Sabtu, 31 Januari 2009

Kalam Habaib

Habib ‘Abdullah bin ‘Alwi Al-Haddad

Memilih Yang Terbaik; Meninggalkan Yang Terburuk

DI ZAMAN INI kita harus berhati-hati, sebab zaman ini adalah zaman syubhat. Para ulama menyatakan, tidak sepatutnya seorang yang berilmu bingung membedakan yang baik dan buruk. Sebab, kebaikan dan keburukan adalah dua hal yang sangat jelas, setiap orang dapat membedakannya.

Seorang berilmu ketika harus memilih satu di antara dua kebaikan atau dua keburukan, maka dia akan memilih kebaikan yang terbaik dan meninggalkan keburukan yang terburuk. Sebagai contoh, jika ada seseorang ingin melukaimu dengan tongkat atau pisau, dan kau tidak dapat menghindarinya, maka terluka oleh tongkat lebih ringan. Atau ada seseorang tidak mampu berjalan, sedangkan kau mampu. Jika kau turun dari hewan tungganganmu dan menyuruhnya naik, maka itu lebih baik daripada engkau boncengkan dia[1], meskipun kedua duanya baik.

Beginilah keadaan kami di zaman ini. Memilih yang terbaik dari dua kebaikan dan meninggalkan yang terburuk dari dua keburukan merupakan salah satu kaidah agama yang disampaikan oleh para salaf seperti Imam Mâlik Bin Anas dan ulama lainnya. Semoga Allâh meridhai mereka semua.

Barang siapa tidak mengetahui kaidah ini, maka dia adalah seorang yang bodoh. Jika dia tidak mengetahui kaidah ini dan memandang dirinya sebagai seorang yang berilmu, maka dia adalah seorang yang teramat bodoh. Dia seperti seorang kikir yang merasa dirinya sebagai seorang dermawan. Orang seperti ini adalah orang yang teramat kikir.

Jangan Remehkan Amal

BERAMALLAH sebanyak mungkin, dan pilihlah amal yang dapat kamu kerjakan secara berkesinambungan (mudâwamah). Jangan remehkan satu amal pun yang pernah kau kerjakan. Sebab, setelah Imam Ghazâlî wafat, seseorang bermimpi bertemu dengannya dan bertanya, “Bagaimana Allâh memperlakukanmu?”.

“DIA mengampuniku,” jawab Imam Ghazâlî.

“Amal apa yang menyebabkan Allâh mengampunimu?”

“Suatu hari, ketika aku sedang menulis, tiba-tiba seekor lalat hinggap di penaku. Kubiarkan ia minum tinta itu hingga puas.”

Ketahuilah, amal yang bernilai tinggi adalah amal yang dianggap kecil dan dipandang remeh oleh nafsu. Adapun amal yang dipandang mulia dan bernilai oleh nafsu, pahalanya dapat sirna, baik karena pelakunya, amalnya itu sendiri ataupun karena orang lain yang berada di sekitarnya.

Kiat Memilih Teman

PERSAHABATAN, pertemanan dan pergaulan memiliki pengaruh yang sangat kuat untuk membuat seseorang menjadi baik maupun buruk. Persahabatan dan pergaulan dengan orang-orang yang saleh dan berbudi membawa manfaat, sedangkan persahabatan dan pertemanan dengan orang-orang yang fasik dan durhaka membawa bahaya. Hanya saja manfaat persahabatan dengan orang saleh atau bahaya pergaulan dengan pendurhaka tersebut terkadang tidak tampak secara langsung, akan tetapi secara bertahap dan setelah berlangsung lama.

Rasûlullâh saw bersabda:

“Seseorang akan bersama teman duduknya.”

“Seseorang itu akan mengikuti agama sahabatnya, oleh karena itu setiap orang dari kalian hendaknya memperhatikan siapa yang ia jadikan sebagai teman.” (HR Tirmidzî, Abû Dâwûd dan Ahmad)

“Permisalan teman duduk yang baik adalah seperti penjual parfum misk (parfum yang paling mahal dan harum). Bisa jadi dia memberimu, atau engkau membeli parfumnya, atau engkau mencium keharuman parfumnya. Sedangkan permisalan teman duduk yang buruk adalah seperti pandai besi. Bisa jadi dia membakar pakaianmu, atau engkau akan mencium aroma busuk darinya.”

(HR Bukhârî dan Muslim dengan matan sedikit berbeda)

Barang siapa ingin mengetahui bagaimana pengaruh pergaulan dengan temannya tersebut, apakah ia memperkuat iman, kesadaran beragama dan amalnya, atau justru sebaliknya, maka hendaknya dia bandingkan keadaannya setelah bergaul dengan orang itu dengan keadaannya sebelum bergaul dengannya.

Jika setelah bergaul dengannya ternyata sendi-sendi iman, akhlak, niat-niat baik untuk beramal salehnya semakin kuat dan kokoh, sedangkan keburukan dan kejahatannya semakin kecil, maka pergaulan dan persahabatannya itu bermanfaat bagi agama dan hatinya. Jika persahabatan dan pergaulan tersebut ia lanjutkan, maka insyâ Allâh ia akan memperoleh manfaat yang sangat besar dan kebaikan yang sangat banyak.

Jika setelah bergaul dengannya ternyata sendi-sendi keagamaannya menjadi semakin lemah dan menurun, sedangkan kejahatan dan keburukannya semakin banyak, maka pergaulan tersebut telah membahayakan agama dan hatinya secara nyata. Jika pergaulan tersebut ia lanjutkan, maka akan membawa keburukan dan bahaya besar baginya, semoga Allâh melindungi kita darinya.

Timbanglah semua pergaulan dengan apa yang telah kami sebutkan di atas. Dan perlu diketahui, ketentuan di atas berlaku sesuai dengan mana yang lebih kuat.

Artinya, selama kebaikan lebih kuat, maka diharapkan pergaulan tersebut mampu menarik orang-orang jahat untuk menjadi baik. Dan selama keburukan lebih kuat, maka dikhawatirkan orang baik yang bergaul dengan pendurhaka tersebut akan mengikutinya dan menjadi buruk.

Permasalahan ini sangat pelik, orang-orang yang memiliki mata hati yang jernih akan memahaminya. Diperlukan waktu yang banyak untuk membahasnya secara terperinci. Sedangkan Rasûlullâh saw bersabda:

“Teman duduk yang baik lebih utama daripada menyendiri, dan menyendiri lebih baik daripada bergaul dengan teman yang buruk.”

(Ucapan Rasul saw yang singkat ini sarat dengan makna) Rasûlullâh saw telah dikaruniai Allâh kalimat-kalimat ringkas yang penuh makna yang tidak diperoleh orang-orang terdahulu dan yang akan datang kemudian.

Habib ‘Abdullah bin Husein bin Thohir

Seorang Mukmin Adalah Cermin Bagi Mukmin lainnya

SAUDARAKU, ketahuilah, sesungguhnya kekasih kita Rasûlullâh saw telah diberi jawâmi’ul kalim[1]. Setiap kata yang diucapkan oleh Rasûlullâh saw sarat dengan makna dan memiliki banyak pemahaman. Setiap orang memahami ucapan beliau saw sesuai dengan pemahaman dan cahaya yang diberikan Allâh kepadanya. Rasûlullâh saw bersabda:

“Seorang Mukmin adalah cermin bagi Mukmin lainnya.” (HR Abû Dâwûd)

Hadis di atas memiliki beberapa makna, di antaranya adalah:

Pertama, jika seorang Mukmin melihat berbagai akhlak mulia pada diri saudaranya, maka dia akan meneladaninya. Dan jika dia melihat berbagai sifat tercela dalam diri saudaranya, dan dia mengetahui bahwa dirinya memiliki keburukan yang sama, maka dia segera berusaha membersihkan dan menyingkirkan sifat-sifat tercela itu dari dirinya.

Kedua, ketika seorang Mukmin melihat sebuah sifat tercela pada diri saudaranya, maka dia segera memerintahkan dan meminta saudaranya itu untuk menghilangkannya. Dia menjadi cermin bagi saudaranya. Berkat nasihatnya saudaranya dapat melihat aibnya sendiri, seperti cermin yang menampakkan keburukan wajah seseorang.

Ketiga, seorang Mukmin akan memandang kaum Mukminin sesuai dengan keadaan hatinya. Jika hatinya baik, suci, jujur dan bersih dari berbagai sifat tercela, maka dalam pandangannya semua Mukmin adalah baik. Dia berprasangka baik kepada seluruh Mukmin dan sama sekali tidak akan berpikiran buruk kepada mereka. Kau akan melihat dia mudah tertipu oleh setiap orang yang berusaha menipunya dan membenarkan semua ucapan yang disampaikan kepadanya. Sebab, dalam pandangannya semua orang berakhlak mulia seperti dirinya. Ini adalah sebuah sifat mulia dan utama yang diberikan Allâh kepada banyak Mukmin.

Tetapi, yang lebih baik dan sempurna adalah seseorang yang mampu melihat sesuatu sebagaimana adanya, baik atau pun buruk, saleh ataupun fasik.

Seorang yang berhati busuk dan bersifat buruk, wal ‘iyâ dzubillâh, maka keburukannya ini akan menjelma pada diri setiap orang yang dilihatnya. Setiap kali melihat seseorang dia akan berprasangka buruk kepadanya. Sebab, yang dia lihat adalah gambaran keburukan dirinya sendiri. Menurutnya semua orang seperti dirinya. Rasûlullâh saw bersabda:

“Jika seseorang berkata, ‘Manusia telah binasa,’ maka dialah yang paling binasa.”

(HR Muslim, Abû Dâwûd, Ahmad dan Mâlik)

Seorang penyair berkata:

Jika perilaku seseorang buruk

Maka prasangkanya pun buruk

Dia wujudkan kebiasaannya dengan penuh keraguan

Dan memusuhi para pecintanya

karena ucapan musuhnya

akhirnya dia berada dalam keraguan

Seperti malam yang gelap gulita

Pernah seorang lelaki mengunjungi seorang saleh yang dikenal sebagai waliyullâh (orang yang dicintai Allâh) dan berkata kepadanya, “Wahai Tuan, aku bermimpi melihatmu dalam wujud seekor babi.” Sang wali rhm pun menjawab, “Babi itu adalah gambaran dirimu, bukan diriku. Ketika engkau menghadapiku, maka gambaran dirimu menjelma pada diriku. Ketika melihat babi itu engkau mengiranya sebagai diriku. Sesungguhnya itu adalah gambaran dirimu yang menjelma pada diriku. Andaikata engkau baik, maka engkau akan melihatku dalam wujud yang baik.”

Karena itu kami katakan bahwa setiap orang yang bermimpi melihat Rasûlullâh saw dalam wujud yang baik, maka itu adalah tanda bahwa dirinya baik. Tetapi, jika tidak demikian, maka itu adalah tanda bahwa dirinya memiliki kekurangan. Kami tidak mengatakan bahwa keterangan ini berlaku untuk semua orang. Keterangan ini hanya berlaku untuk orang yang penuh kekurangan ketika bermimpi atau bertemu dengan orang yang sempurna, setingkat dengannya atau orang yang tidak ia ketahui kedudukannya.

Pada umumnya apa yang dilihat oleh seseorang pada diri kaum Mukminin adalah gambaran keadaannya sendiri. Jika dia baik, maka dia akan melihat kebaikan dan jika dia buruk, maka dia akan melihat keburukan. Sedangkan apa yang dilihat oleh orang-orang yang memiliki kesempurnaan, seperti para Nabi as dan pewarisnya, dalam mimpi atau di luar mimpi, adalah keadaan yang sebenarnya dari orang yang mereka lihat. Sebab, gambaran diri orang-orang yang memiliki kesempurnaan tidak akan menjelma pada diri orang lain. Karena, orang lain memiliki hijab yang terlalu tebal. Tetapi, gambaran orang lain dapat menjelma pada diri mereka karena kejernihan hati mereka. Mereka dapat melihat orang lain sesuai keadaannya yang sebenarnya.

Rasûlullâh saw bersabda:

“Waspadalah terhadap firasat seorang Mukmin, sesungguhnya dia memandang dengan cahaya Allâh.” (HR Tirmidzî)

Keadaan seperti ini hanya khusus bagi ahlillâh. Hati-hati jangan tertipu, sebab itulah sumber keburukan.

Keempat, hati seorang Mukmin yang sempurna imannya akan menjadi tempat tajallî Allâh SWT Al-Mu`min. Sebab, Al-Mu`min adalah salah satu nama Allâh. Hati seorang Mukmin adalah tempat makrifat. Allâh SWT berkata dalam sebuah hadis qudsi:

“Bumi dan langit-Ku tidak akan mampu menampung-Ku, dan hati hamba-Ku yang berimanlah yang mampu menampung-Ku.” (Al-Hadis)

“Hati adalah rumah Allâh.” (Al-Hadis)

Arti kedua hadis ini adalah hati merupakan tempat bermakrifat kepada Allâh. Wallâhu Subhânahu wa Ta’âlâ a’lam.

——————————————————————————–

[1] Jawâmi’ul kalim: kalimat yang singkat tetapi sarat dengan

Habib ‘Abdullah bin Muhsin Alatas

Hakikat Pengabulan Doa

SESUNGGUHNYA ketika engkau berdoa kepada Allâh Jalla wa ‘Alâ, maka Allâh menjawab doamu. Jika engkau berkata, “Wahai Tuhanku,” maka Dia berkata, “Labbaik hamba-Ku.” Setiap doa pasti dijawab oleh Allâh. Adapun mengenai permintaan yang kau ajukan dalam doamu, maka Allâh akan melihatnya terlebih dahulu. Jika yang kau minta itu baik dan bermanfaat untukmu, maka Allâh akan memberikannya. Tetapi, jika yang kau minta itu buruk dan tidak bermanfaat untukmu, maka Allâh tidak akan memberikannya. Allâh hanya akan memberikan sesuatu yang menurut-Nya baik untukmu, bukan sesuatu yang menurut-Nya buruk meskipun menurutmu baik. Sesungguhnya apa yang kau pinta itu akan Dia berikan sesuai dengan ilmu-Nya. Sebagai contoh, jika anakmu yang masih kecil yang kau sayangi datang menemuimu dan meminta sesuatu yang akan membahayakan dirinya sedangkan dia tidak tahu bahwa apa yang dia minta itu berbahaya baginya, apa yang akan kau lakukan? Kau akan mengabulkan permintaannya atau menolaknya? Dengan cara demikian sesungguhnya penolakanmu adalah sebuah pemberian, sebab engkau mencegahnya dari sesuatu yang akan membahayakan dirinya. Begitulah perlakuan Allâh kepada hamba-hamba-Nya. Allâh selalu memilihkan yang terbaik bagi mereka, sebab Dia menyayangi mereka lebih daripada kasih sayang mereka kepada dirinya sendiri. Dan Dia lebih mengasihi mereka daripada kedua orang tua mereka

Habib ‘Alwi bin ‘Abdullah bin Syihab

Rasa Cemburu Pada Agama Mulai Hilang

DALAM sebuah akhbâr disebutkan bahwa di akhir zaman kelak akan ada orang-orang yang hatinya melelah seperti garam yang leleh dalam air, karena mereka melihat kemungkaran tapi tidak mampu memusnahkannya. Sekarang aku melihat rasa cemburu pada agama telah mati. Sehingga andaikata setengah warga kota menjadi kafir, maka tidak akan ada satu bulu roma pun yang berdiri dan tidak ada seorang pun yang terluka hatinya. Kalian wajib berdakwah, memberikan peringatan. Semoga Allâh memandang kita semua dengan pandangan khusus.

Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi

Harap Dan Takut

Habib Abdullah Al-Haddad berkata dalam qoshidahnya:

Rasa takut kepada Allah Al-Adhim
dan juga rasa harap,
keduanya adalah obat
yang sangat bermanfaat

“Al-Khouf” (takut) adalah penderitaan dan rasa tak enak hati karena menunggu kedatangan sesuatu yang dibenci. Dan “Ar-Roja” (harap) adalah ketentraman dan kebahagiaan hati karena menunggu kedatangan sesuatu yang disukai. Keduanya: takut dan harap, adalah obat untuk menghilangkan perasaan aman dari makar Allah dan untuk mengobati perasaan putus asa dari rahmat-Nya. Tiada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang merugi.

Maksud aman di sini adalah perasaan yakin bahwa Allah tidak akan menyiksanya. Putus asa di sini adalah perasaan yakin bahwa Allah tidak akan merahmatinya. Keduanya adalah sikap yang bodoh terhadap Allah dan dapat menjadi penyakit yang membinasakan. Obat bagi kedua penyakit ini adalah Al-Khouf dan Ar-Roja karena dengan memiliki kedua perasaan tadi manusia akan berpikir bahwa boleh jadi, Allah akan menyiksanya atau merahmatinya. Jadi, janganlah terlalu yakin dengan dirimu. Benar, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, namun juga maha pedih siksanya:

“Yang Maha mengampuni dosa dan menerima taubat, pedih siksa-Nya, mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).” (QS Al Mukmin, 40:3)

Jika manusia membayangkan kerasnya siksa Allah Ta’âlâ, maka hatinya akan merasa sedih dan menderita. Namun, jika membayangkan rahmat dan
ampunan-Nya, meski ia tahu bahwa siksa Allah amat pedih, hatinya merasa tenang. Al-Khouf dan Ar-Roja bagaikan dua sayap burung. Ar-Roja menggerakkan manusia untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin. Al-Khouf mengekang manusia dari perbuatan yang membahayakan keselamatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar