Rabu, 28 Januari 2009

Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Imam Ahmad Ra

Al Imam Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir adalah salah satu tokoh legendaris di bumi Hadhramaut, beliaulah yang mengikuti jejak ayahnya berhijrah dari Basrah, Iraq ke Hadhramaut.



Silsilah Keturunan

Silsilah keturunannya adalah Imam Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uaridhy bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Huasin bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Zahra Al-Batul putri Rasulullah SAW.

Riwayat Hidup Imam Imam Ubaidillah bin Ahmad

Imam Imam Imam Ubaidillah dilahirkan di kota Basrah Irak sekitar tahun 295 H. Di kota ini pula ia dibesarkan dan menimba ilmu dari ayahnya. Imam Ubaidillah adalah anak terkecil dari empat bersaudara, yaitu Muhammad, Ali dan Husain. Ketika ayahnya Ahmad bin Isa Hijrah ke Madinah, dialah yang terpilih menemani beliau hijrah.

Imam Ubaidillah tumbuh dalam keluarga dan lingkungan yang penuh dengan ilmu, karena pada waktu itu Basrah termasuk kota pusat ulama dan perdagangan di Irak. Imam Ubaidillah dan saudara-saudaranya hidup dalam asuhan ayah yang begitu memperhatikan pendidikan dan akhlak anak serta cucunya. Kehidupan keluarganya tetap bersahaja walaupun serba kecukupan.

Hijrah Bersama Ayahnya.

Ketika keadaan Basrah semakin tidak menentu, fitnah dan kezaliman terjadi dimana-mana, Imam Ubaidillah membulatkan tekad untuk ikut ayahanda mencari tempat lain untuk tinggal dan membesarkan keturunannya. Tiba saatnya untuk meninggalkan kota kelahiran, Imam Ubaidillah, dengan membawa serta istri dan anaknya, Ismail -yang kemudian dikenal dengan nama Bashri- berangkat hijrah bersama ayahanda dan anak istrinya, serta beberapa pengikut setia ayahandanya. Adapun tempat yang menjadi tujuannya adalah Madinah Al-Munawwarah.

Setibanya di tujuan, hal pertama yang dilakukan oleh Imam Ubaidillah adalah berziarah ke Masjid Nabawy sekaligus ke Makam Rasulullah SAW dan pemakaman Baqi.

Fitnah Qaramitah

Pada tahun yang bersamaan dengan tibanya Imam Ubaidillah di Madinah Al-Muanawwaroh, yaitu tahun 317 H, datanglah Qaramitah ke Makkah Al-Mukarramah dan menyebar fitnah dan kezaliman di mana-mana, sebagaimana yang mereka lakukan di Bashrah. Pada kesempatan itulah Imam Ubaidillah memberikan informasi kepada penduduk setempat tentang kezaliman dan kekejaman Qaramitah di negeri asalnya, Bashrah. Beliau bersyukur sekali bahwa dalam keadaan seperti itu bisa berlindung di kota kediaman kakeknya, Muhammad SAW.

Haji ke Baitullah

Pada tahun berikutnya, rombongan Imam Ahmad bin Isa menunaikan ibadah haji. Pada saat itu, Hajar Aswad masih berada dalam genggaman orang Qaramitah yang membawanya ke Al-Ahsa pada tahun sebelumnya. Karena itu, jamaah haji saat itu tidak bisa mencium atau bahkan memegang hajar aswad. Sebagai gantinya, para jamaah haji mencium tempat asal Hajar Aswad.


Imam Ahmad bin Isa Diminta Hijrah ke Hadhramaut

Pada waktu melaksanakan ibadah haji, Imam Ubaidillah menyaksikan betapa banyak jamaah ahji berasal dari berbagai negara dan bangsa. Mereka berbondong-bondong mendatangi ayahandanya dan meminta doa dari beliau. Bahkan bukan sekedar memohon doa, jamaah haji dari Hadhramaut memohon kepada beliau untuk hijrah dan menetap di sana, agar mereka bisa menimba ilmu dari Imam Ahmad bin Isa. Mereka juga berjanji akan menjadi pengikut dan pembela yang setia pada imam.

Hijrah ke Hadhramaut

Setelah musim haji, rombongan Imam Ahmad bin Isa melanjutkan perjalananya. Negara tujuan kali ini adalah Yaman. Setibanya di Yaman, atas petunjuk dari Imam Ahmad bin Isa, sebagian rombongan menetap di perkampungan yang dilalui oleh rombongan. Imam Muhammad bin Sulaiman Al-Ahdal menetap di daerah Al-Murawa’ah. Sedangkan Syarif Ahmad Al-Qadimi menetap di lembah Surdad. Adapun Imam Ahmad beserta rombongannya terus menelusuri lembah demi lembah, hingga sampai di Hadhramaut.

Adaptasi dengan Lingkungan Baru

Setibanya di Hadhramaut, Imam Ahmad bin Isa memilih kampung Al-Jubail yang berada di wilayah Wadi Do’an sebagai tempat tinggal. Semenjak itulah Imam Ubaidillah harus mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat setempat yang masih primitive. Selain itu, kehidupan beragama yang tidak harmonis antara dua madzhab yang saling berseberangan, yaitu kelompok Madzhab Ahlusunnah Waljamaah dan kelompok bermadzhab Khawarij, merupakan tantangan sendiri bagi Imam Ahmad bin Isa, begitu pula dengan putranya, Imam Ubaidillah. Namun dengan tekun dan sabar, Imam Ahmad dan putranya terus menjalankan dakwahnya hingga kemudian masyarakat berangsur-angsur menerima ajakan beliau untuk kembali ke jalan yang benar, yaitu ajaran Rasulullah SAW.

Imam Ubaidillah Menuntut Ilmu di Haramain

Setelah berusaha dengan penuh ketekunan dan kesabaran, akhirnya hasil yang dituai adalah keberhasilan yang gemilang. Dakwah yang dilakukan dengan penuh kesabaran dengan bantuan sang putra yang begitu setia membantu perjuangan ayahanda demi terciptanya masyarakat muslim yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, kini telah membuahkan hasil yang gemilang. Di tempat tinggalnya yang baru di kampung Al-Husayyisah, Imam Ahmad bin Isa telah membangun pusat dakwah yang menjadi tempat belajar agama untuk penduduk setempat serta orang-orang yang datang dari daerah lain.

Melihat keadaan seperti itu, Imam Ahmad bin Isa mengutus putranya, Imam Ubaidillah menimba ilmu dari para ulama di Makkah dan Madinah.

Di antara gurunya yang paling terkenal adalah Syeikh Abu Thalib al-Makky bin Muhammad bin Ali bin Athiyah Al-Haritsy Al-Makky pengarang kitab Qutul Qulub yang meninggal tahun 386 H.


Imam Ubaidillah Kembali ke Hadhramaut

Setelah bertahun-tahun menuntut ilmu dari para ulama Makkah dan Madinah, Imam Ubaidillah kembali ke Hadhramaut dengan membawa segudang ilmu dan pengetahuan. Setibanya di Hadhramaut, yang disambut hangat oleh sang ayah dan para pelajar di sana, Imam Ubaidillah langsung diberi izin oleh ayahnya, Imam Ahmad bin Isa untuk mengajar dan memberikan fatwa kepada pelajar dan masyarakat setempat.


Imam Ahmad bin Isa Meninggal Dunia

Tidak berselang lama dari kedatangan Imam Ubaidillah, Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir pergi menghadap Sang Khaliq. Sepeninggal Imam Ahmad, Imam Ubaidillah yang mewarisi ilmu dan akhlak mulia ayahandanya menjadi pengganti dalam mengisi majlis taklim serta memberikan fatwa pada masyarakat setempat.

Pindah ke Kampung Sumal

Tidak lama setelah ayahandanya meninggal, Imam Ubaidillah memutuskan untuk pindah ke kampung Sumal yang terletak tidak jauh dari kampung semula, Al-Husayisah. Sedangkan harta kekayaan berupa rumah dan perkebunan, semuanya dihibahkan pada pembantunya, Ja’far bin Makhdam. Di kampong barunya, Imam Ubaidillah membangun rumah dan membeli beberapa petak tanah yang kemudian dia tanami pohon kurma dan pepohonan lainya.

Setelah Imam Ubaidillah menetap di kampung Sumal, ia mempersunting gadis setempat. Kemudian ia dikarunia putra dari istri barunya yang diberi nama Jadid. Sebelum Jadid, Imam Ubaidillah juga telah dikarunia dua putra dari istri pertamanya yang diberi nama Alawi.

Berdakwah di Kampung Sumal

Sebagai seorang alim pewaris Nabi SAW, Imam Ubaidillah terus berjuang menyebarkan dakwah dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Sehingga di tempat tinggal barunya ini, banyak pelajar berdatangan menuntut ilmu padanya. Namun kesibukannya dalam berdakwah tidak menghalami Imam Ubaidillah untuk berkarya di bidang pertanian. Selain sebagai orang alim yang berakhlak mulia, ia juga petani yang gigih dan dermawan. Karena hasil pertanian yang beliau dapatkan tidak untuk dimakan sendiri ataupun ditumpuk. Tapi harta yang ia dapatkan diinfakannya pada para fakir miskin, janda dan anak yatim. Juga para pelajar yang datang dari luar kampung Sumal.

Dengan kedudukan yang tinggi dan harta banda yang cukup membaut sang alim ini semakin tawadu dan bersahaja. Iapun lebih senang dipanggil Ubaidillah, karena Ubaidillah merupakan tashgir (bentuk kecil) dari Abdullah.

Imam Ubaidillah Meninggal Dunia

Setelah sekian lama Imam Ubaidillah meneruskan jejak ayahandanya menyebar islamiah, hingga tercipta generasi baru di Hadhramaut dan kehidupan beragama yang harmonis di bawah naungan Alul Bait (keturunan Rasulullah SAW). Selain itu, masyarakat Hadhramaut yang tadinya terpecah-belah, bersatu dalam satu payung Ahlussunnah wal Jamaah. Tibalah waktunya bagi sang alim dan dermawan ini menghadap sang Khalik.

Imam Ubaidillah meninggal dunia pada tahun 383 H, dalam usia 93 tahun. Ia wafat meninggalkan istri dan 3 orang putra yaitu Ismail (Bashri), Alawi dan Jadid. Di samping pula para ulama yang tersebar di Yaman yang telah menimba ilmu darinya.

Silsilah Keturunan Putra Ubaidillah

Putra Imam Ubaidillah adalah Bashri, Alawi dan Jadid bin Imam Ubaidillah bin Ahmad Al-Muahjir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Huasin bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Zahra Al-Batul putri Rasulullah SAW.

Riwayat Hidup Imam Bashri bin Imam Ubaidillah

Imam Bashri bin Imam Ubaidillah lahir di kota Bashrah Irak pada tahun 305 H. Waktu menginjak usia 12 tahun, dia ikut hijrah bersama kakek dan ayahnya ke Madinah dan kemudian ke Hadhramaut. Sebagai cucu dari seorang kakek yang alim dan penuh perhatian atas masa depan anak cucunya, Imam Bashri mendapat gembelengan langsung dari sang kakek dan ayahnya, baik dari segi keilmuan ataupun akhlak. Hasilnya, dalam usia yang masih terbilang muda, Imam Bashri sudah mumpuni dalam segala bidang ilmu, terutama ilmu hadits. Bahkan dalam usia yang masih belia, Imam Bashri sudah ikut andil dalam menyebarkan ilmu syariah kepada para pelajar yang ada dalam asuhan kakek dan ayahnya. Sepeninggal ayahnya, dialah yang menggantikan kedudukan ayahnya dalam meneruskan dakwah.

Imam Bashri Meninggal dunia

Setelah sekian lama menyebarkan dakwah dengan begitu tekun dan sabar, Imam Bashri dipanggil menghadap Sang Khalik.
Imam Bashri wafat setelah berhasil membentuk satu generasi muslim mumpuni dalam ilmu serta ahklak. Selain itu, ia meninggalkan keturunan yang terkenal sebagai ahli ilmu dan berakhlak mulia. Di antara putranya yang terkenal dengan kesalihan dan ilmunya adalah Salim bin Imam Bashri. Imam Bashri dimakamkan di kampung Sumal dan makamnya sampai sekarang masih ramai diziarahi.

Riwayat Hidup Imam Salim bin Imam Bashri

Para ahli sejarah dalam kitabnya menyebutkan, Imam Salim bin Bashri telah mencapai derajat mujtahid. Adapun guru yang paling berpengaruh padanya adalah ayahandanya sendiri, Imam Bashri. Bahkan para ahli sejarah mengatakan, Imam Salim bin Bashri adalah ‘jelmaan’ dari Imam Bashri, ayahandanya. Selain berguru pada ayahandanya, Imam Salim juga menimba ilmu dari para ulama yang mumpuni di zamannya. Di antara gurunya adalah Syekh Al-Allamah Salim bin Abi Fadhal.

Menimba Ilmu di Haramain

Selain menimba ilmu dari ayahandanya dan para ulama Hadhramaut, Imam salim merantau ke Makkah dan Madinah untuk menimba ilmu dari para ulama di negeri tersebut. Bahkan dalam perjalanannya menuju Makkah, Imam Salim tidak menyia-nyiakan waktunya. Setiap melewati perkampungan, ia menyempatkan diri belajar pada para ulama di kampung tersebut.

Kembali ke Hadhramaut

Setelah sekian lama menimba ilmu dari ulama di Haramain, mendapatkan ijazah dari para ulama di sana, dan sanad tinggi, serta para ulama di sana telah memberi izin padanya untuk berfatwa, kembalilah Imam Salim ke tanah kelahirannya. Sesampainya di Hadhramaut, Imam Salim disambut gembira oleh keluarga dan para ulama di Hadhramut. Kedatangannya dari Haramain tidak disia-siakan para pelajar dan ulama, terutama para ulama Kota Tarim yang merupakan sumber ulama dan pelajar. Di antara ulama Tarim yang mengambil sanad dari Imam Salim adalah Syeikh Muhammad bin Abil Hubb, Syeikh Ali bin Ahmad Bamarwan, Syeikh Al-Qadli Ahmad Ba Isa, Syeikh Ali bin Muhammad Al-Khatib, dan Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali.

Kisah Imam Salim bin Imam Bashri dengan Sultan

Kota Tarim semenjak dulu dikenal dengan kota ulama dan kota wali. Bahkan menurut sejarah, pada 6 Hijriah, jumlah ulama Tarim yang mencapai derajat Mufti berjumlah 300 orang. Tapi dari kesekian banyak ulama di kota tersebut, semuanya sepakat bahwa Imam Salim lah yang paling unggul dari semua ulama di kota itu.

Alkisah, pada suatu kesempatan, Sultan Tarim mengumpulkan semua ulama dan meminta mereka untuk menunjuk siapa dari mereka yang paling utama. Para ulama sepakat menunjuk Imam Salim bin Bashri sebagai orang yang paling mumpuni di antara semua ulama. Mendengar pengakuan para ulama tentang keutamaan Imam Salim bin Bashri, timbul niat raja untuk mengujinya. Untuk menguji Imam Salim bin Bashri, Sultan memanggil seorang perempuan yang terkenal mempunyai putri yang elok. Ia lalu memerintahkan perempuan tersebut untuk mendandani putrinya guna menggoda Imam Salim. Untuk pekerjaan itu, sultan memberi imbalan banyak pada perempuan tersebut.

Hingga pada suatu hari, ketika Imam Salim dalam perjalanan pulang dari ziarah kubur yang biasa dilakukannya tiap hari, wanita tadi memohon kepada Imam Salim untuk sudi mengobati putrinya yang sedang (pura-pura) sakit. Imam Salim pun memenuhi permintaan wanita tersebut dan mengikutinya, hingga ia tiba di rumahnya. Setelah Imam Salim masuk kedalam rumah, yang didapati Imam Salim bukan orang sakit. Tapi seorang gadis yang cantik dengan dandanan yang begitu memukau.

Seketika itu pula ibu sang gadis mengunci rumahnya dari luar dan sang gadis mendekati Imam Salim seraya menggodanya. Merasa dirinya dijebak, Imam Salim pun marah dan memukul gadis tersebut dengan sandalnya. Seketika gadis itupun menjerit histeris karena dari bekas pukulan sandal Imam Salim tadi timbul kusta. Setelah menyaksikan kejadian yang menimpa putrinya, wanita itu langsung melaporkan apa yang dilihatnya kepada sultan. Mendengar cerita tersebut, Sultan langsung mendatangi rumah wanita itu untuk melihat secara langsung apa yang terjadi.

Setelah melihat dengan mata kepalanya, sultan akhirnya mengakui keagungan Imam Salim dan mengutus utusan untuk meminta maaf. Juga memohon pada Imam Salim agar memaafkan kelakuan gadis tersebut dan ibunya yang telah lancang dan berbuat tidak senonoh padanya. Utusan itu sekaligus memohon agar Imam Salim sudi mendoakan gadis tersebut agar disembuhkan dari penyakit kustanya. Imam Salim pun menerima permohonan maaf sultan dan memaafkan gadis serta ibunya serta mendoakan gadis tersebut agar disembuhkan. Setelah didoakan, seketika penyakit kusta yang diderita gadis itu hilang tanpa bekas.

Imam Salim bin Imam Bashri Meninggal Dunia

Setelah sekian lama mengabdi pada masyarakat dan agama dalam meneruskan dakwah yang dirintis kakeknya, Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir, Imam Salim akhirnya dipanggil menghadap sang Khalik. Tentang wafatnya Imam Salim, para ahli sejarah berbeda pendapat, ada yang mengatakan Imam Salim meninggal dunia dibunuh seseorang. Tetapi Habib Muhammad bin Ahmad As-Syatiri dalam kitabnya Al-Adwar menegaskan, Imam Salim bin Bashri meninggal dunia secara biasa pada tahun 604 H dan dimakamkan di pemakaman Zambal Tarim.

Imam Jadid bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir

Imam Jadid adalah putra bungsu Imam Ubaidillah dari istri keduanya setelah pindah ke kampung Sumal, sepeninggal Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir tahun 345 Hijriah. Semenjak kecil, Imam Jadid hidup dalam bimbingan ayah dan kedua kakaknya yang begitu memperhatikannya. Karena itu dalam usia yang masih belia, ia sudah hafal Al-Qur’an dan sudah mempelajari dasar-dasar ilmu syariah dan bahasa Arab. Bahkan di antara teman-teman sebayanya, Imam Jadid dikenal yang paling pandai dan cerdas. Di samping kepandaian dan kecerdasan, Imam Jadid bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu dari para ulama, seiring dengan kata-kata syair, “Jangan kamu kira bahwa kemuliaan itu adalah buah kurma yang kamu makan. Kamu tidak akan mencapai kemuliaan sebelum melalui kepedihan.”

Pergi ke Tanah Suci dan Bashrah

Kisah kepergian Imam Jadid ke Tanah Suci Makkah dan kemudian ke Bashrah dipaparkan dalam kitab Al-Jauhar Asy-Syafaaf. Ketika Imam Ubaidillah, ayahanda Imam Jadid, menganggap para putranya cukup dewasa dan mumpuni dalam ilmu syariah, ia memberi izin pada kedua putranya, Imam Alawi dan Imam Jadid, untuk pergi ke Tanah Suci Makkah guna menunaikan ibadah haji, mengambil hasil panen dan ziarah kepada sanak kerabat yang berdomisili di Makkah. Setelah ibadah haji, Imam Jadid melanjutkan perjalanannya ke Bashrah sesuai perintah ayahandanya untuk menyambung silaturahim dengan para kerabat di Bashrah.
Dalam perjalanan pulang yang melewati Pantai Teluk, kemudian Ahsa, Quthaif, Oman dan kemudian Dzafar, Imam Jadid tidak menyia-nyiakan waktunya untuk menimba ilmu dari setiap ulama yang ia temui di setiap daerah. Tentang kealiman dan keluasan ilmu pengetahuannya, seorang ahli sejarah Abdullah bin Nuh dalam bab akhir kitab al-Imam Al-Muhajir mengatakan, “Setelah kewafatan ayahandanya, Imam Ubaidillah, tahun 383 H, Imam Jadid memilih pindah ke kampung Bait Jubair yang terletak tidak jauh dari kota sejarah Tarim. Di kampung barunya, ia bukan saja dikenal sebagai seorang alim, tapi juga giat dalam bertani dan membimbing masyarakat setempat dalam meningkatkan hasil produksi mereka, baik dalam pertanian atau peternakan. Sehingga hal itu bisa memenuhi kebutuhan mereka tanpa bergantung kepada pasokan dari luar. Hasil dari jerih payah Imam Jadid membuahkan hasil yang begitu memuaskan. Berkat kegigihannya dalam membina masyarakat, baik dalam keagamaan ataupun dalam hal duniawi, terciptalah suatu kampung yang subur dan mandiri.
“Setelah menetap di kampung Bait Jubair, Imam Jadid dikaruniai Allah SWT keturunan yang kemudian terkenal dengan ilmu dan ketakwaanya. Namun menurut para pakar sejarah, keturunan Imam Jadid pupus pada abad ke-7, sebagaimana terjadi dengan keturunan Imam Bashri.”

Keturunan Imam Jadid

Walaupun dikatakan keturunan Imam Jadid punah pada pertengahan abad ke-7 H, namun sebagian ahli sejarah menyebutkan beberapa orang keturunan Imam Jadid, di antaranya:
1. Nurudin Ali bin Muhammad bin Jadid.
2. Abdullah bin Muhammad bin Jadid.
3. Abdul Malik bin Muhammad bin Jadid.

Riwayat Hidup Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir

Imam Alawi bin Ubaidillah adalah datuk ahlul bait di Hadhramaut. Karena sebagaimana disebutkan sebelumnya, kedua saudaranya, Imam Bashri dan Imam Jadid, keturunannya pupus pada awal abad ke-7 H.

Imam Alawi lahir di Desa Al-Husaysihah. Sebagian ahli sejarah mengatakan, ia dilahirkan di Kota Sumal. Ia merupakan orang pertama kali yang dinamai Alawi. Kepadanya pula kembali silsilah keturunan bani Alawi di seluruh dunia.

Imam Alawi besar dalam lingkungan keluarga ilmu dan takwa. Ia tumbuh dalam asuhan ayahandanya, Imam Ubaidillah, serta bimbingan kakaknya, Imam Bashri. Suatu hal lumrah bila dalam usia masih belia, ia sudah mumpuni dalam segala bidang ilmu syariah.

Menuntut Ilmu di Haramain

Ketika usianya menginjak dewasa, Imam Alawi atas izin dari ayahandanya pergi merantau ke Haramain untuk menimba ilmu dari para ulama di sana.
Setelah beberapa tahun menimba ilmu pengetahuan dari para ulama terkemuka di Tanah Suci Makkah dan Madinah, Imam Alawi pulang ke Hadhramaut membawa segudang ilmu pengetahuan.

Kehadiran Imam Alawi di tanah kelahiranya setelah sekian lama menimba ilmu di Tanah Suci Makkah dan Madinah menambah semarak dunia pendidikan dan dakwah di Hadhramaut. Hingga berbondong-bondonglah para pelajar dari berbagai daerah, berdatangan menimba ilmu dari Imam Alawi yang pandai dan mumpuni.

Selain masyhur dengan keilmuannya, Imam Alawi –sebagaimana keturunan Imam Al-Muhajir lainnya- terkenal dengan segala sifat terpuji, disamping kemurahan hati dan kedermawanannya terhadap kaum miskin dan lemah. Bahkan ia gemar sekali membagikan sedekah langsung pada orang yang membutuhkannya dan menghibur mereka.

Diceritakan sebagian pakar sejarah, pada suatu saat beliau menunaikan Ibadah Haji dan mengajak serta sebanyak 80 orang selain dari keluarganya. Semua biaya dan perbekalan ditanggung dia.
Ditengah-tengah kesibukannya menyiarkan dakwah, ia tidak melupakan urusan duniawi. Imam Alawi membagi waktunya untuk mengajar dan berdakwah, mendidik para putranya dan mencari rejeki halal.

Pindah ke Bait Jubair

Imam Alawi beserta keluarganya pindah dari kampung kelahirannya, Sumal, ke kampung Bait Jubair. Setelah sebelumnya Imam Jadid, kakaknya, terlebih dulu pindah ke sana. Di kampung barunya, ia aktif mengajar dan menyebarkan dakwah. Dalam mengajar murid-muridnya, ia mengharuskan mereka menghapal hadits, serta memperdalami ilmu fiqih dan tafsir. Terkadang ia mengajak murid-muridnya ke lokasi perkebunannya karena ia senang berada di tempat-tempat hijau dan sejuk.

Imam Alawi Meninggal Dunia

Tidak ada satupun pakar sejarah yang menyebutkan secara pasti kapan meninggalnya Imam Alawi. Adapun keturunannya, sebagaimana disebutkan dalam beberapa kitab sejarah adalah, putranya, Muhammad bin Alawi, dan cucunya, Alawi bin Muhammad bin Alawi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar