syekh, membaca dan menganalisis serta melakukan percobaan dalam hidupnya.

Adapun Ilmu Wahby adalah semua yang diberikan Allah SWT kepada hambanya melalui bawah sadarnya saat mencari ilmu, atau tatkala menempuh perjalan menuju tuhannya dengan ketaatan dan perbuatan yang shaleh, di mana pada setiap ketaatan terdapat hasil buahnya. Dan di setiap hasil buah itu terdapat dzauq (rasa), kebanyakan perusak buah ketaatan adalah perbuatan maksiat, apabila buah itu rusak, maka rusak pulalah dzauq (rasa), dan tinggallah ketaatan bagaikan pohon yang tanpa buah. Setiap orang yang taat kepada Allah SWT, akan mendapatkan buah dari ketaatannya. Melimpahkan kepada mereka beraneka ragam dzauq, di mana dari dzauq tersebut muncullah sebuah maqam keimanan tertentu. Mengenai hal ini dikatakan : “Kemanisan iman aka terasa oleh mereka yang rela bahwa Allah SWT adalah tuhannya, Islam adalah agamanya, Nabi Muhammad Saw. adalah Nabi dan Rasul” barang siapa yang merasakan manisnya iman maka Allah akan menampakkan bias pada perkataannya yang senantiasa di hiasi mutiara hikmah dan ilmu. Allah SWT berfirman : "Maka bertakwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajarimu”.
Inilah letak pembahasan kita mengenai biografi Syekh Said –semoga Allah merahmatinya .

Sosok Syekh Said bin Isa al Amudy, sebagaimana digambarkan dalam beberapa buku adalah seorang yang Ummi tidak dapat membaca dan menulis, ummiyah adalah cela bagi seseorang. Kecuali atas Rasulullah Saw. Yang memilki pengertian khusus. Namun ketika kita mencermati ummiyah yang ada pada diri Syekh Said, dapat kita temui bahwa keummiyannya tidaklah seperti yang dibayangkan orang, mereka yang memaknai ummiyah dengan kebodohan sering melebih-lebihkan hal itu. Syekh Said menghabiskan umurnya pada kegiatan belajar dan ilmu. Daerah Qaidun dan sekitarnya merupakan daerah yang dipenuhi dengan ulama dan ilmu pengetahuan. Hanya saja Syekh Said tidak seperti para pencari ilmu, melainkan mencukupkan dirinya hanya dengan menyimak dan duduk bersama Syekh. Dan itu merupakan salah satu metode dalam mencari ilmu. Konon di Hadramaut tak jarang yang hafal quran tanpa disadari saking banyaknya menyimak dan menghadiri halaqah alquran. Hal ini bukan mustahil, apalagi para ulama setiap siang dan malam tidak henti-hentinya memberikan pelajaran berkenenaan dengan amal ketaatan dan ibadah, tanpa melakukan riset ataupun berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Maka sosok Syekh al Amudy di kategeriakan ummi dari sudut pandang jenjang yang semestinya di tempuh oleh seorang pencari ilmu kepada para ulama ketika itu, adapun dari sisi kepasitas keilmuan beliau adalah seorang yang mumpuni. Akan tetapi beliau tidak suka menampakan diri, uzlah, menjauhkan diri dari dunia pemikiran yang ada.
Dalam keadaan seperti ini beliau belajar, menimba pengetahuan dan cahaya pengetahuannya terus bersinar terang. Cahaya ini semakin berkilau tatkala beliau menekuni ilmu tasawuf, menjadi panutan, Syekh, dan sosok pembimbing, dari lisannya terucap mutiara dzauq dan hikmah dan membimbing anak didiknya kepada ilmu dan pengamalan, simaklah ucapannya berikut ini : “Tidak seorangpun dari para Syekh mendapat keutamaan apabila menginginkan pujian dari apa yang diperbuat untuk muridnya, sebab anak didik bagaikan anaknya, dan pujian tidak dapat diberikan kepada siapa yang berbuat untuk orang lain yang bukan kerabatnya.” Beliau juga berkata : “Janganlah sekali-kali kalian bersahabat dengan orang yang pesimis walaupun memberikan tumpangannya.”

Dalam bidang ilmu Hadis mengenai barokah dalam ilmu dan pengamalannya beliau berkata : “Buahnya banyak namun panennya sedikit” ketika beliau ditanya tentang syarat seorang Syekh Pembimbing (murabby) jawabnya: “Seorang Murabby hendaknya terus mengaktifkan pikirannya, mencemerlangkan dzikirnya, tidak banyak berdebat, terus membenahi dirinya, lemah lembut, banyak ilmunya, dadanya sangat lapang, rendah hati, tertawanya adalah senyuman, dan pertannyaannya adalah pembelajaran, pengingat bagi yang lalai, pengajar orang bodoh, penentram orang asing, penolong setiap muslim dalam setiap kesukaran, bapak bagi orang yatim, pengayom orang-orang lemah dan fakir miskin, kesedihannya terselubung dalam hatinya, bergembira dengan tuhannya, merasa enggan dengan pecinta dunia, tidak kikir dan tidak tergesa-gesa (dalam menginfakkannya), tidak tertawa dengan kemenangan yang diperolehnya, tidak marah kepada orang yang menyakitinya, melainkan memaafkannya, tidak menyibukkan dirinya dengan sesuatu yang tidak berguna, apabila di cela ia tidak membalasnya, kalau diminta ia memberi, ketika keinginannya tak terpenuhi ia tidak marah, lebih lunak dari busa, lebih manis dari madu, dekat dengan kebaikan dan ahlinya, jauh dari kejahatan dan ahlinya, kemarahannya didasari dengan keadilan. Beliau juga berkata : “Bukanlah seorang Syekh apabila ia belum menguasai usuluddin (pokok agama) dan cabangnya. Pokok dalam agama ada tujuh sedangkan cabangnya sebanyak tujuh puluh”

Ketika Syekh Ahmad bin Abu al Ju`di bertanya tentang tarekat kaum sufi beliau menjawab : “Tarekat kaum sufi adalah tarekat para penempuh kebenaran, dan tarekat para mujtahid, adapun tarekat para penempuh kebenaran adalah meninggalkan makhluk, dan memutuskan segala hubungan, dan bersungguh-sungguh dalam berkhidmah kepada penguasa makhluk. Adapun tarekat para mujtahid adalah puasa dan bangun malam serta meninggalkan segala bentuk dosa.

Beliau juga menjawab pertanyaan lain dari Ibn Abu al Ju`di ketika ditanya tentang ciri-ciri seorang fakir yang sabar :”Memakai baju perang dari segala cobaan, menyandang pedang untuk kemulyaan, dan serempang (rida’) dari kekhusuan, celana untuk keiffahan, dan selimut kemaluan, jubah pengawasan (muraqabah), tongkat ketawakalan, dan lentera untuk mengedepankan yang lain, sandal kesabaran, siwak kekanaahan (cukup dengan yang ada), dan hendaknya mempunyai tempat (zawiyah) untuk ilmu pengetahuan, meneguk minuman makrifat, apabila ia telah berdiri di depan pintu makrifah dan berada di pintu yang maha suci berarti ia berada pada tahap akhir, apabila ia berada dalam tahapan ini maka akan dianugerahkan kepadanya sifat-sifat luar biasa dan darinya mendapat pengetahuan tertentu, apabila ia mengetahui dengannya hal tertentu, maka ia akan lebih lembut dari air, lebih tinggi dari langit, di sekelilingnya akan subur dan himmahnya (cita-cita mulyanya) lebih tajam dari pedang, tutur katanya jauh dari kebohongan, perumpaannya bagaikan lautan di mana orang-orang mandi di dalamnya, ikannya disantap orang, yang memasukinya akan menemui sebuah ketenangan dari capeknya kejauhan jarak yang ditempuh, menghilangkan ketakutan, ketika berucap ia jujur, kalau dikatakan kepadanya ia membenarkannya, hak yang berkenaan dengan dirinya diterapkan, dan yang berkenaan dengan orang lain di abaikannya (tidak menuntut balas), menerima dan merasa cukup terhadap apapun yang Allah SWT rizkikan kepadanya, tidak mendzalimi siapapun dari makhluk Allah, apabila ada yang mendzaliminya ia bersabar dan memaafkan, merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah SWT dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Peninggalan Syekh Said Al Amudy

Syekh Said bin Isa al Amudy mewariskan banyak peninggalan ilmiah yang nyata di mayoritas daerah di Hadramaut dan beberapa daerah di Yaman, Afrika bagian timur, Indonesia dan lainnya, seperti halnya peninggalan para Sadah Bani Alawi, karena metode yang di terapkan oleh al Faqih al Muqaddam dan Syekh Said al Amudy berada dalam satu misi dan tujuan yang sama. Maka dari itu pengaruh keduanya terjadi dalam satu masa dan anak didik dan pengikutnya tersebar di setiap penjuru, setiap kharisma dari keluarga Bani Alawi tampak kepermukaan maka akan ditemukan pula pengaruh dari Syekh keluarga dari al Amudy. Terkadang kiprah dari masyayekh keluarga al Amudy meningkat di beberapa daerah dan secara independen menyebarkan dakwah dan ilmu, memperbaiki hubungan antara satu sama lain. Sebagai contoh kita menemukan bahwa pengaruh keluarga al Amudy di lembah Dauan sejak era Syekh Said sampai ke masa anak keturunannya cukup kuat. Bahkan dalam beberapa fase dapat membina sebuah kekuasaan dalam bidang agama maupun keduniaan. Begitu pula di lembah Hajr dan sekitarnya, pengaruh Syekh Said begitu besar, khususnya pembangunan masjid-masjid. Tidak ada masjid kecuali dinisbatkan kepada keluarga al Amudy dan anak cucunya. Di daerah itu juga Syekh Said meninggalkan tradisi bersedekah yang telah menjadi adat-istiadat sejak abad dahulu, yaitu ketika para warga daerah itu mengadu kepada beliau tentang kerusakan yang menimpa tanaman kurma dan buahnya, beliau berdoa agar dijaga oleh Allah SWT, dan menyuruh penduduk di situ untuk menyedekahkan kurmanya kepada para fakir miskin. Tradisi ini masih dilestarikan hingga menjelang zaman perubahan di era kebangkitan di Yaman.

Di daerah al Awaliq al Sufla Syekh Said al Amudy banyak meninggalkan peninggalan, di situ terdapat sejumlah masjid, seperti masjid al Masani, masjid Lakh dan masjid Syekh Said Ba Ahwar, semuanya dinisbatkan kepada Syekh Said ketika beliau mengunjungi daerah Ahwar pada abad ketujuh Hijriah. Menurut riwayat, salah seorang keturunan Syekh Said berkunjung ke Ahwar dan melihat penghuninya ditimpa penyakit cacar sehingga membinasakan banyak orang, beliau menyuruh mengumpulkan seluruh penduduk untuk keluar mengelilingi daerah itu sambil berkata : “Syai` lillah2x syuwailillah ya al Amudy” kemudian mengajak untuk saling bersedekah antara satu dengan lainnya, yang mana hal itu akhirnya menjadi adat yang dilaksanakan pada nisf sya`ban, menjadi ikon daerah itu, yang pada saat kemudian terkontaminasi oleh hal yang tercela yakni bercampur aduknya laki-laki dan perempuan di rumah-rumah dan jalanan. Dari itulah, maka Sayid Ali bin Abu Bakar al Masyhur (abahku) tatkala mengunjungi Ahwar tahun 1362 sangat menginkari peristiwa tersebut. Kemudian meminta dari Sultan Idrus bin Ali al Ulaiqi untuk menghentikannya, dengan sigap pelarangan itu segera diterapkan setahun atau setahun kemudian, akan tetapi penyakit yang membinasakan itu kembali lagi menimpa daerah itu, kemudian abahku membolehkan lagi pelaksanaan tradisi itu dengan syarat terbatas pada anak-anak kecil saja, adat ini berlanjut hingga kini dan dikenal dengan “al Syuwailillah”.

Salah satu bentuk peninggalan Syekh Said bin Isa al Amudy di daerah al Awaliq adalah banyaknya keturunannya tersebar di situ hingga kini, menempati bagian pantai di Ahwar, seperti Bandar, al Masani, Hanad, Ahwar dan lainnya. Mereka memiliki adat, maqamat (kedudukan) dan prosesi keagamaan yang menyerupai tradisi di Qaidun, Budhoh, dan daerah lainnya di Hadramaut, namun hal itu kini punah bersamaan kepergiaan para tokoh dan masyayekh di daerah itu penyebabnya adalah arus zaman dan pendidikan yang mempengaruhi generasi mudanya. Dari keluarga al Amudy juga ada yang berprofesi di bidang bisnis. Tidak sedikit dari mereka yang pergi ke Hijaz, Indonesia, Afrika, India, dan lainnya, mereka berprofesi sebagai pedagang, orang-orang kaya yang turut memberikan kontribusi dalam perkembangan ekonomi dan perdagangan di daerah tersebut. Dari mereka ada yang memanifestasikan penghasilannya untuk pembangunan daerahnya dan pembangunan masjid datuknya Syekh Said bin Isa al Amudy.

Hingga kini banyak manuskrip dan koleksi buku yang ditinggalkan mereka berada di rumah kuno keluarga al Amudy di Dauan. Dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan banyak dari perpustakaannya baik di Dauan Aysar maupun Ayman tertutup semenjak sepuluh tahun terakhir. Yang paling dikhawatirkan punahnya literatur ini, baik disebabkan oleh perubahan anak keturunan atau melalui faktor perbedaan cara berpikirnya, sehingga sampai pada tindakan membakar atau menghilangkan warisan itu, sebagaimana terjadi pada sebagian oknum saat ini, la haula wala quwwata illa billah.

Syekh Said Al Amudy Wafat

Kehidupan Syekh Said sarat dengan kemanfaatan, memperbaiki hubungan antara sesama, pembimbing masyarakat baik dari kota maupun desa, membimbingnya dengan ajaran kebenaran, dengan banyak tafakur dan beribadah kepada Allah SWT, disertai kerinduan kepada Tuhannya.


Di akhir hayatnya beliau sempat mengucapkan syair Rabiah al Adawiyah sebagai berikut : Wahai yang dekat dengan hati, wahai yang jauh dari pandangan Engkau menyiksa sukmaku, Engkau membebankan kepadaku bangun malam. Beginilah wahai penyiksaku, siapa yang dicoba dengan cinta hendaknya bersabar.
Tidaklah sama antara yang menyembunyikan kecintaan dengan yang menampakkannya dan tersohor.

Beliau -semoga Allah SWT merahmatinya- wafat pada tahun 671 H. dimakamkan di kota Qaidun, kuburannya terkenal dan masjidnya senantiasa dipenuhi banyak orang. Semoga Allah SWT merahmatinya, dan semoga kita dapat mengambil manfaat dari ilmu-ilmunya di dunia ini dan akhirat nanti. Amin.

Pelestarian Cinta Bani Alawi Terhadap Keluarga Al Amudy

Semenjak era al Faqih al Muqaddam Keluarga Sadah Bani Alawi senantiasa memelihara cintanya kepada keluarga al Amudy, hal ini diimplementasikan oleh anak cucunya dengan senantiasa mengadakan ziarah ke daerah Qaidun dalam rangka penyebaran ilmu, mengunjungi Syekh Said, dan untuk mempererat hubungan antara Ahlul Bait dengan keluarga Syekh Said, begitulah rasa cinta itu dilestarikan, berkenaan dengan ini Syekh Abdurrahman bin Ali bin Abu Bakar berkata : Dan Syekh telah diberi minum di tempat Nabiyullah Hud yang diberi nama dengan al Amud. Ketika Sayyid Ja`far bin Ahmad Zain al Habsyi mengunjungi Qaidun dan ziarah ke makam Syekh Said, terucap dari lisannya syair berikut : Jikalau tampak olehmu isyarat cinta disebutlah Qaidun dan teruslah berada di serambinya. Kunjungilah sosok yang bekedudukan tinggi Syekh Said bin Isa karena di situlah keinginan hati berada. Seorang pimpinan yang memiliki obsesi tinggi, berada di puncak kemulyaan dan mencapai puncak ketinggiaannya. Dalam dirinya (al Amudy) tersimpan rahasia keluarga Alawy, kami telah memperoleh keterangan itu dari lisan orang yang terpercaya. Sampai akhir kasidah yang menjelaskan perilaku Syekh Said dan tawassul kepadanya.

Kalangan Ulama dari Ahlul Bait dan para masyayekh dan simpatisannya dari segenap kabilah dan kelompok masyarakat mengetahui hubungan yang erat ini, dan menemukannya pada peninggalan dan fenomena serta relasi yang ada. Kita tutup biografi ini, dengan mengutip syair Syekh Said bin Salim al Syawwaf tentang sosok Syekh Said yang terkenal dengan:”Qissatul Asal fi Madhi Ahlillah Azzawajalla”. Berikut ini:

Sosok panutan pertama dari gologan mereka, sang pemilik kharisma baik dari pekerti maupun perkataannya
Yang tidak ada bandingannya di antara mereka, paling agung tanda kemulyaannya.
Panutanku bin Isa yang tersebut (namanya) dilautan maupun di daratan.
Ialah al Amudy yang kesohor, hingga orang barat yang kafir
Syekh pemuka Qaidun, di mana umat mengembalikan urusan kepadanya
Dan seluruh keluarga al Amudy pemilik keutamaan dan kebanggaan.
Tuanku al Amudy dengan derajatnya di sisi Allah menolong umat melalui Syai` lillah
Di langit ia memiliki bendera kemulyaan dibagikan kepadanya dari khazanah Allah.
Ia memiliki kedudukan yang tinggi dan terkenal dengan kemasyhuran yang Allah berikan.
Semua penghuni setiap penjuru mengetahuinya dan tunduk kepadanya dengan “syai` lillah”.
Lautan Furat dan Sayhun membanjiri makhluk Allah SWT.
Para pemuka pemilik kemasyhuran semoga Allah senantiasa membimbingnya kepada kebaikan.


Syekh Abdullah Ba Sudan –semoga Allah merahmatinya- berkata :

Seperti al Amudy yang tampak kebahagiaannya di khalayak ramai
Mendapatkan inayah dari Allah semenjak kecilnya
Ia memiliki Hadrah yang bercahaya seperti rembulan.
Di situ terdapat keagungan dipakaikan kepada setiap yang hadir.


Keturunan Keluarga Al Amudy dan Kiprahnya di Beberapa Daerah

Sejak abad ke tujuh Hijriah keluarga masyayekh al Amudy mempuyai kedudukan terhormat dalam masyarakat, memiliki kekuasaan di Hadramaut dan daerah sekitarnya. Adapun cikal bakal dari posisi tersebut adalah kharisma yang tampak pada sosok Syekh Said bin Isa al Amudy, yang berperan sebagai penopang terhadap kedudukan al Faqih al Muqaddam. Dari aspek kerohanian dan sosial keagamaan ini, tersebarlah ajaran kesufian yang istimewa, tampak ke permukaan Madrasah Alawiyah, dan tarekat al Amudiyah, yang dipraktekkan di sekolah-sekolah, zawiyah-zawiyah,dan masjid-masjid dengan metode khusus, dan teori yang mudah. Antara lain :
1. Sistem Halaqah dalam pengajaran Mazdhab Syafie dan pembacaan kitab kerohanian.
2. Penyelenggaraan Hadrah, dzikir, dan Maulid Nabi.
3. Perhatian terhadap mujahadatunnafs (penempaan kejiwaan) di sela-sela menjalani tuntutan syariat.
4. Penerapan prinsip barbaik sangka terhadap sesama.
5. Penerapan prinsip berlomba-lomba dalam amal kebaikan dan ketaatan.

Dengan berpedoman pada prinsip di atas dan amal perbuatan yang baik, pengaruh ajaran tarekat al Amudiyah menyebar di setiap komunitas sosial, bahkan sampai terasa juga pada tentara, penguasa, dan kedzaliman. Keistimewaan dari prinsip ini juga kemampuan para Syekh tarekat ini menerapkan gemblengan kejiwaan kepada kabilah-kabilah di Hadramaut, di mana hal tersebut merupakan kontribusi dalam menjaga keamanan para musafir dari perampokan. Pembangunan dan rehabilitasi tempat berlindung yang aman dari segala tindak kriminal terhadap penghuninya walaupun dari musuh bebuyutannya. Hal ini berpengaruh terhadap aktivitas pasar dan perdagangan serta penyediaan kebutuhan masyarakat tanpa dihantui rasa takut.

Syekh Said juga melakukan baiat terhadap kabilah dari satu sisi, dan terhadap penguasa di sisi yang lain. Karena di situ terletak kemaslahatan rakyat, seperti keamanan jalan, penyelesaian silang sengketa, dan pengamanan harta milik, prinsip kerohanian ini telah berjalan di beberapa tempat di Yaman. Hal itu juga mempermudah transportasi para musafir, ulama, dan para da`i dalam berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa dihantui rasa takut dan khawatir. Bahkan keluarga al Amudy di Dauan, Hajr, al Awaliq, dan daerah lain yang pernah disinggahinya memperoleh kedudukan sosial yang gemilang, menyebarkan ilmu, dan menjaga keamanan seperti saudara-saudaranya dalam tarekat Sadah Bani Alawi, maqam dan martabat ini diteruskan generasi selanjutnya hingga zaman modern ini, di mana negara ikut serta dalam perjanjian keamanan (internasional), dari sini, mulailah kemunduran dalam mempertahankan maqam dan martabat di atas sedikit demi sedikit mulai pudar.

Penutup

Kelalaian kita terhadap sejarah, dan menggantikannya dengan penyucian kepada kemajuan yang ada, tanpa memperhatikan bentuk dan substansinya, menyeret kita pada jurang kehinaan, dan menjadikan kita – umat pemilik sejarah dan keturunan dari orang berilmu dan pemilik keutamaan – bagaikan boneka tertidur di pentas panggung. Berbuat untuk kemaslahatan para pendengki terhadap keturunan yang baik ini. Kita merelakan mata kita tertembus arang, yang pengaruhnya sampai ke hati. Generasi ini berbalik arah dari melestarikan budaya hidup pendahulunya yang shaleh dan bertakwa menuju pengkritisan dan pencemaran kehormatannya. Kebanyakan dari mereka tidak menyadari, untuk kemaslahatan siapa tindakannya itu, tidak dapat membedakan antara kebenaran terselubung dan kenyataan menyesatkan, akan tetapi sampai kapan keadaan ini berlanjut wahai umat manusia? Kapankah kita akan tahu siapa sebenarnya investor (pemilik profit/keuntungan) yang berada dibalik pentas kamuflase take and give (barter) ini? Dan kapankah kita dapat memahami permisalan berikut ini : ((Allah marahmati orang yang mengerti akan kadar dirinya)).

Keilmuan Syeh Said bin Isa Al-Amudi


Para ulama membagi ilmu menjadi dua bagian, pertama ilmu kasab kedua ilmu wahbi (laduni). Yang dimaksud ilmu kasab adalah ilmu pengetahuan yang didapatkan oleh seseorang melalui jerih payah dalam menuntut ilmu dan berkumpul dengan para ulama dan masyayeh disamping pengalaman hidupnya.

Adapun ilmu wahby (laduni) adalah merupakan anugerah dari Allah SWT kepada seorang hamba ketika dia mencapai tingkatan dalam mencari ilmu atau seorang hamba yang menyelusuri jalan thoat dan amal shaleh, karena setiap thoat akan menghasilkan buah dan setiap buah tersebut mempunyai dzauq, dan hal yang merusak buahnya thoat adalah maksiat, dan kalau buah itu rusak maka rusak pulalah dzauq tersebut, dan jadilah thoat tersebut bagaikan pohon yang tidak berbuah. Orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam thoat kepada Allah, Allah memberinya buah yang mempunyai macam-macam dzauq dari thoat tersebut, dan dari dzauq itulah mereka menemukan makom iman, maka berkatalah orang-orang tersebut : "yang akan merasakan rasanya iman adalah orang yang ridlo Allah menjadi Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad SAW sebagai Nabinya". Dan barangsiapa yang merasakan rasanya iman maka efek hal tersebut akan terlihat daripada lisannya yang berupa ilmu dan hikmah, dan hal seperti inilah yang akan kita bahas tentang keilmuan Syeh Said

Syeh Said, sebagaimana disebutkan dalam buku-buku sejarah adalah orang ummi (tidak bisa membaca dan menulis), dan sifat tersebut merupakan suatu kelemahan bagi seorang manusia kecuali sifat umminya Rasul SAW, maka hal itu merupakan suatu kelebihan Rasul SAW. Tetapi kalau kita pelajari secara teliti "ummi"nya Syeh Said ini bukan seperti yang difahami banyak orang, dan mereka yang mengartikan ummi pada diri Syeh Said dengan kebodohan adalah suatu yang berlebihan. Hal tersebut karena kehidupan Syeh Said tidak terlepas dari belajar dan mengajar dan kampung Gidun, tempat tinggal beliau adalah tempatnya ilmu dan ulama, tetapi memang keseharian beliau tidak disibukan dengan belajar seperti halnya seorang pelajar, beliau hanya sering mendengar pengajian dan berkumpul dengan para ulama dan pada hakikatnya itupun merupakan salah satu cara mencari ilmu, bahkan dikisahkan di Hadhramaut ada orang yang hafal qur'an dengan tidak sengaja menghafalnya, tetapi karena banyak mendengar bacaan Al-qur'an dan seringnya hadir dalam halaqoh qur'an serta membacanya, dan hal seperti itu bukanlah suatu yang mustahil.

Kalau dilihat dari kebiasaan orang banyak, Syeh Said bisa digolongkan dalam golongan orang "ummi" karena beliau tidak belajar sebagaimana halnya seorang pelajar dimasa itu, pada hakikatnya beliau tahu akan segala hal yang wajib diketahui dalam agama, tetapi beliau memilih "khumul" dan uzlah serta menjauhi dunia intelektual. Namun dibalik semua itu, beliau terus belajar dan menimba ilmu pengetahuan sehingga makin bertambahlah nurnya, dan pada ahirnya nur itupun semakin jelas pada diri Syeh Said ketika beliau memilih jalan tasawuf hingga kemudian menjadi imam dan syeh serta murobbi yang lisannya selalu mengekspresikan dzauk dan hikmah dan selalu membimbing para muridnya kepada ilmu dan amal, silahkan teliti perkataan beliau : "Seorang Syeh tidak dianggap mempunyai keutamaan kalau dia ingin dipuji atas apa jasa-jasanya kepada para murid, sesungguhnya para murid itu seakan-akan anaknya sendiri, maka seseorang yang melakukan hal seperti itu tidak berhak untuk dipuji". Beliau juga berkata : "Janganlah sesekali kamu menemani orang yang sakit walaupun dia ditawari menumpang bersamanya".

Dan tentang hal berkah ilmu dan amal beliau berkata :"Buah itu banyak, tapi yang dipanen sedikit". Ketika beliau ditanya tentang syarat seorang syeh murobbi, beliau menjawab : "Seorang syeh hendaknya 1.berwawasan luas 2.mempunyai nama baik 3.tidak gemar berselisih 4.menerima kritikan 5.sangat pemaaf 6.berilmu tinggi 7.rendah diri 8.tertawanya adalah senyum 9.pertanyaannya adalah suatu pelajaran 10.selalu mengingatkan yang lupa 11.mengajari orang bodoh 12.tidak merasa senang atas musibah yang menimpa orang lain 13.tidak meremehkan orang yang tidak mengenal dirinya 14.menerima orang yang datang kepadanya dengan gembira 15.akrab kepada orang asing 16.senang membantu kesusahan muslimin 17.sebagai bapak anak yatim 18.penolong orang lemah dan miskin 19.kesedihannya tersimpan dihatinya 20.gembira atas Tuhannya 21.menjauhi ahli dunia 22.tidak pelit dan tidak tergesa-gesa 23.tidak tertawa atas kemenangan yang diraih 24.tidak membenci orang yang menyakitinya bahkan dia mengampuni dan memaafkannya 25.tidak melakukan sesuatu yang tidak penting 26.kalau dicaci tidak membalas cacian 27.tidak menolak permintaan 28.kalau permintaannya ditolak tidak marah 29.lebih lembut daripada busa ombak 30.lebih manis dari madu 31.dekat dengan kebajikan dan ahli kebajikan 32.jauh dari kemunkaran 33.marahnya didasarkan keadilannya.

Beliau juga berkata :"Seseorang tidak menjadi Syeh kecuali mengetahui Usuluddin dan furu'nya, Usuluddin ada 7 adapun furu'nya 70.

Ketika Syeh Ahmad bin Abilja'di bertanya kepada Syeh Said Al-Amudi tentang toriqoh tasawuf beliau menjawab : "toriqoh tasawuf adalah toriqoh muhaqiqin dan toriqoh mujatahidin, yang dimaksud toriqoh muhaqiqin adalah menjauhi makhluq, memutuskan hubungan selain dengan Allah, dan bersungguh-sungguh dalam mengabi kepada sang pencipta, adapun toriqoh mujtahidin adalah : menjalankan puasa, shalat dan meninggalkan perbuatan dosa". Beliau juga berkata ketika ditanya oleh Syeh bin Abilja'di tentang faqir yang sabar ? orang yang dirundung cobaan, khusuk, terpelihara harga dirinya, berselimutkan rasa malu, merasa selalu diperhatikan oleh Allah, bertongkatkan tawakkal, beralas kaki shabar, qonaah, memili ilmu pengetahuan apabila dia sampai kepada ma'rifat maka sampailah di pintu Almalik alquddus, apabila sudah sampai disitu maka dia akan dianugerahi sifat yang aneh sebagai tanda, apabila sudah seperti itu maka kepribadiannya lebih halus dari air, lebih tinggi daripada langit, semangatnya lebih tajam daripada pedang, pembicaraanya jauh dari kebohongan, dia seumpama lautan airnya dipakai mandi, ikannya dijadikan santapan, orang yang masuk kepadanya merasa tenang, kalau dia berkata maka perkataannya itu dan membenarkan apa yang dikatakan kepadanya, rido dan merasa cukup atas rizqi yang diterima dari Allah SWT, tidak berbuat dzalim kepada sesama hamba Allah SWT, kalau dia dizalimi maka dia sabar dan memaafkannya, merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah SWT dan merekalah orang-orang yang berbahagia.

Peninggalan Syeh Said Al-Amudi

Syeh Said Al-Amudi meninggalkan pengaruh ilmiah yang luas di Hadhramaut, kota-kota lain di Yaman, Negara-Negara Afrika Timur, Indonesia dan banyak lagi, pengaruh masyayeh dari keluarga Al-Amudi terlihat sangat dominan sekali di beberapa daerah di Hadhramaut.

Salah satu contoh atas hal tersebut adalah pengaruh keluarga Al-Amudi di Wadi Dauan dari semasa hidupnya Syeh Al-Amudi hingga anak cucunya mereka mempunyai pengaruh yang sangat kuat sekali, hal yang menjadikan mereka menjadikan mereka mempunyai kekuasaan baik dalam hal duniawi ataupun agama. Selain itu di Wadi Hajr dan sekitarnya Syeh Al-Amudi memiliki peninggalan yang banyak sekali, peninggalan yang paling penting adalah berupa masjid, hamper semua majisd yang berada dipelosok Wadi Hajer dinisbatkan kepada Syeh Al-Amudi atau anak cucunya, selain itu Syeh Said Al-Amudi mempunyai sedekah yang masih berlangsung hingga beberapa tahun silam, sodaqoh yang telah berlangsung semenjak ratusan tahun silam itu bermula ketika penduduk setempat mengadu kepada Syeh Said atas gangguan jin terhadap kurma dan palawija mereka, maka Syeh Al-Amudi meminta kepada Allah SWT agar tanaman mereka dijaga dari gangguan, dan imbalannya para petani harus memberikan sodaqoh atas hasil panennya kepada fakir miskin, hal tersebut terus berlangsung dan menjadi adat penduduk setempat hingga terjadi perubahan dalam tatanan kehidupan sosial menjelang revolusi.

Hal serupa bisa disaksikan di negeri Al-Awalik bagian bawah, banyak masjid disana yang dinisabatkan kepada Syeh Said atau salah satu dari anak cucunya, diantaranya masjid Al-Masani, masjid Lakah, masjid Syeh Said di Ahwar, kesemua mesjid tersebut dinisbatkan kepada Syeh Said Al-Amudi ketika beliau berkunjung ke Ahwar pada abad ke-7 Hijriah. Di kisahkan pada suatu waktu salah satu cucu Syeh Said Al-Amudi berkunjung ke Ahwar dan di negeri tersebut sedang merebak wabah penyakit, maka cucu Syeh Said tersebut memerintahkan kepada warga setempat supaya mengumpulkan anak istrinya dan menyuruh mereka turun ke jalan dan berkeliling sambil mengatakan "
شي لله شي لله شوي لله يالعمودي ", kemudian menyeru mereka agar saling memberikan sedekah semampunya, kemudian hal tersebut menjadi suatu tradisi turun temurun setiap pertengahan bulan Sya'ban, namun sedikit demi sedikit tradisi tersebut tercampur dengan hal-hal yang dilarang agama seperti campur baurnya antara laki-laki dan perempuan dijalanan, oleh sebab itu ketika ayahanda penulis Habib Ali bin Abu Bakar Al-Masyhur berkunjung ke Ahwar pada tahun 1362 H, beliau meminta Sultan Idrus bin Ali Al-Aulaqi untuk menghentikan tradisi tersebut, maka selama kurang lebih dua tahun tradisi tersebut dihentikan, namun tidak lama kemudian wabah yang semula menyerang kembali lagi, maka Habib ali memperbolehkan kembali tradisi tersebut dengan syarat yang turun kejalan hanya anak-anak saja, tradisi tersebut masih terus dilkakukan setiap pertengahan Sya'ban dan dikenal dengan nama "شويللاه ".

Peninggalan Syeh Said di Afrika Timur yang paling menonjol adalah tersebarnya keturunan beliau diwilayah Afrika Timur terutama diwilayah pantai Ahwar seperti daerah Bandar, Masani Hanadz dan lainnya, mereka mempunyai adapt dan tertib ibadah serta makomat seperti halnya yang berlaku di daerah-daerah di Hadhramaut, namun hal tersebut sedikit demi sedikit luntur dengan meninggalnya para masayeh dan pengaruh pendidikan dan zaman kepada generasi berikutnya. Dan dari sebagian anak cucu Al-Amudi ada juga mereka yang keluar dari Hadhramaut dengan tujuan berdagang, mereka pergi ke berbagai Negara seperti Hijaz, Indonesia, Afrika, India dan lainya.

Satu hal yang sangat disayangkan, kebanyakan peninggalan Al-Amudi yang berupa kitab hilang, dan sebagian lagi masih tersimpan digudang-gudang dalam rumah-rumah kuno di Doan, penulis sendiri secara langsung melihat beberapa perpustakaan yang berada di Wadi Doan baik bagian kana ataupun kiri yang telah ditutup beberapa puluh tahun lalu, dan tidak diketahui tentang keadaan kitab-kitab didalamnya. Penulis sangat khawatir warisan Al-Amudi yang sangat berharga tersebut akan hilang karena ditelan waktu ataupun karena para pewarisnya terkan pengaruh pemikiran sekarang, sehingga sebagian dari mereka dengan sengaja memusnahkan peninggalan para leluhurnya tersebut dengan membakaranya.

Wafatnya Syeh Said bin Isa Al-Amudi

Syeh Al-Amudi sepanjang hidupnya penuh dengan pengabdian kepada kemanusiaan, hari-harinya digunakan untuk mengajak manusia kepada jalan Allah SWT, kehidupan sehari-harinya dihiasi dengan ibadah hatinya, dipenuhi dengan kerinduan dan cinta kepada sang khaliq, dihari-hari akhir hayatnya beliau sering mengulang-ulang syairnya Robiah Al-Adawiyah yang berbunyi :

يا قريبا من الفؤاد يا بعيدا عن النظر
أنت عذبت مهجتي أنت كلفتني السهر
هكذا يا معذبي من بلي بالهوى صبر
ليس من يكتم الهوى مثل من باح واشتهر

Yang artinya :
Wahai engkau yang dekat dihati, wahai engkau yang jauh dari pandangan mata.
Engkau siksa jiwaku, Engkau memerintahkanku agar meninggalkan tidur malam.
Begitulah wahai Engkau yang membuatku tersiksa, orang yang sedang jatuh cinta harus sabar
Tidak sama derajatnya orang yang menyembunikan cintanya dengan orang yang berterus terang dan memamerkan cintanya.

Syeh Said bin Isa Al-Amudi dipanggil menghadap sang khaliq pada tahun 671 H, dan dimakamkan di Gidun, makamnya samapai sekarang masih terpelihara begitu pula masjidnya.
Hubungan Bani Alawi dengan Al-Amudi sepeninggal Syeh Said

Setelah meninggalnya kedua tokoh sufi yang melambangkan hubungan erat kedua keluarga besar Bani Alawi dan Al-Amudi, generasi kedua keluarga besar tersebut tetap menjaga hubungan harmonis yang telah dijalin oleh pendahulu mereka Al-Faqih Al-Muqoddam, hal tersebut tercermin dari silaturrahmi para keturunan Bani Alawi ke Gidun dalam rangka menyebarkan ilmu serta ziarah ke Syeh Said, dan diantara saksi hubungan harmonis antar Bani Alawi dan masayeh Al-Amudi perkataan Syeh Abdurrahman bin Ali bin Abi Bakar :"Syeh Said telah disirami rahmat ditempat Nabi Hud, dan kemudian dijuluki "al-amud" (tiang).
Dan ketika Sayid Jakfar bin Ahmad bin Zen Al-Habsy mengunjungi Gidun dan ziarah makam Syeh Said beliau mengumandangkan sebuah syair, diantara bait sayair tersebut adalah :

فإذا مابدت لك أعلام واد يدع قيدون فأنخ بفناها
زر لعالي العلى سعيد بن عيسى فهناك القلوب تعطى مناها
الإمام الهمام من قد تسامى في ذرى المجد وارتقى لعلاها
فيه مخزون سرنا آل علوي أخبرتنا بذا الثقات شفاها

Dalam akhir kitab ini penulis akan mengakhiri dengan petikan bait syair Syeh Said bin Salim As-Syawwaf tentang Syeh Said Al-Amudi dalam Qosidahnya yang berjudul "Qissotul Asal fi Madhi Ahlillah Azza Wajal".

فأولهم السيد الهول بالحال أيضا وبالقول
ماله مثل في السادات آياته أعظم آيات
سيدي بن عيسى يذكر في البحر أيضا والبر
ذاك العمودي المشهار حتى الفرنج الكفار
الشيخ مولى قيدون للخلق مره يردن
وآل العمودي مره وأهل العلا والفخره
سيدي العمودي بالطول غوث الملا شي لله
له في السما رايات يفرق لها املاك الله
له شأن عالي يشهر مشهور شاهره الله
يعرفه من في الأقطار تخضع له شي لله
بحر الفرات وسيحون فائض على خلق الله
سادة من أهل الشهرة أصلحهم الرب الله

Hal serupa diungkapkan pula oleh Syeh Abdullah Basudan dalam syairnya :

كالعمودي الذي غدا سعده فس الملا بدر
لاحظته عناية اللــ ـه في حالة الصغر
و ترقى إلى العلا لمقام به افتخر
و له حضرة بها نوره ضاء كالقمر
وعليها جلالة تلبس الحال من حضر

Keluarga Al-Amudi dan Penyebarannya

Sejak abad ke-7 Hijriah, keluarga besar Al-Amudi mempunyai posisi social dan kekuasaan yang kuat di Wadi Doan dan sekitarnya, adapun sebab dari semua itu adalah kedudukan dan karismatik Syeh Said yang juga sebagai pendukung juga penopang dalam segala keputusan yang diambil oleh Faqih Muqoddam, dengan karismatik dan posisi sosial Syeh Said inilah tersebarlah manhaj tsawuf serta madrasah alawiyah dan toriqoh Al-Amudiah disemua madrasah, zawiyah serta masjid dengan metodenya yang khas serta medianya yang tidak asing lagi, diantaranya :
1- Sistim halaqoh dalam mempelajari madzhab syafi'I dan membaca kitab-kitab "adz-zauq".
2- Membaca dzikir dan maulid
3- Mujahadah terhadap jiwa dengan melaksanakan perintah-perintah Syara'
4- Membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran dengan tata krama dan akhlak serta sifat tawadlu'.
5- Berprasangka baik dengan semua orang
6- Berlomba-lomba dalam ketaatan dan kebaikan.

Dengan metode dan amalan inilah tersebarlah toriqoh tasawuf kepada seluruh lapisan masyarakat, dari bawah hingga para pembesar, dan dengan metode inipula para masayeh bisa masuk dan diterima ditengah-tengah para kabilah arab sehingga berkat karismatiknya para masayeh terciptalah keamanan para pengembara dari pencopet dan perampok, selain itu pengaruh ini juga mendukung pergerakan pasar serta perkembangan perdagangan dan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.

Disamping itu para masayeh juga mengambil janji dari para kabilah dan dari para pembesar di pemerintahan untuk dengan bersama menjaga kemaslahatan umum, seperti menjaga kemanan jalan, menuntaskan pertikaian serta menjaga harta benda. Demikianlah tersebar undang-undang rohani tersebut diseluruk penjuru Yaman, hingga orang yang bepergian tidak merasa takut, begitu juga para juru dakwah berpindah dari satu kota ke kota linnya dengan tanpa ada rasa takut.

Penutup

Ketidak pedulian kita terhadap sejarah kita sendiri dan mengagung-agungkan akan keadaan sekarang serta mengelu-elukan tokoh dan adat-adatnya, menjadikan kita hina dan rendah, dan yang lebih memprihatinkan kita seakan-akan boneka yang menjadi bulan-bulanan dan melakukan bisikan orang-orang yang benci kepada generasi yang baik, kitapun diam saja ketika mata ditaburi debu, sampai debu itupun kahirnya menutupi mata hati kita, dan akhirnya generasi yang tadinya mempunyai perhatian besar terhadap sejarahnya kini berbalik menggugat sejarah tersebut dengan menuduh para pendahulu yang shalih. Padahal kebanyakan dari mereka bahkan tidak tahu untuk kebaikan siapa mereka berbuat hal seperti itu? Dan mereka tidak bisa membedakan antara haq dan batil, entah sampai kapan hal ini terjadi? Sampai kapan kita tahu dalang dibelakang semua ini? Kapankah kita akan memahami kata hikmah yang berbunyi "berbahagialah orang yang mengetahui dirinya sendiri".







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar