Rabu, 28 Januari 2009

Imam Abi Bakar Al-Adeni bin Abdillah Alidrus

Tersibaknya Kebingungan dan Kesedihan Dalam Menerangkan Riwayat Hidupnya Penguasa Aden, Imam Abi Bakar Al-Adeni bin Abdillah Alidrus



Sekilas Tentang Sejarah Kota Aden

Banyak para ahli sejarah yang mengupas tentang Aden baik dari segi nama ataupun sejarah, diantaranya Syekh Bamakhromah dalam "Sejarah Bandar Aden", Ibnu Al-Mujawir dalam "Sejarah Al-Mustabshir", Al-Hamdani dalam "Al-Iklil" dan Al-Janady dalam "Assuluk".

Di Negeri Yaman banyak kawasan yang bernama Aden, dari kawasan-kawasan tersebut sebagian diantaranya merupakan pemukiman yang masih dihuni dan sebagian lainnya tinggal puing-puing yang tersisa, dari kenyataan tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa kata "aden" bukanlah nama satu daerah saja, melainkan suatu daerah yang mempunyai kriteria tertentu hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya daerah di Yaman yang bernama Aden, diantaranya :
1. kawasan utara propinsi Lahaj tepatnya daerah yang diapit oleh Lab'us dan Dhali'.
2. sebelah utara kota Radfan terdapat lebih dari sepuluh daerah yang bernama "aden" namun semuanya mempunyai nama akhiran yang berbeda, seperti Aden Hamadah, Aden Ahwar, Aden Gair, Aden Arwad, Aden Ja'syan, Aden Assahi, Aden Addaqiq, Aden AlHijal, Aden Al-hausyabi, Aden Arrohah.

Jika kita perhatikan secara seksama, kawasan-kawasan yang bernama aden tersebut mempunyai karakter yang sama yaitu kesemuanya merupakan daerah yang jauh dari jalan raya yang sengaja dijadikan sebagai tempat berlindung oleh para penghuninya, dan sebagian daerah aden itu ada yang membentang panjang hingga mencakup beberapa pegunungan yang di bawahnya terbentang Aden Abyan, Udainah Taiz, Udain Attaakur diwilayah propinsi Ibb, dari sekian banyak daerah yang bernama aden adapula yang tinggal nama dan telah ditinggalkan oleh penduduknya, diantaranya Aden Laah di propinsi Hajjah, Benteng Aden di lembah Hadhramaut, Aden Al-Manasib, dan Aden Bani Syabib dipinggiran kota Ibb.

Dari sekian banyak daerah yang bernama aden tersebut terlihat bahwa "aden" identik perkampungan yang damai dan sejahtera, dan sifat-sifat itulah yang terdapat di Aden Abyan tempat tinggal Imam Abi Bakar yang akan kita bahas sejarahnya dalam tulisan ini, dan dewasa ini apabila disebutkan nama aden maka yang dimaksud adalah Aden Abyan.

Ada juga yang mengatakan bahwa nama aden diambil dari nama orang yang pertama kali membuka tempat tersebut yang bernama Aden, kalimat aden juga diambil dari nama Adnan bin Naqsyan bin Ibrahim, menurut versi ini aden adalah berasal dari kata kerja adana yang berarti berdomisili, atau dari kata ma'din yang berarti barang tambang.

Penulis Yaqut Al-hamawy memiliki pendapat lain tentang asal mula nama penamaan aden, menurut dia nama aden tersebut bermula dari perang antara Habasyah dengan Yaman, ketika perahu-perahu mereka tiba di Aden mereka berkata "adwanatan" yang berarti musuh, maka sejak itulah dinamai Aden.

Kota Aden sejak zaman dahulu telah menjadi incaran dan impian penguasa-penguasa yang serakah, wilayah pantai aden selalu disinggahi para tentara penjajah yang ingin menguasai jalur strategis tersebut, dari semenjak zaman kerajaan Saba, Aden sudah mempunyai peran penting dalam dunia perdagangan, karena para saudagar dari Saba dan Himyar menggunakan Aden sebagai jembatan mereka untuk menjalankan perdaganganya dengan orang-orang India dan Mesir.

Peran Kota Aden dalam perdagangan dan juga dalam peperangan tersebut juga dikarenakan letak geografisnya yang begitu strategis karena berada dipertengahan jalan antara samudera Eropa dan India.

Kota Aden semenjak dahulu kala bahkan sebelum islam telah mennjadi perhatian para raja dengan membangun bendungan-bendungan penampung air dan benteng, diantara raja-raja tersebut adalah Sultan Amir bin Abdul Wahab salah satu raja dari kerajaan Ath-Thahiriah, yang mempunyai hubungan erat dengan Imam Abi Bakar Al-Adeni bin Abdullah Alidrus. Diantara jasa Sultan Amir terhadap Aden adalah waduk bundar yang dikenal dengan nama "Bilyafer" yang mengitari waduk-waduk kecil lainya, selain itu pada tahun 1500 M, Sultan Amir membuat saluran air dari sumur "Mahtha" ke Aden.

Pada tahun 1513 M, datanglah tentara Portugal untuk menjajah Aden, namun saat itu Portugal harus puas dengan kekalahannya oleh tentara Ath-Thahiriah yang saat itu dipimpin oleh Sultan Amir dan Pangeran Marjan. Semenjak itu Aden berdiri tegar setegar para pemimpinnya dan gunung-gunungnya yang menjulang tinggi, hingga tibalah tentara Inggris yang datang pada tahun 1839 M, kedatangan inggris yang berpura-pura meminta ganti atas kapalnya yang tenggelam dan dijarah oleh para kabilah diperairan pantai Abyan, namun Sultan Lahaj (penguasa Aden waktu itu) menunda-nunda ganti rugi tersebut sehingga inggris menyerangnya dan berhasil menguasai Aden pada tanggal 19 januari di tahun yang sama.

Dengan dikuasainya Aden oleh Inggris maka pelabuhan internasional Aden pun menjadi kekuasaannya hingga tibalah revolusi bersenjata yang mampu memukul mundur tentara Inggris sekaligus mengusir tentara penjajah tersebut pada tanggal 30 November 1967 yang sekaligus menjadi hari kemerdekaan Yaman Utara.

Pergolakan politik dan ekonomi serta revolusi bersenjata silih berganti dalam sejarah Aden hingga kemudian tibalah hari persatuan Yaman yang menyatukan semua wilayahnya dan sekaligus mengakhiri semua kekisruhan yang dibawa oleh orang-orang kafir dan komunis dari negeri Yaman. Dengan terciptanya persatuan dan kemerdekaan tersebut maka kembalilah Aden ke pangkuan putra daerah.

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah yang Maha Esa dan hanya kepadaNya-lah tempat bergantung, solawat serta salam semoga dilimpahkan kepada pimpinan putra Adnan, pemimpin para wali dan orang-orang takwa yang menjadi panutan orang-orang yang mendapat petunjuk dengan kesaksian dari Allah SWT dalam firmanya dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya: "Sungguh pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kamu". Junjungan kita Muhammad bin Abdullah sang pembela atas kemuliaan para kekasih Allah sebagaimana yang Ia katakan dari Allah "barang siapa yang menyakiti salah satu kekasihku, maka Aku telah mengikrarkan perang dengan dia".

Kemudian akan berkata seorang hamba yang berdosa dan fakir kepada Allah SWT, Abu Bakar Al-Adeni bin Ali bin Abi Bakar Al-Masyhur Baalawy : Aku ridlo Allah sebagai tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul, dan aku berjanji kepada diriku sendiri –sesuai kemampuan- akan berjuang dan mengabdi jalan menuju Allah SWT dengan memperkenalkan diri saya dan generasi saya atas apa saja yang wajib mereka ketahui tentang adab para (syekh) dan kemuliaan amanat yang dipikul oleh manusia-manusia sempurna yang tidak tergiur oleh manisnya dunia (mereka jujur atas apa yang mereka janjikan kepada Allah), janji tersebut merupakan suatu obor yang menerangi orang yang tersesat, memberi petunjuk kepada orang-orang bodoh, serta menjadi dalil kepadaku dalam memberi penjelasan kepada diriku sendiri serta orang-orang sepertiku yang tertipu oleh sebab-sebab kebudayaan atau mereka yang tenggelam dalam keraguan atas atas ahli dzauk dan isyaroh, dan barangsiapa yang tidak mengetahui hak-hak para kekasih Allah maka tidak akan mendapatkan ridlo Tuhannya.

dan kami jelaskan bahwa zaman sekarang ini penuh ketakaburan dan kebohongan atas Allah SWT, dan kita telah mendengar dan membaca penghinaan dan kebohongan atas para kekasih Allah, orang yang busung dianggap gemuk setiap orang mengaku alim dan berani berfatwa, dan telah timbul pula pada zaman ini kekikiran yang diturutkan hawa nafsu yang diikuti, setiap orang merasa bangga akan pendapatnya, orang tidak lagi bisa membedakan antara benar dan salah, atas dan bawah, maka dalam keadaan yang seperti ini tiada lagi tempat kembali kita adalah kitab serta rujukan-rujukan lainnya kita cari di dalamnya tentang hakikat suatu zaman, dan ketetapan-ketetapan islam iman dan ihsan, tentang mereka yang memiliki kedudukan yang tinggi (orang-orang yang ketika mereka melihat maka mereka mengingat Allah, dan ketika mereka berdzikir maka turunlah rahmat yang berlimpah.

Ini adalah suatu keyakinan dari keyakinan, saya sebutkan agar jelas dan menenangkan jiwa yang beriman, dan tujuan saya atas semua itu adalah keridloan Allah SWT dan memelihara sunnah Rasul saw yang bersabda "barangsiapa memlihara sunnahku ketika umat mulai rusak maka dia mendapatkan pahala seratus orang syahid" dan membela para kekasih Allah dari keturunan Nabi saw dan para pengikut dan pecintanya. Dan tulisan ini merupakan sekelumit riwayat hidup salah satu imam dari keluarga Nabi SAW yaitu Imam Abu Bakar Al-Adeni bin Abdullah Alidrus bin Syeh Abdurrahman Assegaff.


Silsilah Keturunan Imam Alidrus


Adalah Sayid Syarif Abu Bakar Al-Adeni bin Abdullah Alidrus bin Abi Bakar Assakran bin Syeh Abdurrahman Assegaff bin Syekh Muhammad Maula Dawilah bin Syeh Ali Alafif bin Syeh Alawi Algayur bib Syeh Alfaqih Almuqoddam Muhammad bin Syeh Ali bin Syeh Muhammad Shahib Marbath bin Syeh Ali Khali' Qosam bin Syeh Alawi bin Syeh Muhammad bin Syeh Alawi bin Syeh Ubaidillah bin Imam Ahmad Almuhajir bin Imam Isa bin Imam Muhammad bin Imam Ali Al-Uraidli bin Imam Jakfar Ashadiq bin Imam Muhammad Albaqir bin Imam Ali Zaenal Abidin bin Imam Husain Assibti bin Imam Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Azzahra putri Rasulullah SAW.

Imam Al-Adeni Simbol Para Wali di Kota Aden

Sesungguhnya daripada hamba-hamba Allah yang shaleh terdapat orang-orang yang jasadnya mati namun seakan masih hidup dan selalu diingat pada setiap saat pada setiap kesempatan, namanya selalu hidup dalam jiwa setiap generasi, hal ini merupakan suatu keistimewaan orang-orang yang melihatnya akan mengingat Allah sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 2 yang artinya :"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah apabila disebut (nama) Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka dan mereka bertawakal kepada Tuhannya".

Dan disinilah di kota Aden tepatnya di sebelah barat laut pusat kota Aden berdiri tegar Masjid Imam Abu Bakar Al-Adeni bin Abdullah Alidrus, Masjid tersebut didirikan oleh Imam Al-Adeni awal kedatangan beliau di kota tersebut pada abad 9 Hijriah, semenjak berdirinya masjid tersebut merupakan tempat berkumpulnya para murid dan pelajar, masjid tersebut mempunyai ciri khas yaitu menaranya yang tinggi dengan desain yang unik selain itu masjid tersebut mempunyai banyak beranda dan kubahnya yang berwarna putih mengkilap. Persis dibawah kubah tersebut terdapat makamnya Imam Al-Adeni, disekitar makam tersebut terdapat juga makam Sayid Ahmad Al-Musawa (putra Imam Al-Adeni), makam Sayid Umar bin Abdullah Alidrus (cucu Imam Al-Adeni) Sayidah Mazinah (putri Imam Al-Adeni) dan selain makam keluarga Imam Al-Adeni di bawah kubah tersebut terdapat juga makam Pangeran Marjan bin Abdullah Adz-dzafiri penguasa Aden yang mempunyai hubungan khusus dengan Imam Al-Adeni, Pangeran Marjan inilah yang membangun Ribat (pondok pesantren) di samping masjid tersebut serta membangun sebuah rumah untuk orang yang menjaga pemakaman Imam Al-Adeni.

Disepanjang harinya masjid dan makam tersebut tidak sepi dari para peziarah dari berbagai daerah baik dari dalam atau pun luar negeri, mereka yang datang memiliki tujuan yang bermacam-macam, ada yang datang untuk sekedar rekreasi melihat saksi bisu sejarah, atau sengaja menelusuri peninggalan-peninggalan pendahulu dalam bidang arsitektur dan dekorasi dan ada pula dari para peziarah tersebut sengaja datang ke makam dan masjid bersejarah tersebut untuk mengingat akhirat dan berdoa kepada ahli kubur.

Dari kenyataan tersebut banyak orang yang bertanya-tanya siapa Alidrus itu? Apa sebabnya dia mendapat kedudukan dan kehormatan seperti itu, kenapa pula tempat peristirahatan dan masjid yang dibangunnya merupakan tempat yang diagungkan dan dihormati?

Merupakan suatu kenyataan yang terlupakan oleh kebanyakan orang yang menjadi korban media informasi, bahwa setiap periode sejarah tentunya memiliki seorang tokoh, dan setiap tokoh tentunya mempunyai lambang dan ciri tersendiri, ciri-ciri itu sekarang sudah punah yang tertinggal hanyalah peninggalan berupa bangunan ataupun pakaian, hal tersebut merupakan suatu bukti akan penghianatan terhadap tokoh-tokoh sejarah, dan hal yang sangat disayangkan sekali penghianatan dilakukan turun temurun dari generasi kegenerasi, oleh sebab itu merupakan suatu kewajiban atas kita untuk mengungkap hakikat yang telah terkubur oleh debu-debu penghianatan yang begitu tebal menutupi kenyatan sejarah para tokoh ulama yang telah membawa umat ini ke puncak kejayaan, adapun bangunan dan gordeng-gordeng yang dipasang rapi menutupi pemakaman para tokoh tersebut hanyalah bagian kecil dari bukti-bukti dan lambang sejarah dari para tokoh tersebut, hal tersebut terjadi karena generasi yang dating setelah para tokoh tersebut tidak bisa menelusuri jejak mereka, maka untuk menghormati dan mengenang mereka dibuatlah hiasan-hiasan dan wangi-wangian tersebut sebagai tanda kebanggaan dan pujian dari mereka.

Diantara sekian tokoh itu adalah Imam Abu Bakar Al-Adeni bin Abdullah Alidrus, bbeliau dikenal dengan julukan Alidrus diambil dari ayahnya juga dikenal dengan panggilan Al-Adeni karena beliau tinggal di Aden dan meninggalpun disana.

Kelahiran dan Pertumbuhan Imam Al-Adeni

Imam Al-Adeni dilahirkan pada awal abad ke-9 Hijriah atau tepatnya pada tahun 851 H, bertepatan dengan 1432 M. Ada juga yang mengatakan bahwa kelahirannya adalah pada 852 H, adapun kota tempat dilahirkannya Imam Al-Adeni adalah kota Tarim, salah satu pusat keagamaan di propinsi Hadhramaut. Imam Al-Adeni tumbuh dalam naungan dan perhatian dari ayahandanya Imam Abdullah Alidrus, serta pamannya Imam Ali bin Abi Bakar Assakran dan Syeih Alwali Saad bin Ali AMdzhij, ketiga imam inilah yang berperan penting dalam membangun jati diri Imam Al-Adeni, maka sauatu hal yang wajar kalau dalam usia yang masih belia, Imam Al-Adeni sudah hafal Al-qur'an, bahkan lebih dari itu beliau diebri futuh oleh Allah dalam memahami isi dan kandungan Al-qur'an, dikisahkan bahwa ayahandanya berpesan kepada guru ngaji yang mengajar dia membaca Al-qur'an agar bersikap lembut dan jangan membentaknya apalgi sampai memberikan hukuman kepadanya.

Dan hal yang menakjubkan dalam perlakuan Imam Abdullah Alidrus terhadap putranya adalah beliau selalu membawa serta Imam Al-Adeni dalam halaqoh Qur'an, dan ketika tiba gilirannya untuk membaca maka dibiarkannya membaca sendiri tanpa ada yang menegur ataupun menyalahkanya walaupun keliru ataupun salah, dan terkadang ketika dia membaca sengaja membaca dengan salah untuk meyakinkan ataupun pindah dari satu surat ke surat yang lainnya ketika ada ayat yang serupa, tetapi tetap didiamkan tidak dibetulkan oleh ayahnya ataupun para
peserta halaqoh lainnya sehingga dengan sendirinya Imam Al-Adeni mengulangi bacaanya yang keliru dan membetulkannya.

Pada usia yang masih belia itu beliau sudah diarahkan oleh ayahandanya untuk mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dari ilmu bahasa arab, hadits, tafsir, fiqih dan sebagianya, selain itu ayahandanya selalu mendorongnya agar rajin mutolaah dan murojaah sehingga dengan dorongan dari ayahandanya tersebut Imam Al-Adeni menjadi hobi membaca dan mutolaah kitab-kitab yang memenuhi perpustakaan pribadi ayahnya, namun bukan berarti beliau bebas membaca semua kitab-kitab yang ada diperpustakaan tersebut, Karena ayahandanya selalu memantau apa saja yang beliau baca, tentang hal itu Imam Al-Adeni mengungkapkan "seingatku ayah tidak pernah membentak atau memukulku, keculai satu kali ketika beliau melihat aku memegang kitab "Al-Futuhat Almakkiyah" karangan Ibnu Arobi, beliau sangat marah dan dari detik itu aku tidak pernah lagi memegang kitab tersebut". Beliau juga berkata "Ayah melarangku untuk membaca kitab Al-Futuhat dan Al-Fusul keduanya karangan Ibnu Arobi, tetapi disamping itu ayah juga menyuruhku untuk berbaik sangka atas isi kitab tersebut, dan tentang isi kitab tersebut beliau berkata bahwa kitab-kitab tersebut mengandung hal-hal yang tidak difahami oleh orang-orang yang masih rendah, kitab-kitab tersebut hanya untuk dibaca oleh kalangan yang sudah tinggi". Domisili dan Perjalanan Imam Abu Bakar Al-Adeni.

Imam Abu Bakar bin Abdullah Alidrus semenjak dilahirkan tinggal di kota kelahirannya Tarim Hadhramaut, dan selama 38 tahun beliau tidak keluar dari Hadhramaut. Namun setelah ayahnya wafat beliau mulai mengadakan perjalanan ke kota Syihir meneruskan jejak ayahnya ziaroh Syeh Saad bin Ali Adzafari Asyihri. Selain ziaroh ke Syihir Imam Abu Bakar dalam rangka meneruskan jejak ayahnya, beliau juga ziaroh ke Doan dan Gidun tempat makomnya Syeh Said bin Isa Al-Amudi, selain itu beliau juga dengan rutin melakukan ziaroh ke makam Nabi Hud Alaihi Salam.

Perjalanan Imam Abu Bakar Al-Adeni ke Haromain


Imam Abu Bakar Al-Adeni melakukan perjalan ke Haromain sebanyak dua kali, perjalanan pertama dilakukan pada tahun 880 H, adapun perjalanan beliau ke Haromain yang kedua kalinya adalah pada tahun 888 H, dan dari Makkah beliau menuju Zaila' (ibu kota Somalia pada masa itu), penguasa Somalia pada waktu itu adalah Muhammad bin Atik yang mempunyai hubungan erat dengan Imam Abu Bakar Al-Adeni, dikisahkan bahwa sepulangnya dari Haromain beliau berdomisili di Aden.

Tentang perjalanan Imam Abu Bakar Al-Adeni tersebut di bahas secara terperinici oleh Syeh Umar Bahraq dalam kitabnya "Mawahibul Qudus", Dikisahkan bahwa ketika Imam Abu Bakar Al-Adeni berniat untuk melakukan ibadah haji untuk yang kedua kalinya, beliau meminta izin ibunya Syeikhah Aisyah binti Umar Muhdlor, namun ketika beliau masuk kepada sang bunda melihat wajahnya sedih seakan-akan keberatan untuk ditinggalkan oleh sang putra, mengetahui ibunya keberatan dengan kepergiannya maka Imam Abu Bakar berencana akan membatalkan kepergiannya ke Tanah Suci, melihat gelagat akan batalnya keberangkatan putranya ke Tanah Suci sang ibu berkata kepada Imam Abu Bakar "Berangkatlah ibu akan bersabar dengan perpisahan denganmu" mendengar ibunya berkata seperti itu Imam Abu Bakar berkata " Saya takut kalau ananda berangkat ke Tanah Suci tidak akan bertemu dengan ibu lagi", sang ibu menjawab "kamu tidak akan menghadiri kematianku" bagaimana itu bisa terjadi ? Tanya Imam Abu Bakar kepada sang ibu, "Sesungguhnya aku telah bermimpi seakan-akan aku masuk surga, dan ibu bertanya dimana anakku? Kemudian ada yang menjawab, anakmu ada di Zaila', ibu yakin arti mimpi tersebut adalah ibu akan meninggal ketika kamu ada di Zaila'. Dan hal itu lah yang kemudian hari terjadi, sang ibu meninggal dunia ketika beliau berada di Zaila' setelah menunaikan ibadah haji.

Imam Abu Bakar Berdomisili di Aden

Ketika Imam Abu Bakar Al-Adeni meninggalkan Hadhramaut untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, dalam perjalanan yang didampingi oleh sepupunya Syeh Abdurrahman bin Ali ini beliau melewati beberapa kota, seperti Aden, Zabid, Bait Alfaqih, Almurawa'ah dan bertemu dengan para ulama dan muhadits serta para wali di kota-kota yang beliau lewati, dan setelah keduanya melaksanakan ibadah haji, Imam Al-Adeni melanjutkan perjalanannya ke Zaila' untuk menemui penguasa Zaila' Muhammad Atiq, karena antara beliau dan Sultan Muhammad Atiq sudah saling mengenal pada waktu Imam Abu Bakar menjalankan ibadah haji yang pertama kalinya pada tahun 880 H.

Ketika beliau berada di Zaila', sampailah kabar tentang meninggalnya sang Ibu, Aisah binti Syeh Umar Al-Mudlor. Mendengar berita tersebut Imam Abu Bakar merasa sedih dan terpukul dan teringat akan mimpi sang ibu yang diceritakan sebelum beliau pergi menunaikan ibadah haji.

Selang beberapa lama beliau melanjutkan perjalanannya ke Hudaidah melalui jalan laut, dan dari Hudaidah beliau melanjutkan perjalanannya ke Taiz pada tahun 889 H, dan ketika itu beliau berniat akan meneruskan perjalanannya ke Syihir, dan merupakan suatu kebetulan bahwa kedatangan Imam Abu Bakar ke Taiz bersamaan dengan berkumpulnya masyarakat setempat untuk melayat dalam kematian Syarif Sirojuddin Umar bin Abdurrahman, yang meninggal pada bulan Ramadlan 888 H, mengetahui kedatangan Imam Abu Bakar Al-Adeni maka orang-orangpun berdatangan kepada beliau untuk melayat atas meninggalnya sang ibu, selain itu datangnya juga surat dari para ulama di Aden yang menyatakan keinganan mereka untuk datang ke taiz guna melayat beliau atas meninggalnya sang ibu, maka beliau menjawab bahwa beliau akan ke Aden, dan ketika beliau diperjalanan dan tiba di Al-Hautah (ibu kota Lahaj) beliau mengutus seorang utusan guna memberi tahukan warga Aden akan kedatangan beliau, mendengar akan kedatangan Imam Abu Bakar Al-Adeni maka para ulama serta pembesar dan masyarakat umum berkumpul untuk menyambut kedatangan Imam Abu Bakar di kota Aden yang bertepatan pada tanggal 13 Rabiutsani tahun 889 H.

Pada kesempatan itu beliau menerima takziah dari para pelayat yang datang berbondong-bondong, mereka yang dating selain mempersembahkan takziah juga memohon doa dari Imam Abu Bakar, dengan pertemuan itu Allah menebarkan rasa cinta dan ikatan batin di hati para penduduk Aden terhadap Imam Abu Bakar Al-Adeni, oleh sebab itu mereka meminta kepada Imam Abu Bakar agar menetap di Aden, mendapat permintaan seperti itu Imam Abu Bakar
kemudian melakukan shalat istikhoroh untuk meminta petunjuk dari Allah SWT, setelah melakukan istikhoroh maka Allah memberikan petunjuk kepada Imam Abu Bakar untuk tinggal menetap di kota Aden hal tersebut sesuai dengan isyarat pamannya Syeh Ali bin Abi Bakar Assakran ketika beliau masih muda yang mengatakan bahwa Imam Abu Bakar akan menetap di kota Aden dan akan meninggal disana pula, maka hal itupun menjadi kenyataan dengan memilihnya Imam Abu Bakar Al-Adeni untuk berdomisili di Aden hingga datang waktunya beliau dipanggil menghadap Allah SWT, pada bulan Syawal tahun 914 H.

Disebutkan dalam kitab "Tarikh Syihir" bahwa setelah Imam Abu Bakar wafat, Sultan Amir bin Abdul Wahab membangun kubah diatas makam Imam Abu Bakar Al-Adeni, dan setelah itu Pangeran Marjan Adz-zafiri membangun sebuah bangunan ribat dan rumah yang dihususkan bagi orang yang menjaga dan memelihara komplek pemakaman Imam Abu Bakar Al-Adeni dan kemudian Syeh Muhammad bin Abdul Malik membangun balkon yang melingkari pemakaman.

Keadaan, Kebiasaan dan Sebagian Sifat Imam Abu Bakar Al-Adeni

Imam Abu Bakar Al-Adeni sejak kecil sudah membiasakan dan menghiasi diri dengan kebiasaan dan sifat-sifat terpuji, maka bukan suatu hal yang aneh kalau beliau mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh teman-teman sebayanya, sejak kecil beliau membagi waktunya antara perbuatan taat kepada Allah SWT, mencari dan hidmah kepada ilmu, menyebarkan dakwah islamiah, berkumpul dengan orang-orang shalih, zikir kepada Allah, membaca Al-qur'an, membaca wirid-wirid, serta membantu kedua orang tuanya, dan tidak ada waktu kosong kecuali beliau gunakan untuk mutola'ah kitab. Adapun prilakunya terhadap orang lain, beliau sangat penyayang terhadap orang-orang awam terutama mereka yang sering datang menghadiri majlisnya, dan memperlakukan mereka dengan sopan dan halus serta selalu mengarahkan mereka kepada kebaikan, tentang hal itu beliau berkata : "Sesungguhnya aku merasa lega ketika melihat seseorang yang diberi hidayah oleh Allah SWT untuk menjalankan kewajiban dan meninggalkan dosa-dosa besar, dan sebaliknya yang membuatku resah dan aku berusaha semampuku untuk meluruskan mereka yang terjebak dalam lautan dan dosa dan perangkap syetan".

Oleh karena itu setelah beliau menetap di kota Aden, setiap malamnya beliau mengumpulkan para pengikutnya terutama mereka yang diketahui setelah pulang dari majlisnya biasa melakukan maksiat, maka dengan sengaja beliau menahan mereka semalaman untuk berdzikir bersama dan membaca Al-qur'an hingga menjelang waktu subuh, setelah selesai berjamaah salat subuh barulah mereka diizinkan pulang setelah sebelumnya masing-masing diberikan upah sesuai upah kerja mereka selama sehari, hal tersebut beliau lakukan terhadap pengikutnya supaya mereka terbiasa menjalankan taat dan jauh dari kemaksiatan.

Diantara sifat Imam Abu Bakar Al-Adeni adalah beliau selalu berlemah lembut dan penyayang terhadap orang muslim yang sedang bersedih hati, beliau selalu berusaha menghibur dan tidak pernah menakut-nakuti mereka dan memberikan mereka pengharapan agar tidak putus asa, karena beliau tahu bahwa rahmat Allah SWT sangat luas, Imam Abu Bakar juga memiliki semua sifat terpuji seperti sifat malu, menjaga harga diri dan zuhud terhadap dunia serta selalu berpegang
teguh terhadap Qur'an dan Hadits, dan memerintahkan kepada pengikutnya untuk mengikut jejak beliau dalam hal itu, beliau juga sangat menjauhi dari pembicaraan yang tidak berfaidah seperti pembicaraan tentang pertentangan antara Sahabat Nabi RA.

Beliau juga memiliki hati yang sangat lembut, hingga beliau sering sekali menangis ketika mendengar atau membaca ayat-ayat Al-qur'an yang menerangkan tentang ancaman dan siksaan, sebaliknya beliau terlihat ceria dan senang ketika mendengar atau membaca ayat-ayat Qur'an yang menerangkan tentang janji-janji pahala, beliau heran jika melihat orang yang tidak terpengaruh oleh ayat-ayat ancaman dan siksaan dan berkata "Ketika hati seseorang telah dikuasai oleh hawa nafsu maka ancaman-ancaman tersebut akan menjadikan dia semakin menjauh".

Penulis kitab "Mawahib Al-Quds" menceritakan tentang kedermawanan Imam Abu Bakar Al-Adeni, dikisahkan pada sautu kesempatan terjadilah pembicaraan tentang Imam Abu Bakar Al-Adeni di hadapan Sultan Abdullah Al-Katsiri, dalam kesempatan itu salah satu hadirin ada yang berkata kurang baik tentang Imam Abu Bakar, mendengar hal seperti itu Sultan menegur orang tersebut seraya berkata : "Aku bersaksi bahwasanya Imam Abu Bakar adalah pemimpin pada zamannya, karena seorang pemimpin di dunia adalah mereka yang dermawan, dan aku tidak mengetahui di muka bumi ini orang yang lebih dermawan dari Imam Abu Bakar".

Permulaan Imam Abu Bakar tinggal di Aden beliau menempati sebuah rumah dipinggiran laut di kota Aden, hingga ketika selesai pembangunan Masjid pada tahun 890 H, bertepatan dengan 1470 M, pindahlah beliau ke dekat masjid tersebut, semenjak itulah rumah dan masjid yang barusan selesai dibangun itu menjadi tempat berkumpulnya para tamu dan para penuntut ilmu.


Ahwal Imam Abu Bakar Al-Adeni


Ketika Syeh Abdulatif bin Ahmad Az-Zabidi ditanya tentang ahwal Imam Al-Adeni, beliau menjawab : "Yang aku yakini tentang Imam Al-Adeni beliau adalah sang penguasa waktu, dan pembicaraan tentang ahwalnya sangat panjang sekali, tetapi tujuan dari semua itu adalah untuk menghilangkan keraguan dengan kesaksian dari orang-orang yang memiliki mata hati dan kesempurnaan".

Syeh Muhammad bin Umar Bahraq Al-Hadhrami dalam kitab "Mawahib Al-Quds" halaman 14, mengatakan :"Aku sempat bertanya-tanya tentang beberapa hal yang dilakukan oleh Imam Abu Bakar dan tidak bisa diterima oleh akal pikiranku yang dangkal, namun dengan taufik dari Allah SWT, hal tersebut aku tanyakan kepada para masyayeh, dan jawaban dari mereka semua menyuruhku untuk taslim dalam yakin bahwa Imam Abu Bakar memiliki maqom yang tinggi dan beliau diberi hidayah oleh yang Maha Tau, diantara para masyayeh tersebut adalah Syekhina Alfaqih Alalim Alarif billah Muhammad bin Ahmad Bajarfil Addoani, aku bertanya kepada beliau tentang muamalah Imam Abu Bakar menyangkut harta yang berada dalam genggaman beliau, tapi beliau mengeluarkan harta tersebut tidak pada tempat yang selayaknya, ketika itu Syeh menjawab :"Aku bersaksi bahwa Imam Abu Bakar adalah Amirulmu'minin yang mempunyai hak untuk mengangkat atapun mencopot seseorang dan lain sebagainya. Pernah juga aku bertanya kepada Sayidina Syeih Syarif Badrudiin Al-Husain bin Ashidik bin Al-Husain Al-Ahdal, tentang ahwal Imam Abu Bakar Al-Adeni yang tidak bisa dipahami oleh akal pikiranku yang dangkal, beliau menjawab : "Biarkanlah dibelakang tirainya, karena jika hal itu memancar niscaya akan terbakar ala mini, tidak kah kamu ketahui bahwa kita ini hanya bisa berdiri didepan pintu dan puas dengan menciumi daun pintunya".

Kita akhiri pembahasan tentang ahwal Imam Abu Bakar dengan pernyataan seorang muridnya Syeh Abdulatif Bawazir tentang sifat-sifat Imam Abu Bakar Al-Adeni dalam pembukaan diwan "Mahajatussalik", : Syeihina adalah orang yang paling baik (pada zamannya) budi pekertinya, orang yang paling baik pembicaraanya, luas ilmu pengetahuannya, mempunyai kesabaran yang sangat tinggi, pemahamannya sangat mendalam, pendapatnya sangat tajam, beliau sangat arif dan bijak tidak pernah mengingat atas kesalahan orang kepadanya, membalas perbuatan zalim dengan kebaikan, menerima hadiah walaupun sedikit serta membalasnya, memaafkan kesalahan orang walaupun besar tanpa meminta balasan, menyambung tali silaturrahim, menanggung para anak yatim, mencintai orang-orang miskin, sangat senang bersedekah, beliau sangat menyukai kebaikan dan memerintahkannya dan sebaliknya sangat membenci kejahatan dan melarangnya, sangat memuliakan tetangga, dan tamu yang datang kepadanya, sangat mencintai syariah dan membelanya serta memrintahkan pengikutnya untuk tunduk dan mengamalkannya, selalu bersyukur baik dalam keadaan senang maupun susah. Kesabarannya sangat menakjubkan, kebaikannya sangat dekat, prilakunya selalu melawan hawa nafsu dan syetan dan mencari keridloan Allah, yang aku sebutkan ini tidak ada sepersepuluh dari sifat-sifat baiknya beliau, apa yang aku tulis ini hanya seperti yang dikatakan dalam syair :

جمعت له وصفا على حسب طاقتي وما أنا إلا باليسير لجامع

Artinya : Aku telah menyebutkan sifat-sifat baiknya semampuku, tapi walau begitu aku hanya bisa menyebutkan sebagian kecilnya saja.

Adapun bisyaroh dan isyaroh yang menunjukkan tentang keutamaan dan maqom Imam Abu Bakar Al-Adeni sangat banyak dan dapat ditemukan dalam kitab-kitab sejarah, dianatara bisyaroh tersebut adalah sebagaimana dikatakan dalam kitab "Al-Iqdu Annabawi" :Alfaqih Abdurrahman Bawazir berkata, ketika suatu waktu kami sedang duduk dengan ayahnya Imam Abu Bakar (sebelum dilahirkan), tiba-tiba beliau berseru "الله أكبر" sebanyak tiga kali, maka aku bertanya kepada beliau, ada apa? Beliau menjawab aku telah dikarunia seorang anak yang memiliki kewalian dan kemuliaan. Dan pada suatu malam ketika beliau dating halnya, berkata : "Akan lahir dan tampak bulan yang sempurna, yang mempunyai amal-amal yang terpuji serta maqom yang tinggi, dan pada hari itulah dilahirkan Imam Abu Bakar.

Suatu ketika penguasa Tarim Sultan bin Duwes sedang bertamu ke Syeh Abdullah bin Abi Bakar Alidrus, sedangkan putranya (Abu Bakar) sedang memainkan jenggot beliau, maka sang sultan bertanya apakah tuan menyayangi putra tuan ini? Syeh Abdullah menjawab, tentu saja aku menyayanginya bagaimana tidak, Karen ketika putraku ini dilahirkan aku mendapat gambar gembira bahwa aku dikarunia seorang putra yang memiliki kewalian.

Syekh dan Guru Imam Abu Bakar Al-Adeni


Adanya seorang syeh adalah suatu keharusan dalam menyelusuri suatu "Thoriq", adapun yang dimaksud dengan syeh menurut para ulama ialah orang yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan membawa muridnya ke jalan Allah dengan nasihat, tauladan yang baik, sesuai keadaan dan kejiwaan seorang murid, adakalanya dengan mengharuskan seorang murid untuk menjalani riadloh dan mendidik dengan tatakrama, adakalanya seorang melakukan muridnya dengan memarahinya dan keras.

Sebagaimana dalam shalat ada imamnya, dalam ilmu pengetahuan juga ada ahlinya, begitu pula halnya dengan pendidikan rohani dan jiwa agar tertuju kepada Allah semata memiliki Syeikh dan Penunjuk jalan (Musalik), bagi seorang murid (yang menelusuri toriq) harus mempunyai seorang syeh agar dia tidak menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan.

Dan merupakan suatu musibah bahwa syeikh yang betul-betul memenuhi kriteria tersebut pada zaman sekarang ini, yang ada pada zaman sekarang ini adalah orang-orang yang mengaku-ngaku dan ahirnya menyebar fitnah. Syeikh tersebut terbagi atas lima macam dan tingkatan yaitu Syeih futuh, Syeih taslik dan tarbiyah, syeih ta'lim dan syeih tabarruk.

Dan merupakan anugerah Allah SWT kepada Imam Abu Bakar, bahwa guru-guru beliau memiliki kesemua tingkatan tersebut, seperti yang akan dipaparkan dalam pembahasan berikut ini :

1. Ayahandanya, Imam Abdullah Alidrus
Imam Abdullah Alidrus adalah pemimpin Bani Alawi di zamanya, beliau dilahirkan di Tarim pada tahun 811 H, hafal Qur'an, menguasali semua ilmu pada zamannya dan lebih dari itu beliau mengungkuli orang-orang dizamannya dengan ilmu ahwal dan bathin. Beliau diberi nama panggilan (Alidrus) oleh ayahnya, adapun asal muasal nama Alidrus sebagaimana disebutkan dalam kitab "Al-Masyra" adalah nama panggilan seorang Imam para wali Allah, ada juga yang mengatakan bahwa alidrus adalah salah satu nama macan, dan ketika kakeknya, Syeh Abdurrahman Assegaff mendengar kabar gembira tentang kelahiran cucunya, beliau berkata : dia adalah seorang sufi di zamannya, selain itu Imam Abdullah juga dijuluki dengan Alidrus Alakbar, untuk membedakan beliau dengan Alidrus-Alidrus lainnya.

Imam Abdullah Alidrus ditinggalkan oleh sang ayah kea lam baka ketika beliau baru berumur 10 tahun, sepeninggal ayahnya Imam Abdullah dididik dan dibimbing oleh pamannya Syeh Umar Muhdlor, dan setelah menginjak usia dewasa beliau dinikahkan dengan putri Syeh Umar Muhdlor yang bernama Aisyah, selanjutnya Syeh Umar Mudlor membawa Imam Abdullah kepada para guru besar pada zaman itu, maka dengan bersungguh-sungguh Imam Abdullah menimba dari para masyayeh tersebut, hingga beliau menguasai semua ilmu terutama ilmu syariah baik Fiqh, Hadits dan Aqidah, begitu pula halnya dalam ilmu tasawuf. Selain itu Imam Alidrus juga gemar bermujahadah dan riadloh yang beliau dapatkan dari pamannya Syeh Umar Muhdlor, dan ketika Syeih Umar Muhdlor meninggal dunia, Bani Alawi sepakat mengangkat Imam Abdullah sebagai pengganti Syeh Umar Muhdlor. Pada waktu itu beliau berumur 25 tahun, maka semenjak itulah beliau meneruskan jejak sang paman Syeh Umar Muhdlor dalam dakwah ataupun mengajar hingga beliau dipanggil oleh Sang Pencipta ditengah perjalanan pulang ke Tarim dari kota Syihir pada tanggal 12 Ramadlan tahun 865 H, Imam Abdullah Alidrus meninggal dunia dalam usia 54 tahun, dan jasadnya dikebumikan di kampong kelahirannya Tarim pada tanggal 14 Ramadlan,ketika selesai membacakan talqin Syeh Ali bin Abi Bakar saudara kandungnya Imam Abdullah membacakan sauatu bait syair :

غبتم فيا وحشة الدنيا بفقدكم فاليوم لا عوض عنكم ولا بدل

Artinya : Dengan kepergianmu maka turut hilang pulalah singa dunia, dan tidak ada lagi penggantimu

Imam Abdullah merupakan Syeh pertama bagi Imam Abu Bakar, beliaulah yang pertama membuka jalan dan memberikan bekal serta mengembangkan pemahaman dalam perjalanan mencari ilmu, perhatian Imam Abdullah terhadap sang putra begitu besarnya, putranya tidak lepas dari pantauan sang Ayah sebagaimana telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya. Imam Abu baker tumbuh dewasa diabawah asuhan sang ayah sesuai dengan jalan lurus yang ditelusuri oleh Bani Alawi, sejalan dengan perkataan syair :

و ينشأ ناشئ الفتيان منا على ما كان عوده أبوه

Artinya : para generasi muda kita tumbuh besar sesuai didikan orang tuanya
Sang ayah telah membiasakan untuk mengkaji kitab-kitab ilmu pengetahuan secara teliti, juga menghafal Al-qur'an. Maka berkat bimbingan sang ayah, pada usia yang masih belia beliau sudah berhasil mempelajari kitab-kitab ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang, dalam ilmu suluk beliau telah menyelesaikan kitab "Bidayah Alhidaya" dan "Minhaj Alabidin" karangan Imam Ghazali, sedang dalam bidang fiqh beliau telah menyelesaikan kitab "Minhaj Attolibin" dan "Al-Khulashoh" serta kitab "Umdah Ibnu Naqib" selain itu dalam bidang ilmu suluk beliau mempelajari kitab "Al-Ihya" dengan ayahnya, kemudian beliau bernadzar bahwa setiap hari akan membaca sebagian dari kitab Al-Ihya seumur hidupnya.

Pada sauatu saat ayahnya memasukkan beliau ke kamar khalwah, ketika itu Imam Abu Bakar berusia 14 tahun, dan setelah 7 hari berada dalam khalwah maka ayahnya mengeluarkan beliau dan berkata : Alhamdulillah dia (Imam Abu Bakar) tidak memerlukan riyadloh. Adapun riyadlohnya Imam Abu Bakar semasa hidup sang ayah adalah membaca Al-qur'an sebanyak 10 juz dalam shalat malam, hal tersebut dilakukannya pada setiap menjelang akhir malam bersama saudara sepupunya Abdurrahman bin Ali dipinggiran kota Tarim, dan setelah menunaikan shalat malam keduanya kembali ke masjid untuk menunaikan shalat shubuh, disamping itu Imam Abu Bakar dari semenjak kecil sudah terbiasa meninggalkan tidur malam.

Dua bualn menjelang wafatnya Imam Abdullah Alidrus memakaikan pakaian sufi dan mengambil tahkim dan memebrikan ijazah kepadanya, selain itu beliau juga menempatkan putranya dalam kedudukan sang ayah pada bulan Rajab tahun 875 H, pada waktu Imam Abu Bakar Aladeni masih berusia 14 tahun, oleh Karena itu beliau bersabda "Mereka membawanya kepadaku lengkap dengan tali kendalinya, seraya menyuruhku untuk menaikinya, maka akupun menaikinya".

Imam Abdullah Alidrus mempunyai kedudukan yang tinggi di kalangan Bani Alawi, begitu pula dikalangan penguasa pada waktu itu, dalam hal kitab-kitab ilmiah Imam Abdullah Alidrus sangat menggandrungi kitab-kitab karangan Imam Al-Gozali, sehingga beliau bersabda "Kitab-kitab Al-Gozali bisa difahami dan dikaji oleh orang alim dan orang awam", dikalangan masyarakat Imam Alidrus juga terkenal dengan kedermawanannya, hal tersebut sebagaimana disebutkan oleh Imam Abu Bakar dalam suatu bait, bahwa ketika ayahnya meninggal dunia beliau masih mempunyai hutang sebanyak 30 ribu dinar karena infak kepada fakir miskin anak yatim dan para janda,

أما ترى أنني قضيت دين أبي وكان ذاك ثلاثون ألف دينار

Imam Abdullah Alidrus juga meninggalkan beberapa karangan, diantaranya ada yang sudah dicetak seperti kitab "Alkibrit Al-Ahmar" dan karangan beliau yang lainnya masih dalam bentuk tulisan tangan.

2. Syeh Ali bin Abu Bakar Assakran
Syeh Ali diliharikan di Tarim pada tahun 818 H, hafal Qur'an, menguasai ilmu qiroah terutama qiroah Abi Amar dan Nafi', dalam bidang Fiqh hafal "Al-Hawi Assogir" karangan Alquzwini, dalam bidang Nahwu hafal "Al-Hawi", adapun guru Syeh Ali yang paling utama adalah pamannya sendiri Syeh Umar Muhdlor, karena Syeh Umar Muhdlor lah yang merawat Syeh Ali dan saudaranya setelah ditinggalkan ayahnya, selain menimba ilmu dari Syeh Umar Muhdlor dan ulama besar lainya di Hadhramaut, Syeh Ali juga pergi merantau ke luar Hadhramaut untuk menimba ilmu, diantara daerah-daerah yang disinggahi Syeh Ali adalah Syihir, Gail Bawazir dan Aden di Aden beliau berguru kepada Syeh Basykil, pada tahun 849 H, Syeh Ali pergi ke Haromain untuk menimba ilmu dari para ulama disana, beliau juga sempat singgah di Zabid dan menimba ilmu dari para ulamanya.

Awal mulanya Syeh Ali terkenal dengan kedalaman ilmunya daripada tasawufnya, dan kemudian beliau pun menjadi panutan dalam tasawuf, beliau memiliki banyak mujahadah disamping karya ilmiah yang bermacam-macam diantaranya "Mi'raj Al-Hidayah", Al-Burqoh Al-Masyiqoh Fi asanid At-Toriqoh", Ad-Durru AlMudhisy Albahiy Fi Manaqib Syeh Sa'ad bin Ali", dan kitab-kitab lainnya dalam bidang Fiqh, Nahwu, Aqidah dan Kumpulan sayir-syair. Syeh Ali memiliki murid yang banyak baik di Hadhramaut ataupun di luar Hadhramaut, beliau mempunyai perhatian husus terhadap kitab-kitab karangan Imam Gozali terutama kitab Ihya, disebutkan juga dalam kitab-kitab sejarah bahwa Syeh Ali memilki pepatah dan kata hikmah yang mempunyai daya tarik dan pengaruh terhadap jiwa.

Syekh Ali meninggal dunia ketika berceramah memberikan pelajaran diatas mimbar pada tahun 895 H, dan dimakamkan di kampung kelahirannya Tarim.
Syeh Ali merupakan guru Imam Abu Bakar Al-Adeni yang paling berpengaruh terhadapnya, sehingga Imam Abu Bakar condong kepada pamannya tersebut dan selalu ingin berada didekat serta belajar kepadanya.

Diantara kitab-kitab yang beliau pelajari dari Syeh Ali adalah kitab "Awarif Al-Maarif" karangan Imam Sihabuddin Assahrorudi, beliau menyelesaikan kitab tersebut pada tahun 877 H, selain mengajarkan ilmu Syariah Syeh Ali juga memakaikan Khirqoh kepada Imam Abu Bakar dan mengizinkannya untuk memakaikannya, memberikan ijazah atas semua ilmu yangtelah dipelajarinya serta sanadnya, dan untuk mengikat tali kekeluargaan Syeh Ali juga menikahkan Imam Abu Bakar dengan salah satu putrinya ketika ayahanda Imam Abu Bakar masih hidup. Bahkan beliau menulis sebuah qosidah yang berisi pujian terhadap Imam Abu Bakar yang berbunyi :

سلام كنشر المسك بل هو أفخر * وأبهر من شمس الضحى حين
ورحمته والزاكيات غوامر * مضاعفة تغلو وتعلو وتشهر
على فخر دين الله نجل عفيفه * أبي بكر المضال سر ومظهر
رعاه إلهي واحتظاه عناية * وخصصه في حيطة الحفظ مغمر
جزاه إلهي من جزيل عطائه * لطائف لا تحصى تجل وتكبر
ومنه يعود النفع في كل لحظة * على السادة الإخوان يطمو ويغمر
سلام عليه كل حين وطرفة * سلام على الآباء يزكو وينشر
سقى الله ربعا ضمه وطمى الحمى * سوابغ إفضال من الجو تمطر
وأعطاه تمكينا مكينا بطاعة * وحال اشتقاق ما هنالك يبهر
وحصنا حصينا من كمال سلامة * ومحض نصيحات تدل وتبصر
يمد ذوي التسليك همة أثرها * بصادق عزم كامل ليس يفتر
سراية أحوال يفيض بسرها * على قابل للسر للحب مصدر
و تخلع بالمعنى حلى من جمالها * على كل ذي سر صفا ليس يكدر
وفي شرع خير الخلق يكمل حالكم * بتمكين سر للبرايا يبصر
على سر روح الكون معدن سره * صلاة مع التسليم دأبا تكثر
وآل وأصحاب وزوج وعترة * وتابعهم في الهدي بالفضل نغمر
ونسأله بالمصطفى نصح توبة * وحسن ختام بالكمالات يظهر
لنا وفروع والأصول ومن بهم * له سبب أو نسبة حين يذكر
ودائرة الإسلام فاعمم لمن بها * بفياض جود من عطاياك يغمر
فجودك هطال وفضلك دائم * على الكون هتان على الدوب يمطر
بأسمائك الحسنى وأوصافك العلى * وما يقتضيه كم يد ليس تحصر
فنحن بمحض النقص جينا وبالردى * وأنت بمحض الفضل تعفو وتغفر
بوجهك ربي قد سألناك نفحة * تفيض على أصلي وفرعي وتنشر
على من هوى الإسلام بر ومذنب * وما في جبال والسهول ومقفر
أغثهم بغيث منك يا خير مفضل * وعم به كل البلاد لتغمر

3. Syeh Alfaqih Abul Abbas Ahmad bin Abu Bakar Assakran
Syeh Abul Abbas dilahirkan di Tarim, beliau tumbuh dengan bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu dari para gurunya, hingga pada usia yang terbilang masih belia sudah hafal Al-qur'an dan menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, setelah meningjak usia dewasa beliau berkelana keluar Hadhramaut guna menimba ilmu, diantara kota yang beliau tuju adalah Tihamah (wilayah pesisir) Yaman, Zabid dan terakhir beliau menuju Haromain dalam rangka menunaikan ibadah haji serta menimba ilmu dari para ulama di Haromain, beliau dikenal dengan sifatnya yang sangat berhati-hati dalam hal ibadah, selalu berbuat kebaikan dan sering menangis karena takut akan siksa Allah SWT.

Diantara para masyayeh yang berguru kepada beliau adalah keponakannya Imam Al-Adeni, Syeh Abul Abbas merupakan orang ketiga yang menjadi penanggung jawab dan pembimbing Imam Al-Adeni setelah ditinggalkan oleh ayahnya dan pamannya Syeh Ali bin Abu Bakar, beliau juga memberikan Ijazah dalam semua ilmu dari riwayatnya serta sanad-sanad yang tinggi, dan beberapa kali beliau memakaikan Khirqoh kepada Imam Al-Adeni, dan yang terakhir beliau memakaikannya pada tahun 876 H, di kota Tarim.

4. Syeh Sa'ad bin Ali Madzhaj
Beliau adalah Syeh yang mumpuni dalam ilmu zohir dan batin, syeh murobbi dan ahli ibadah Sa'ad bin Ali Al-Hadhrami. Dilahirkan di Tarim dan tumbuh dewasa disana, hafal Al-qur'an namun dengan susah payah, oleh karena itu ibunya membawa beliau kepada Syeh Abdurrahman Assegaff, maka Syeh Abdurrahman berkata kepada sang ibu : "Tinggalkanlah putramu padaku insyaAllah akan mendapat futuh dari Allah SWT". Maka ucapan Syeh Umar Muhdlor itu pun jadi kenyataan, beliau berguru kepada para ulama besar pada zaman itu, dalam ilmu fiqih beliau mengambil dari Syeh Alfaqih Jamaluddin Muhammad bin Hakam Baqusair dan Syeh Abdullah bin Fadol Balhaj, sejarah hidup beliau dibukukan oleh Syeh Ali bin Abu Bakar Assakran dengan judul "Ad-durru al-mudhis al-bahy fi manaqib Syeh Sa'ad bin Ali" dikatakan dalam kitab itu bahwa kepribadiannya mengikuti Al-qur'an dan Hadits, berakhlak dengan akhlak Nabi SAW dan para sahabtanya.

Beliau adalah seorang Syeh yang mempunyai mujahadah yang agung dari shalat dan puasa, beliau juga tidak berbicara kecuali dalam hal yang berfaidah, selalu sibuk dengan koreksi diri serta menggunakan seluruh waktunya dalam hal yang diridloi Allah SWT, disamping itu semua beliau sangat mencintai keturunan Rasulullah SAW serta orang-orang Shaleh dan selalu bersikap lembut kepada orang-orang muslim dan mendoakannya.

Pendek kata Syeh Sa'ad adalah seorang wali yang disepakati oleh para ulama yang terpercaya bahwa beliau telah mencapai derajat "ubudiah mahdlah", dan selama hidupnya digunakan dalam berkhidmah kepada Allah SWT, sehingga beliau dipanggil oleh Sang pencipta pada malam Senin tanggal 9 bulan Rajab tahun 857 H, jasad beliua dimakamkan dikomplek pemakam "Furait" setelah di shalatkan oleh ribuan ulama dan orang shaleh serta masyarakat lainnya.

Syekh Sa'ad merupakan seorang Syeh yang paling berpengaruh terhadap Imam Al-Adeni, beliaulah yang sangat dekat dengan hati dan jiwa Imam Al-Adeni pada semasa kecilnya, sehingga Imam Al-Adeni pernah berkata : "Aku menyangka bahwa ayahku adalah Syeh Sa'ad karena beliau sangat memperhatikanku dan selalu berada didekatku ketika aku masih kecil, dan kalau aku menangis maka dibawalah akau oleh pembantu ke masjid tempat Syeh Sa'ad beri'tikaf dan akupun menjadi tenang bersamanya, pernah pada suatu malam aku menangis dengat sangat kerasnya hingga membangunkan semua penghuni rumah, maka mereka menyuruh seorang pembantu untuk membawaku ke masjid tempat Syeh Sa'ad berada, sesampainya di masjid sang pembantu meletakkan ku didekat Syeh Sa'ad tanpa sepengetahuan beliau, maka aku mendekati beliau dan beliau ketika itu sedang terlentang dan matanya menatap ke atas, ketika beliau tau akan kehadiranku maka beliau mengambilku dan menidurkan lalu menyelimutiku dan memberikan sepotong roti syair yang masih panas, maka akupun terlena dengan roti tersebut hingga terlelap tidur".

Ketika Imam Al-Adeni tumbuh besar maka hubungan beliau dengan Syeh Sa'ad pun semakin erat, beliau dengan bersungguh-sungguh menunutut ilmu dari Syeh Sa'ad dan menjelang Imam Al-Adeni menginjak usia tamyiz Syeh Sa'ad memakaikan Khirqoh kepadanya, kejadian bersejarah tersebut pada bulan Jumadil Awal tahun 857 H, atau 2 bulan sebelum Syeh Sa'ad meninggal dunia.

Imam Al-Adeni berkata : (Kebanyakan madad (anugerah) dari Allah yang diberikan oleh Allah SWT kepadaku adalah berkah Syeh Sa'ad), ketika Syeh Sa'ad wafat umur Imam Al-Adeni kurang lebih tujuh tahun, dan ketika Imam Al-Adeni masih bayi Syeh Sa'ad selalu berkata "anak ini akan mempunyai kedudukan yang tinggi".

5. Syeh Muhammad bin Ali (Shahib Aidit)
Beliau adalah Sayid Syarif Alwali Alarif billah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Alfaqih Ahmad bin Abdurrahman bin Amul Faqih, beliau dikenal dengan "Maula Aidid" karena beliau tinggal di perkampungan yang bernama Aidid yang terletak di sebelah barat kota Tarim, Syeh Muhammad merupakan salah seorang ulama dan wali, adapun para masyayeh yang menjadi guru beliau adalah Syeh Abdurrahman Assegaff, Syeh Muhammad Baqasyir dan Syeh Abdullah bin Fadhol serta banyak lagi masyayeh lainnya.

Syeh Muhammad bin Ali adalah seorang yang luas ilmu pengetahuannya terutama dalam ilmu kedokteran dan ilmu bedah, dalam kesehariannya beliau tidak keluar dari rumah kecuali untuk menunaikan shalat jum'at ataupun berkunjung kepada orang-orang shaleh, banyak para pelajar dan para syeh yang datang berkunjung ke rumahnya untuk menuntut ilmu, Syeh Muhammad bin Ali dipanggil oleh Sang Pencipta pada tahun 862 H, dan dimakamkan di Tarim.

Imam Al-Adeni menemui Syeh Muhammad bin Ali dimasa hidupnya selama 10 tahun, Imam Al-Adeni mendapat ijazah dan ilbas sebagaimana beliau sebutkan dalam "Al-juz Al-latif" ketika menyebutkan nama-nama para Syehnya, dan dalam kitab itu disebutkan bahwa ilbas (memakaikan pakaian sufi), terjadi pada tahun 859 atau 860 H.

6. Syeh Muhammad bin Abdurrahman Balfaqih
Imam Al-Adeni berguru pada beliau di Tarim, dalam ilmu Fiqh, Tasawuf dan sebagainya.

7. Syeh Abdullah bin Abdurrahman Balhaj Bafadhol
Imam Al-Adeni belajar kepada beliau dari mulai mulai beliau menuntu ilmu atas petunjuk dari ayahnya, Imam Al-Adeni banyak belajar ilmu Fiqih dan Hadits dari Syeh Abdullah, beliau dilahirkan pada tahun 850 H, dan wafat pada tanggal 5 bulan Ramadlan tahun 918 H, di Syihir dan dimakamkan disana.

8. Syeh Muhammad bin Ali Bajahdab
Imam Al-Adeni menghafal Al-Qur'an di tangan beliau

9. Syeh Salim bin Gabri
Imam Al-Adeni menghafal Al-Qur'an di tangan beliau

10. Syeh Ibrohim bin Muhammad Bahurmuz
Imam Al-Adeni dipakaikan pakaian sufi oleh beliau di kota Syibam dalam sauatu acara yang besar dengan di hadiri oleh para ulama besar pada tahun 897 H.


11. Syeh Ahmad bin Muhammad bin Utsman Al-Amudi
Dalam kitab "Aljuz Al-latif" Imam Al-Adeni mengatakan bahwa diantara gurunya yang memakaikan pakaian sufi dan memberikan ijazah untuk memakaikannya adalah Syeh Ahmad bin Muhammad bin Utsman Al-Amudi, yaitu pada kunjungan pertama kalinya ke Doan tahun 867 H.

12. Syeh Muhammad bin Ahmad Bafadhol
Dalam "Aljuz Al-Latif" halaman 18 Imam Al-Adeni menyebutkan bahwa diantara para guru besarnya adalah Syeh Muhammad bin Ahmad Bafadhol, beliau dipakaikan pakaian sufi dan memberikan ijazah pada bulan Muharom tahun 887 H, setelah sebelumnya beliau dipakaikan Khirqoh oleh gurunya Syeh Muhammad Bafadhol Alqodli Jamaluddin Muhammad bin Mas'ud Baskil Al-Anshori.

Syeh Muhammad Bafadhol dilahirkan di Tarim tahun 840 H, beliau belajar kepada para ulama di Tarim dan sekitarnya, kemudian pergi ke Syihir dan Gail dalam rangka mencari ilmu, dan kemudian beliau pergi ke Aden, disanalah beliau belajar kepada Syeh Al-Allamah Muhammad Mas'ud Baskyl, Syeh Muhammad bin Ahmad Bahumaisy, dengan kesungguh-sungguhannya beliau mampu menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan. Syeh Muhammad Bafadhol sangat menghormati Imam Al-Adeni, salah satu buktinya adalah kalau Imam Al-Adeni datang dari berpergian maka beliau mendahuluinya masuk ke Aden untuk memberi tahukan para penduduk akan kedatangan Imam Al-Adeni dan menyuruh mereka untuk menyambut kedatangannya. Ketika beliau ditanya tentang hal itu beliau mengatakan bahwa hal tersebut agar rahmat Allah turun kepada mereka berkat melihat beliau dan dilihat oleh beliau. Penguasa Aden pada masa itu Sultan Amir bin Abdul Wahab sangat menghormati Syeh Bafadhol dan tidak pernah menolak permintaan dan perintah Syeh Bafadhol kepadanya, disamping itu beliau memiliki kedudukan yang tinggi dan sangat dihormati oleh para penduduk Aden dan sekitarnya, tentang hal tersebut Syeh Syarif Umar bin Abdurrahman Baalawi mendendangkan bait syair yang berbunyi :

سلام على شخص به عدن زهت أبي فضل المشهور زين الشمائل
جمال لدين الله خادم شرعه دليل طريق الله بدر المحافل

Syeh Muhammad Bafadhol meninggalkan beberapa karya ilmiah dalam berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan diantaranya :

1.
Syarah judul bab kitab Imam Al-Buhkori dalam ilmu Hadits
2. Mukhtasor "Qowaid Zarkasyi" yang dikenal dengan nama "Al-Mantsur" dalam ilmu Usul Fiqh
3. Syarah Mukhtashor Al-Mantsur
4. Al-Uddah Wassilah Li Mutawali Aqdi Annikah dalam ilmu Fiqh
5. Syarah "Alfiah Al-Barmawi" dalam Usul Fiqh serta banyak lagi karangan beliau yang sangat bermanfaat.
Syeh Muhammad bin Ahmad Bafadhol meninggal dunia pada hari Sabtu tanggal 15 Syawal tahun 903 H, di kota Aden dan dimakamkan disana.

13. Syeh Abdullah bin Ahmad bin Ali Bamakhromah
Tentang biografi Syeh Abdullah bin Ahmad bin Ali Bamakhromah disebutkan dalam kitab "An-Nur Assafir" halaman 30 dan seterusnya. Disebutkan bahwa Syeh Abdullah Bamakhromah dilahirkan di Hajren pada bulan Rojab tahun 833 H, beliau tumbuh besar di kampung kelahirannya serta menghafal Al-Qur'an, setelah menginjak dewasa beliau pergi Aden untuk menuntut ilmu, setibanya di Aden beliau belajar kepada kedua Imam di Aden yaitu Muhammad bin Mas'ud Basykil dan Muhammad bin Ahmad Bahamis, walaupun keadaan beliau yang miskin harta namun tidak menghalangi beliau untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, hingga berkat kesungguhannya dalam belajar beliau mampu menguasai ilmu pengetahuan yang diterima dari para masyayeh serta mengungguli rekan-rekannya dalam belajar, dan kemudian menjadi mufti disana.

Syeh Abdullah Bamakhromah akhirnya dinikahkan oleh gurunya Syeh Muhammad Baskil dengan salah seorang putrinya, dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai beberapa orang anak daiantaranya At-Thoyib bin Abdullah Bamakhromah.

Pada masa kekuasaan kerajaan At-Thahiriah Syeh Abdullah Bamkhromah menjabat sebagai Qodli selama 2 tahun lamanya, maka selama beliau menjabat sebagai Qodli tegaklah keadilan, namun kemudian beliau kembali ke Hadhramaut guna menjauhi dari jabatan Qadli, hingga kemudian Sultan Ali bin Thohir membebaskan beliau dari jabatan tersebut maka beliau kembali lagi ke Aden dan menetap disana hingga dipanggil oleh Sang Pencipta pada bulan Muharam tahun 903 H.

14. Syeh Ahmad bin Umar Al-Mazajjad
Beliau adalah Sofiyuddin Al-qodli Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdurrahman bin Al-qodi Yusuf bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Hassan bin Raja Saif bin Dzi Yazan Al-Madzhaji Assaifi Al-Murodi Sihabudiin yang dikenal dengan julukan Al-Mazajjad, Assyafi'I Az-Zabidi.

Syeh Ahmad merupakan salah seorang ulama yang terkenal dan tergolong dalam ulama muhakkik dan qaulnya muktamad dalam madzhab Syafi'I, beliau adalah seorang alim yang mumpuni dalam berbagai bidang ilmu baik ilmu usul ataupun furu'. Di lahirkan di pinggiran perkampungan Zaidiyah dan tumbuh besar disana, beliau belajar kepada beberapa ulama Bait Alfaqih, Taiz dan lainnya, menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan terutama dalam ilmu Fiqh dan dalam bidang tersebut beliau tidak ada duanya pada waktu itu. Diantara karya beliau yang terkenal adalah "Al-Ubab Al-Muhit Bima'dzomi Nususu Asyafi'I Walashab", Syeh Al-Mazajjad memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidang syair dan mempunyai gubahan-gubahan serta teori-teori dalam bidang tersebut. Beliau menjabat sebagai Qadli di wilayah Aden dan Zabid, selama menjabat sebagai qodli beliau menjalaninya dengan ikhlas dan bersih dari segala subhat, setiap waktu dalam hari-harinya dibagi dengan teratur.

Beliau mempunyai hubungan erat dengan Imam Al-Adeni diantara keduanya sering berkirim surat dan bertukar bait syair, yang akan kami sebutkan beberapa contohnya pada bab berikutnya. Syeh Al-Mazajjad meninggal dunia pada akhir bulan Rabi Alakhir tahun 930 H, dan dimakamkan di Bab Siham.

15. Syeh Yahya bin Abu Bakar Al-Amiri
Tentang Syeh Yahya Al-Amiri, Imam Al-Adeni dalam "Aljuz Al-latif" mengatakan : diantara guru-guruku adalah Sayidi Syeh Alfaqih Al-Imam Al-Hafiz Al-Muhaddits Al-Allamah Alwali Ashalih Yahya bin Abu Bakar Al-Amiri, beliau memakaikanku Khirqoh Syarifah dari Syehnya Assyarif yang dikenal dengan Al-Musawa Ahmad bin Yahya dan memberikan ijazah kepadaku untuk memakaikan Khirqoh di masjid Asyamsi kota Hirid pada tahun 880 H, ditengah-tengah perjalananku ke Tanah Suci.

16. Syeh Maqbul bin Abu Bakar Az-Zailai
Beliau dikenal dengan julukan Shahibullihyah, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Adeni dalam "juz latif".

17. Syeh Maqbul bin Musa Az-Zailai
Tentang Syeh Maqbul bin Musa Imam Al-Adeni menyebutkannya dalam "Juz Latif"
18. Syeh Muhammad bin Abdurrahman Assakhowi
Beliau adalah Al-Imam Al-Hafiz ahli sejarah Alfaqih Al-Allamah Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Bakar bin Utsman bin Muhammad Assafi'I berasal dari Qohiroh dan meninggal di Madinah, dimakamkan di komplek pemakaman Al-Baqi disamping makam Imam Malik.

Dilahirkan pada bulan Robi Alawal tahun 831 H, hafal Qur'an pada usianya yang masih anak-anak, selain itu belaiu juga hafal "Minhaj" karangan Imam Nawawi, Alfiah Ibnu Malik, Nukhabah Alfikr karangan gurunya Syeh Ibnu Hajar, Alfiah Aliraqi, sebagian besar dari "Syatibiah" serta Muqoddimah Assyawi dalam ilmu Arudl. Beliau juga ikut berperan dalam bidang ilmu Faraidl, Hisab, Almiqot, Usul Tafsir dan Fiqh. Berguru kepada kurang lebih 400 orang syeh, mendapat izin dari para gurunya untuk memberikan fatwa dan mengajar serta mengimla' Hadits. Mendengar Hadits Nabi SAW dari Syeh Asyihab Ibnu Hajar, beliau selalu mendampingi Syeh Ibnu Hajar dan mempelajari semua karangan gurunya tersebut dan mendampinginya hingga Syeh Ibnu Hajar wafat.

Setelah Syeh Ibnu Hajar meninggal dunia, beliau berkeliling untuk menyebarkan ilmu pengetahuan dan menambahnya serta mencari sanad, kemudian kembali lagi ke Haromain dan menetap di Mekah dan mengajar serta berfatwa serta mengimla' Hadits. Syeh Assakhawi memiliki karya ilmiah yang bermanfaat terutama dalam bidang Hadits dan sejarah, diantara karangan beliau adalah : Almaqosid Alhasanah, Fathul Mugits Syarah Alfiah Iraqi, Alqaul albadi' Fi Shalat Alalhabib Assyafi', Ad-Dau' Allami' Li Ahlilqorni At-tasi', Al-Manhal Al-azbi Ar-rawi Fi Tarjamah Al-Imam Nawai, Aljawahir Wadduror tentang sejarah Syeh Ibnu Hajar dan banyak lagi karangan beliau dalam berbagai macam bidang ilmu, Syeh Assakhawi wafat pada tahun 902 H.

19. Syeh Ahmad bin Ahmad Asyarji
Beliau adalah Syeh Al-Allamah Alfaqih Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Abdulatif bin Abu Bakar Asyarji Al-Hanafi, dilahirkan di kota Zabid pada tahun 811 H, beliau berguru kepada para ulama besar zaman itu baik di dalam Zabid ataupun dari luar, diantara guru beliau adalah Syeh Ahmad bin Abi Bakar Arradad, Syeh Annafis Alalawi, Syeh Attaqi Alfasi, Syeh Ali bin Aljazari, Syeh Abu Alfatah Al-Marogi dan lainya.

Syeh Asyarji mempunyai banyak karya ilmiah, sebagian besar dari karangannya adalah dalam Hadits dan yang paling terkenal adalah kitabnya yang bernama "At-Tajrid As-Sharih Li ahadits As-Shahih" dan "Tobaqot Al-Khowash Ahli As-shidqi Walikhlash" tentang ulama tasawuf di Yaman.

Pertemuan antara Imam Al-Adeni dengan Syeh Asyarji terjadi pada tahun 881 H, ketika Imam Al-Adeni melakukan perjalanan ke tanah suci Mekah untuk melaksanakan ibadah haji dan singgah di kota Zabid, dalam kesempatan tersebut keduanya salaing tukar ilmu pengetahuan dan pada kesempatan itu pula Imam Al-Adeni meminta waktu kepada Syeh Syarji untuk mutola'ah kitabnya yang bernama Tobaqot Alkhawash, dan ketika selesai dari mutola'ah kitab tersebut Imam Al-Adeni menulis surat yang berbentuk bait syair kepada Syeh Syarji yang berbunyi :

شهاب الدين قد أحييت ذكرا لأرباب الكمال وزدت فخرا
فقد نظمته عقدا ثمينا حوى كم جوهر عال ودرا

Dan seterusnya….
Syeh Ahmad bin Ahmad Assyarji meninggal dunia di Zabid pada bulan Robi Tsani tahun 893 H/1487 M.

20. Syeh Abu Alqosim Al-Makki
Syeh Abu Alqosim merupakan salah satu guru Imam Al-Adeni yang disebutkan dalam kitabnya "Al-Juz Al-Latif", dalam kitab tersebut dikatakan bahwa Syeh Abu Alqosim memakaikan Khirqoh serta memberikan izin kepada Imam Al-Adeni untuk memakaikannya dengan sanad yang bersambung hingga Syeh Abdul Qodir Jaelani, kejadiana tersebut pada tahun 880 H, ketika beliau akan menunaikan ibadah haji.

21. Syeh Abdullah bin Aqil Baabbad
Tentang Syeh Abdullah bin Aqil Imam Al-Adeni menyebutkannya dalam kitab "Al-Juz Al-Latif" di sela-sela menyebutkan sanadnya kepada Syeh Abdulqodir Al-Jaelani, bahwa Syeh Abdullah bin Aqil Baabbad memakaikannya Khirqoh Syarifah serta memberikan izin untk memakaikannya.

22. Syeh Abdullatif bin Ahmad Asyarji Az-Zabidi Al-Hanafi
Syeh Abdullah bin Ahmad disebutkan dalam "Al-Juz Al-Latif" dalam golongan ulama yang memakaikan Khirqoh kepada Imam Al-Adeni dan memberikan izin untuk memakaikanya, hal tersebut terjadi pada tahun 880 H, di kota Zabid ketika Imam Al-Adeni berkunjung ke kediaman Syeh Abdullah, beliau meninggal di Zabid pada tahun 928 H.

23. Syeh Afifuddin Abdulatif bin Musa Al-Masyrai
Syeh Afifuddin disebutkan dalam "Al-Juz Al-Latif" dalam golongan ulama yang memakaikan Khirqoh kepada Imam Al-Adeni dan memberikan izin untuk memakaikanya dengan sanad yang bersambung kepada Syeh Abdul Qodir Al-Jailani.

24. Syeh Alfaqih Jamaluddin Muhammad bin Ahmad Ad-Dahmani Al-Qairowani
Syeh Jamaluddin disebutkan dalam "Al-Juz Al-Latif" dalam golongan ulama yang memakaikan Khirqoh kepada Imam Al-Adeni dan memberikan izin untuk memakaikanya pada bulan Muharam tahun 904 H, di Mekah dengan sanad yang bersambung kepada Syeh Al-Junaid.

25. Syeh Abu Bakar (Abu Harbah)
Disebutkan dalam "Al-Juz Al-Latif" : diantara para ulama yang memakaikanku Khirqoh Syarifah dan memberikan izin untuk memakaikannya dengan sanad yang bersambung kepada Syeh Abdul qodir adalah Sayidi Syeh Alwali putra Alwali Syeh Almahjub Abu Bakar yang dikenal dengan julukan Abu Harbah, hal tersebut terjadi di Mekah pada tahun 885 H ketika pertama kalinya aku menunaikan ibadah haji.

26. Syeh Musa bin Abdurrahman (Penguasa Arhab)
Belaiu adalah termasuk salah satu guru besar daripada para ulama Fiqih, antara Imam Al-Adeni dan Syeh Musa terdapat hubungan yang erat, diantara keduanya sering kali berkirim surat baik dalam bentuk bait syair ataupun lainya, diantaranya sebuah surat dari Imam Al-Adeni yang disebutkan -dalam buku kumpulan syair-sayir Imam Al-Adeni- sebagai jawaban kepada Syeh Musa yang meminta izin kepada Imam Al-Adeni untuk ziarah ke Aden.

أهلا بكم ومرحب ياساكنين أرحب
بل ساكني فؤادي قربتم ونا اقرب
إليكم وأطرب في خالص الوداد

Walaupun Syeh Musa sangat menjaga tatakrama dengan Imam Al-Adeni dan sangat tawadu' dengannya namun Imam Al-Adeni menganggap bahwa Syeh Musa sebagai gurunya begitu juga sebaliknya. Memang begitulah ahklak para ulama dahulu, mereka selalu mengambil berkah dan ilmu dari orang alim dan bertaqwa walaupun lebih muda usianya ataupun derajatnya lebih rendah.

Murid-Murid Imam Al-Adeni


Pembahasan tentang para ulama dan pelajar yang belajar kepada Imam Al-Adeni atau hanya sekedar mengambil berkah atau orang-orang yang khidmah kepada beliau baik mereka yang berasal dari kota-kota di Yaman ataupun dari luar Yaman adalah sangat panjang sekali, namun penulis akan menyebutkan beberapa orang dari ulama yang pernah menimba kepada Imam AL-Adeni.

1. Syeh Abdurrahman bin Ali bin Abu Bakar Assakran
Syeh Abdurrahman bin Ali adalah putra pamannya Imam Al-Adeni Syeh Ali bin Abu Bakar Assakran, beliau dilahirkan di Tarim pada tahun 850 H, hafal Qur'an dan tumbuh dewasa sebagaimana tumbuhnya orang-orang shaleh dan dalam keluarga yang shaleh serta lingkungan shaleh juga, suatu factor penting dalam membentuk pribadi yang siap menerima dan menjalankan segala perintah Allah dan melakukan mujahadah serta pembersihan jiwa dari segala kotoran batin dengan bimbingan dari para ulama besar pada zaman itu.

Sehinga sebagaimana telah disebutkan dalam biografi Imam Al-Adeni bahwa diantara mujahadahnya adalah setiap malam Imam Al-Adeni bersa putra pamannya Syeh Abdurrahman bin Ali pergi ke pinggiran kota Tarim dan melakukan shalat malam dengan membaca 10 juz daripada Al-qur'an, mereka melakukan hal tersebut hingga menjelang datangnya waktu shalat fajar, apabila tiba waktu shalat maka mereka berdua kembali ke Tarim untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid dengan Imam Alidrus, begitulah hubungan keduanya dari sejak belia sudah begitu eratnya dan demikian seterusnya hingga keduanya menjadi orang yang mempunyai kedudukan dan ilmu yang tinggi.

Dalam permulaan belajarnya Syeh Abdurrahman memulainya dengan ayahandanya Syeh Ali bin Abu Bakar Assakran, dari ayahnya Syeh Ali mempelajari berbagai kitab dalam berbagai macam bidang ilmu, terutama kitab Ihya Ulumuddin, hingga diriwayatkan bahwa beliau menamatkan Ihya dengan ayahya sebanyak 40 kali.

Selain menimba ilmu dari sang ayah Syeh Abdurrahman juga belajar kepada ulama-ulama Hadhramaut pada zaman itu, dan kebanyakan dari guru Imam AL-Adeni adalah guru Syeh Abdurrahman juga terutama para ulama yang mereka temui di tengah-tengah perjalanan ke tanah suci Mekah.

Setelah Imam Al-Adeni menetap di Aden, hubungan keduanya tetap erat hal tersebut bisa terbukti dengan saling kirim surat antara Syeh Abdurrahman dan Imam Al-Adeni, yang akan disebutkan dalam pembahasan kumpulan surat-surat Imam Al-Adeni insyaAllah.

2. Syeh Umar bin Abdullah Alidrus
Dilahirkan tahun 926 H, meninggal dunia pada bulan Muharam tahun 1000 H dan dimakamkan disamping makam Imam Abu Bakar Al-Adeni dalam qubah.
Syeh Umar menimba ilmu dari Imam Al-Adeni secara sempurna dan setelah itu dinikahkan oleh Imam Al-Adeni dengan putrinya yang bernama Syarifah Muznah.
Selain terkenal dengan keilmuannya Syeh Umar juga dikenal oleh masyarakat sebagai dermawan, orang yang sangat bijak, dan sangat rajin beribadah, dan sangat tawadu', dikisahkan pada suatu majlis ada seorang yang membaca syair yang berisi pujian terhadap Syeh Umar, maka seketika itu beliau menyuruh orang itu untuk keluar dari majlis. Syeh Umar memegang masjid dan menjadi imam di masjid peninggalan kakeknya setelah saudaranya Muhammad bin Abdullah meninggal dunia di Mekah pada tahun 978 H.

Dari Syeh Umar inilah tersebar keturunan Imam Al-Adeni karena selain putrinya yang menikah dengan Syeh Umar Imam Al-Adeni tidak memiliki keturunan lagi.

3. As-Syeh Syeh bin Abdullah Alidrus
Diantara murid Imam Al-Adeni adalah Syeh bin Abdullah Alidrus adik Imam Al-Adeni, dilahirkan di Tarim dan tumbuh besar disana dalam bimbingan ayah serta pamannya dan ulama pada zaman itu, ketika usianya menginjak 14 tahun dipinta oleh Imam Al-Adeni untuk tinggal di Aden guna menuntut ilmu pada ulama disana, setelah selesai menghafal Al-qur'an pada Syeh Abdurrazaq Al-Khatib, Syeh bin Abdullah diizinkan untuk pergi ke Tarim oleh Imam Al-Adeni dan menetap disana selama 5 tahun lamanya, kemudian kembali lagi ke Aden dan menimba ilmu dari sang kakak Imam Al-Adeni, dengan giat dan sungguh-sungguh Syeh bin Abdullah menuntut berbagai macam ilmu dari Imam Al-Adeni hingga tiba saatnya Imam Al-Adeni dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, setelah sang guru wafat Syeh bin Abdullah pun kemudian kembali lagi ke Tarim.

Diantara wasiat Imam Al-Adeni kepada Syeh bin Abdullah adalah wasiat yang ditulis oleh Imam Al-Adeni kepada Syeh yang berbunyi : "Jangan sekali-kali megurusi hal yang tidak bermanfaat, dan jangan gembira dengan pangkat dan kekuasaan dan berkatalah : Wahai raja pada hari kiamat hanya kepadaMu aku menyembah dan hanya kepadaMu aku meminta pertolongan".

Syeh bin Abdullah Alidrus meninggal dunia pada awal bulan Muharam tahun 919 H, dan dimakamkan di kota kelahirannya Tarim.

4. Syeh Alhusain bin Abdullah Alidrus
Diantara murid Imam Al-Adeni adalah adiknya Syeh Alhuasin bin Abdullah Alidrus, dilahirkan di Tarim pada tahun 861 H, hafal Qur'an dalam usia anak-anak dan tumbuh besar dalam bimbingan sang ayah Imam Abdullah Alidrus serta para ulama pada zaman itu, dalam fiqih Syeh Alhuasin belajar kepada Syeh Alfaqih Abdullah bin Ahmad Bakatsir, Alqodli Ibrahim bin Dzahiroh, Syeh Alfaqih Muhammad bin Abdurrahman Al-Asyqo' dan Syeh Alallamah Alfaqih Abdul Hadi Assudi sebelum beliau mazdub, setelah usianya menginjak dewasa Syeh Alhusain pergi ke Mekah guna menuntut ilmu dari para ulama disana, dan menetap disana selama 2 tahun, kemudian kembali lagi ke Tarim dan menetap disana.

Syeh Alhuasin selain terkenal dengan kedalaman ilmunya terutama dalam bidang ilmu falak dan qiroah, beliau juga dikenal sebagai seorang dermawan, bahkan Imam Al-Adeni mengatakan bahwa Syeh Alhusain lebih dermawan daripadaku, ketika ditanya apa sebabnya? Imam Al-Adeni menjawab, karena Syeh Alhusain menafkahkan hartanya dalam keadaan sulit sedangkan aku menafkahkan hartaku dalam keadaan cukup, karena itu dia lebih dermawan dariku.

Syeh Alhuasin meninggal dunia di Tarim pada tanggal 16 Muharam tahun 917 H. tentang Syeh Alhuasian seorang penyair berkata :

إن الحسين تواترت أخباره في فضله عن سادة فضلاء
غيث يسح على العفاة سحابه سحا إذا شحت يد الأنواء
تال لآثار النبي محمد متمسك بالسنة البيضاء
ورث المكارم والعلى عن سادة ورثوا عن الأسلاف والآباء

5. Syeh Abdullah bin Syeh bin Abdullah Alidrus
Diantara murid Imam Al-Adeni adalah Syeh Abdullah bin Syeh, dia dilahirkan di lembah Damun dengan di hadiri oleh Imam Al-Adeni, ketika Syeh Abdullah lahir Imam Al-Adeni mengadzaninya di kuping kanan dan memabacakan komat dikuping kirinya sesuai tuntunan sunnah Rasul Saw, setelah itu menyuapinya dengan kurma, dan berkata kepada saudaranya Syeh bin Abdullah Alidrus : "Anak ini adalah anakku dan yang akan mewarisiku maka jagalah dia nisacaya kamu akan di jaga oleh Allah SWT".

Syeh Abdullah bin Syeh dilahirkan pada tahun 787 H, semenjak kecil beliau sudah mendapatkan bimbingan dan ajaran dari para ulama pada zaman itu, terutama dari ayahnya dan pamannya Syeh Alhusain bin Abdullah Alidrus, ketika umurnya menginjak 14 tahun datanglah surat dari Imam Al-Adeni kepada Assyeh Syeh bin Abdullah yang isinya meminta saudaranya itu mengirimkan putranya ke Aden guna menuntut ilmu disana, maka sesuai permintaan Imam Al-Adeni diutuslah Syeh Abdullah bin Syeh ke Aden, tiba di Aden Syeh Abdullah disambut dengan gembira oleh Imam Al-Adeni dan beliau memerintahkan Syeh Ashaleh Abdurraziq Al-Khatib untuk mengajari Syeh Abdullah Al-qur'an dan menghafalnya, dan setiap hari menyetorkan hafalannya kepada Imam Al-Adeni hingga selesai menghafal seluruh Qur'an.

Setelah 2 tahun lamanya tinggal dalam asuhan dan bimbingan Imam Al-Adeni Syeh Abdullah bin Syeh akhirnya kembali ke Tarim dan tinggal disana selama 5 tahun dan kemudian kembali lagi ke Aden untuk meneruskan menuntut ilmu kepada pamannya Imam Al-Adeni, dan seterusnya menetap disana menuntut ilmu hingga wafatnya Imam Al-Adeni bahkan ketika wafat Imam Al-Adeni berada dalam pangkuan Syeh Abdullah.

Sepeninggal Imam Al-Adeni, Syeh Abdullah kembali ke Tarim kemudian menikah dan menetap disana, hingga pada tahun 917 H beliau diundang untuk datang ke Aden oleh saudara sepupunya Syeh Ahmad bin Abu Bakar, maka bertolaklah beliau menuju kesana guna memenuhi undangan tersebut, setibanya disana beliau disambut gembira oleh Syeh Ahmad dan menetap beberapa waktu lamanya di Aden dan kemudian kembali lagi ke Tarim.

Setelah Syeh Ahmad bin Abu Bakar meninggal dunia (Thn 922 H) Syeh Abdullah bin Syeh pergi ke India, disana beliau mendapat sambutan baik dari penguasa India pada masa itu Sultan Madzhar bin Mahmud, dari sana beliau kembali ke Tarim dan kemudian bertolak ke Aden pada masa kekuasaan Pangeran Marjan, maka semenjak itu beliau terjun dalam penyebaran dakwah dan mengajar masyarakat disana, hingga selanjutnya beliau pulang pergi antara Hadhramaut dan Aden.

Pada masa kekuasaan Syeh Abdul Malik bin Thahir tahun 927 H, Syeh Abdullah menetap lagi di Aden selama 9 tahun, kemudian kembali ke Tarim, pada tahun 937 H, Syeh Abdullah berniat melakukan ibadah Haji, maka berangkatlah beliau menuju tanah suci Mekah, namun sebelumnya beliau singgah dulu di Aden yang pada waktu ada dalam kekuasaan Sultan Amir bin Daud, kemudian pada tahun 938 Syeh Abdullah melanjutkan perjalanannya ke tanah suci Mekah guna menunaikan ibadah Haji, setelah menunaikan ibadah Haji dan ziarah ke Madinah beliau menetap di Mekah selama 1 tahun dan pada musim haji berikutnya beliau menunaikan ibadah Haji untuk yang kedua kalinya, dari Mekah beliau kembali ke Aden dengan menggunakan jalan laut dan menetap di Aden hingga tahun 943 H, kemudian beliau melanjutkan perjalanannya menuju kampung halaman Tarim dengan menggunakan jalan darat, dari Aden Syeh Abdullah menuju Khanfar dari Khanfar ke Abyan dan disana beliau ziarah Syeh Ibnu Abilja'di, dari sana dilanjutkan ke kampung Masjid yang kemudian dikenal dengan nama kampun Syeh Salim, dari sana kemudian menuju Ahwar, disana Syeh Abdullah ziarah kepada Syeh Ahmad Baljafar, dari Ahwar kemudian ke Maifaah, Gidun dan tiba di Tarim pada bulan Dzul hijjah tahun 943 H, dan selanjutnya beliau menetap di Tarim dipanggil Allah Yang Maha Kuasa pada tanggal 14 Sya'ban 944 H, Syeh Abdullah dimakamkan di pemakaman keluarga Baalawi di Tarim.

6. Syeh Ahmad Al-Musawa bin Abu Bakar Al-Adeni
Beliau adalah penerus perjuangan Imam Abu Bakar dalam menyebarkan dakwah islamiah, dilahirkan di Tarim pada tahun 882 H, Syeh Ahmad Al-Musawa tumbuh besar di Tarim dalam naungan dan bimbingan para ulama disana, dan ayahnya Imam Al-Adeni selalu mengirim surat yang berisi dorongan kepada putranya agar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, hal tersebut sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Haddad dalam "Kumpulan surat menyuratnya" : seperti yang aku lihat sebelumnya dalam surat yang ditulis oleh guruku Syeh Abu Bakar Al-Adeni kepada putranya Syeh Ahmad ketika dia masih berada di Tarim yang berisi perintah untuk belajar ilmu nahwu kepada Alfaqih Syeh Abdullah bin Abdurrahman Balhaj Bafadhol.

Kemudian beliua hijrah ke Aden mengikuti sang ayah Imam Al-Adeni, untuk khidmah kepada kedua orang tua dan menuntut ilmu dari sang ayah dan para ulama di Aden. Setelah beliau menguasai ilmu pengetahuan serta mendapatkan ijazah dari sang guru, kemudian atas permintaan dari sultan Nashiruddin Alhalwani pengauasa Zaila', Imam Al-Adeni mengutus Syeh Ahmad Al-Musawa ke Zaila' guna menyebarkan dakwah islamiah disana, antara Imam Al-Adeni dan Sultan Nashiruddin sering saling berkirim surat dan Imam Al-Adeni seringkali mengisyaratkan kepada putranya dengan tanpa berlebihan, diantara pujian Imam Al-Adeni atas putranya Syeh Ahmad Al-Musawa sebagaimana disebutkan dalam salah satu Qasidah yang berbunyi :

و خص لنا شهاب الدين حقا فنعم القرم إن ذكر القروم
سلاما دائما في كل حين لعل بحقه يوما نقوم
إمام سيد حبر فريد و عند الغيظ ذو عفو كظوم
كريم الأصل من سلفي معد جزيل الحلم إن ضاعت حلوم
له القدح المعلى في المعالي وبحر ما له أحد يعوم
يجيب دعاءه ذو العرش حقا ومن نفثاته تشفى الكلوم
له كف تلقف كل سقم عصا موسى النبي نعم الكليم
رعاه الله من ولد برير كلاه الله ما طلعت نجوم
أقر الله عيني بالتملي برؤيته وإن رغم الخصوم
وأبقانا الجميع بخير عيش فجود إلهنا جزل عميم

Dan ketika suatu saat Imam Al-Adeni terbelit hutang karena saking dermawannya beliau, ketika itulah Allah menggerakkan hati sultan Nashruddin Abdullah Al-Halwani untuk membayar hutang Imam Al-Adeni, maka sultan Nashruddin mengirim uang bersama Syeh Ahmad kepada Imam Al-Adeni, sesampainya Syeh Ahmad di Aden maka dipanggillah semua orang yang memiliki piutang kepada Imam Al-Adeni dan dibayarkan piutangnya tersebut.

Pada pertengahan Ramadlan Syeh Ahmad Al-Musawa kembali lagi ke Zaila' dan selanjutnya menetap disana hingga datanglah berita wafatnya sang ayah Imam Al-Adeni, setelah datangnya berita teresebut lalu Syeh Ahmad kemabli ke Aden dan menetaplah disana serta meneruskan perjuangan Imam Al-Adeni dalam menyebarkan dakwah islamiayah serta menyantuni anak yatim dan fakir-miskin.

Syeh Bahraq dalam kitabnya "Mawahib Alquds" mengatakan bahwa setelah Imam Al-Adeni meninggal dunia Syeh Ahmad dimimpikan beliau menggendong ayahnya pada pundaknya, tetapi beliau tidak mau menakwilinya, adapun takwil daripada mimpi tersebut adalah Syeh ahmad sepeninggalnya Imam Al-Adeni akan menggantikan maqom ayahandanya di Aden serta kakeknya di Hadhramaut.

Pada pembahasan lain Syeh Bahraq mengatakan bahwa suatu ketika ada hal yang tercela yang dilakukan oleh salah seorang pengikut dan pembantunya Imam Al-Adeni, hal yang mungkin tidak bisa dimaafkan kecuali oleh orang-orang seperti Syeh Ahmad, namun karena aku takut orang tersebut akan mendapat murka dari Syeh Ahmad karena walau bagaimana beliau adalah manusia biasa, maka aku menghadap kepadanya dan memohon agar memaafkan orang tersebut, maka Syeh Ahmad berkata : Kami akan merawat dan menjaga hewan peninggalan ayah, apalagi pembantu dan para pengikut beliau.

Tentang Syeh Ahmad yang akan menggantikan maqom ayahnya Imam Abu Bakar Al-Adeni, hal tersebut telah diisyaratkan oleh Imam Al-Adeni dalam akhir kitabnya "Al-juz Al-latif", yaitu dengan memakaikan khirqoh syarifah dan mengizinkan untuk memakaikannya dengan sanad yang bersambung kepada para gurunya Imam Al-Adeni, hal tersebut terjadi pada hari Jum'at tanggal 5 bulan Syawal 894 H.

Syeh Ahmad Al-Musawa bin Abu Bakar meninggal dunia dalam usianya yang ke 64 tahun pada akhir bulan Muharam tahun 922 H di Aden, dan dimakamkan disamping kanan makam Imam Abu Bakar Al-Adeni.
Syeh Ahmad Al-Musawa dikaruniai dua orang putra namun kedua-duanya meninggal sebelumnya, maka beliau tidak mempunyai keturunan yang mewarisi.

7. Syeh Muhammad bin Umar Bahraq
Syeh Muhammad bin Umar Bahraq dilahirkan di Hadhramaut pada pertengahan Sya'ban tahun 869 H, tumbuh besar disana, hafal qur'an serta menguasai dasar-dasar ilmu bahasa Arab dan Syariat daripada ulama-ulama di Hadhramaut sseperti Syeh Alfaqih Muhammad bin Ahmad Bajarfil, setelah itu beliau pergi ke Aden, disana belajar kepada Syeh Abdullah bin Ahmad Bamakhromah dalam berbagai bidang ilmu, Fiqih, Usul Fiqh, Bahasa Arab dan sebagainya, sealain itu beliau juga belajar kepada Syeh Alfaqih Muhammad bin Ahmad Bafadhol.

Dari Aden Syeh Bahraq menuju kota Zabid, disana beliau belajar kepada para ulama besar di masa itu, seperti Alallamah Zainuddin Muhammad bin Abdullatif Assyarji, Alfaqih Jamaluddin bin Muhammad bin Abu Bakar Ad-dhai' dan Sayid Alhusain bin Abdurrahman Al-Ahdal, Sayid Husain inilah yang memakaikan Khirqoh kepadanya, disamping itu Syeh Muhammad Bahraq juga mempunyai sama' dari Al-Hafidz As-Sakhowi di Mekah, Syeh Umar selain dikenal dengan keilmuannya juga dikenal fasih dan mahir dalam ceramah dan syair, sedang dari segi budi pekertinya beliau dikenal bijak dan orang yang dermawan terutama kepada para penuntut ilmu.

Di Aden Syeh Umar Bahraq juga belajar kepada Imam Al-Adeni, dan beliau menulis kitab yang berisi tentang riwayat hidup Imam Al-Adeni dan diberi nama "Mawahib Alquds Fi manaqib Ibn Alidrus".

Sekembalinya ke Hadhramaut Syeh Umar Bahraq menjabat sebagi Qodli di kota Syihir, namun kemudian beliau mengundurkan diri dan kembali lagi ke Aden, disana beliau disambut hangat terutama oleh penguasa Aden masa itu Pangeran Marjan bin Abdullah Azzafiri, dan setelah Pangeran Marjan meninggal dunia Syeh Bahraq pergi menuju India, disana disambut ramah oleh penguasa India masa itu sultan Mudzofar bin Mahmud.

Syeh Umar Bahraq mempunyai hasil karya ilmiyah sebagaimana disebutkan dalam kitab "An-nur Assafir", sebagaimana juga mempunyai kumpulan sayair-syair yang sangat bagus, diantaranya syair yang beris pujian kepada Sultan Amir bin Abdul Wahab ketika membangun madrasah di Zabid, ada juga syair-syairnya yang berisi pujian atas Imam Al-Adeni dalam bentuk puisi nyanyian, seperti syair yang awalnya :

شابيح بالغرام كم ذا تستر بعشقي
وارفع ذا اللثام أو خذ نصيبي ورزقي

Diantara karangan Syeh Bahraq yang berbentuk qasidah adalah kitab yang dinamai "Al-Urwah Al-Watsiqoh Filjam'I Baina Syariah Walhaqiqoh" dan syarahnya yang bernama "Alhadiqoh Al-Aniqoh", keduanya sudah dicetak.
Syeh Umar Bahraq meninggal dunia di Haidar Abad India pada tanggal 20 Sya'ban tahun 930 H, dan dimakamkan disana.

8. Syeh Alhusain bin Assiddiq Al-Ahdal
Al-allamah Alfaqih Badruddin Alhusain bin Assiddiq bin Alhusain bin Abdurrahman Al-Ahdal Al-Yamani, dilahirkan pada bulan Rabi at-tsani tahun 805 H, diperkampungan Abyat Huasin dan tumbuh besar disana, dari kecil Syeh Alhusain sudah menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan terutama ilmu fiqh, beliau mendalami ilmu Fiqh kepada Syeh Alfaqih Abu Bakar bin Ma'yadh dan Syeh Abulqosim bin Umar bin Mutoyyar serta ulama besar lainnya.

Riwayat hidupnya secara detail serta guru-gurunya dikupas dalam "An-nur Assafir", pada tahun 872 Syeh Alhuasin pergi ke Tanah Suci Mekah guna menunaikan Ibadah Haji, setelah itu Syeh Alhusain bermukim di Mekah setahun lamanya menimba ilmu dari para ulama Mekah dan Madinah, dalam perjalanan pulang Syeh Alhusain singgah di Zabid dan belajar kepada Syeh Yahya Alamiri, dan ditangan Syeh Yahya inilah Syeh Alhusain menguasai Al-Minhaj, selain itu Syeh Alhusain juga belajar kepada Alhafiz Assakhowi sebagaimana disebutkan dalam "Ad-dhau Allami".

Kemudian beliau masuk ke kota Aden dan mukim disana, di kota Aden beliau menyebarkan ilmu dan dakwah islamiayh, diantara ulama yang menimba ilmu dari Syeh Alhusain adalah Syeh Alfaqih Muhammad Athahir bin Abdurrahman bin Abdurrahman bin Alqodli Muhammad bin Mas'ud Basykil.

Ketika pertama kali Imam Al-Adeni memasuki kota Aden dan kemudian mukim disana, Syeh Alhuasin sempat inkar terhadap keadaan Imam Al-Adeni, namun setelah Syeh Alhusaini mengetahui tentang Imam Al-Adeni yang sesungguhnya dan keluhuran ilmu dan budi pekertinya, Syeh Alhusaini pun akhirnya berbalik menghormati dan bersahabat dengan Imam Al-Adeni, bahkan Syeh Alhusain mempunyai beberapa gubahan syair yang berisi pujian kepada Imam Al-Adeni, diantara syair-syair tersebut adalah bait yang berbunyi :

من الحسان الخرد قد صادني غرير يرمي بقوس حاجب

Syekh Alhusain meninggal dunia di Aden pada malam senin awal bulan Dzul qo'dah tahun 903 H, dimakamkan di Aden, tepatnya didepan masjid yang dinamai dengan namanya.

9. Syeh Muhammad bin Ahmad Bajarfil Ad-Dauani
Dilahirkan pada hari senin tanggal 12 Rabi' Alawal tahun 820, masa mudanya dihabiskan dalam mencari ilmu dengan sungguh-sungguh dari para ulama besar dimasa itu, selain itu Syeh Muhammad Bajarfil semenjak muda sudah meniti tangga-tangga tasawuf hingga terlihatlah semua itu pada kehidupan sehari-harinya, kemudian beliau mendampingi Syeh Ali bin Abu Bakar Assakran sebagaimana benda dengan bayangannya, selama empat bulan lamanya Syeh Muhammad Bajarfil mendampingi Syeh Ali bin Abu Bakar dengan harapan dia akan mendengar dari Syeh Ali bin Abu Bakar perkataan "kamu adalah bagian dari kami (anggota keluarga)", sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat Salamn Alfarisi, tetapi selama 4 bulan lamanya Syeh Muhammad Bajarfil menunggu dan meminta hal tersebut kepada Syeh Ali bin Abu Bakar namun beliau tidak juga bersedia, melihat kesungguh-sungguhan dan keinginan Syeh Muhammad Bajarfil yang begitu kuat, maka Syeh Ali bin Abu Bakar berkata kepada Syeh Muhammad Bajarfil :"Agama ini adalah nasihat, permintaan kamu itu tidak akan terpenuhi kecuali oleh Syeh Abu Bakar bin Abdullah, beliaulah Alqutub yang diwarisinya dari kecil semenjak ayahandanya meninggal dunia, dan aku akan menulis surat kepadanya supaya memenuhi keinginan kamu, maka Syeh Ali pun mengirimkan surat kepada Imam Abu Bakar Al-Adeni, begitu pula dengan Syeh Muhammad Bajarfil, dan akhirnya datanglah jawaban dari Imam Al-Adeni sesuai dengan harapan Syeh Muhammad Bajarfil.

Masa hidup Syeh Muhammad Bajarfil dihabiskan dalam menyebarkan ilmu pengetahuan dan dakwah islmiah, dan pada masa-masa akhir hayatnya beliau menetap di Gail Bawazir hingga dipanggil oleh Sang Pencipta pada bulan Rabi Awal tahun 903 H.

10. Syeh Jarullah bin Fahad
Adalah seorang ahli sejarah, al-allamah Syeh Jarullah Muhammad bin Abdul Aziz bin Umar bin Muhammad bin Muhammad bin Fahad Al-Hasyimi Almakki, dilahirkan di Mekah pada tahun 891 H, tumbuh besar dalam asuhan kedua orang tuanya, hafal Al-qur'an, dan belajar ilmu syariah, adapun dalam ilmu hadits Syeh Jarullah mengambilnya dari Syeh Alhafiz Assakhowi, Imam Thobari dan mendapatkan ijazah dari banyak ulama dinataranya Syeh Abdul Gani Annabulsi.

Selain menimba ilmu dari para ulama di Mekah Syeh Jarullah juga merantau ke Madinah Almunawaroh bersama ayahnya, dan menetap disana beberapa waktu lamanya, disana Syeh Jarullah menamatkan kutub assittah, dan kitab "As-syifa" didepan makom Rasulullah SAW kepada ayahnya, selain belajar kepada ayahandanya Syeh Jarullah juga belajar kepada ulama-ulama besar Madinah Munawaroh, diantaranya Syeh Sayid Assamahudi, darinya Syeh Jarullah mempelajari sebagian dari kitab "Assyifa", kitab sejarah "Wafaulwafa" dan Fatawa Assamahudi, selain itu Sayid Samahudi juga memakaikannya Khirqoh. Kemudian Syeh Jarullah bersama ayahandanya kemabalilagi ke Mekah dan melanjutkan belajarnya disana kepada para ulama di kota suci tersebut. Setelah menimba ilmu dari para ulama yang berada di kota mekah, Syeh Jarullah kemudian berkelana ke Mesir dan Syam untuk menuntut ilmu dari ulama disana, selanjutnya ke Yaman dan disana mendapatkan ijazah dari sejumlah ulama Yaman, dari sana Syeh Jarullah bertolak ke Roma dan menikah disana hingga dikarunia beberapa orang anak, kemudian kembali ke Mekah dan menyebarkan ilmu terutama ilmu hadits hingga meninggal dunia pada tahun 954 H. adapun pertemuan Syeh Jarullah dengan Imam Abu Bakar Al-Adeni sebagaimana dikisahakan oleh Syeh Bahraq dalam kitabnya "Mawab Alquds" adalah ketika Syeh Jarullah masuk ke Yaman, ketika itulah Syeh Jarullah mendapatkan ijazah dari Imam Abu Bakar Al-Adeni, oleh karena itu Syeh Bahraq dalam kitabnya tersebut menggolongkan Syeh Jarullah dalam ulama yang menjadi murid Imam Abu Bakar Al-Adeni.

11. Syeh Abdullah bin Abdullah Baqasyir
Diantara ulama yang menjadi murid Imam Abu Bakar Al-Adeni adalah Syeh Alallamah Alfaqih Abdullah bin Alfaqih Abdullah bin Alfaqih Al-Imam Muhammad bin Syeh Hakam Baqasyir Alhadhrami Assyafi'i.

Syeh Abdullah bin Abdullah Baqusyair dilahirkan di Hadhramaut, tumbuh besar disana dalam bimbingan kedua orang tuanya dan para ulama besar masa itu, hingga menjadilah seorang alim faqih yang mumpuni, Allah memberinya karunia dengan ilmu dan amal serta wara', Syeh Abdullah Baqasyir mempunyai hasil karya yang sangat penting, diantaranya kitabnya yang bernama "Qolaid Alkharaid Wafaraid alfawaid", juga kitab "Assa'adah Walkhair Fi manaqib sadah bani Qusair".
Syeh Abdullah bin Abdullah Baqasyir meninggal dunia di kampung Qosam distrik Alajaz pada tahun 958 H.

12. Syeh Syihabuddin Ahmad bin Ali Al-Halbi
Syeh Syihabudin merupakan salah satu ulama yang mendapatkan inayah dari Allah sehingga ditengah perjalanan hidupnya beliau berubah haluan, yang tadinya sibuk dengan perdagangan dan bepergian kemana-mana dalam rangka berniaga, dengan taufik dari Allah SWT, maka sisa-sisa hidupnya dihabiskan dalam mencari ilmu dan ibadah, hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam kitab "Annur Assafir", berikut ini kisahnya : pada awal perjalanan hidupnya syeh Syihabuddin Ahmad bin Ali Al-halbi adalah seorang pedagang yang berhasil, namun kemudian haluan hidupnya berubah, beliau memilih jalan menuju Allah SWT, Syeh Syihabudin dikaruniai Allah tulisan yang bagus, hingga pada suatu ketika beliau bertemu dengan seorang laki-laki soleh di tempat sai', yang berkata kepada beliau : "pergilah, kamu telah aku beri tulisan yang bagus dan juga keberuntungan", maka pergilah Syeh Syihabudin menuju Aden, disana beliau bertemu dengan Imam Abu Bakar dan selanjutnya belajar dan mendampingi beliau selam 20 tahun lamanya, kemudian Imam Abu Bakar mengutus Syeh Syihabudin untuk pergi ke India dan menetap disana, maka sesuai petunjuk dari Imam Abu Bakar, Syeh Syihabudin pun menuju India dan menetap disana menyebarkan ilmu dan dakwah islamiyah di India hingga akhirnya meninggal di Haidar Abad pada tahun 951 H.

13. Syeh Muhammad bin Abdullah Alidrus
Beliau belajar kepada Imam Abu Bakar Al-Adeni dan kemudian meneruskan tongkat perjuangan dalam penyebaran ilmu dan dakwah di masjid Imam Al-Adeni setelah wafat putranya Syeh Ahmad Almusawa, kemudian beliau pergi ke Mekah dan meninggal disana pada tahun 978 H.

14. Syeh Abdulatif Bawazir
Syeh Abdulatif merupakan salah satu murid khusus Imam Al-Adeni, beliau mendampingi Imam Al-Adeni dalam semua majlisnya, bahkan kumpulan karya Imam Al-adeni yang bernama "Mahajatussalik wa hujjatunasik" Syeh Abdullatif lah yang mengumpulkannya dan menghafalnya, serta memberikan kalimat pembukaan dan biografi Imam Al-Adeni pada awal kitab tersebut, dan penulis pun menyadur sebagian adat dan ahwalnya Imam Al-Adeni dari Syeh Abdullatif Bawazir.

15. Syeh Jauhar bin Abdullah Al-Habsy
Dikatakan bahwa ada dua orang yang bernama Jauhar bin Abdullah, salah satunya adalah Syeh Jauhar bin Abdullah Al-Habsy murid Imam Abu Bakar Al-Adeni, adapun yang lainnya adalah Syeh Jauhar bin Abdullah dan hidup di zaman sebelum Imam Al-Adeni, Syeh Jauhar inilah yang dimakamkan di dekat masjid Jauhar yang terkenal di kota Aden di kampung Albashol (dulu), menurut ahli sejarah Syeh Jauhar ini tidak belajar kepada Imam Al-Adeni, tetapi dia meninggal dunia sekitar 280 tahun sebelum kedatangan Imam Al-Adeni di kota Aden.

Masalah timbul karena dua nama itu sama persis, namun kalau dicermati jelas bahwa Syeh Jauhar yang merupakan murid dari Imam Abu Bakar adalah Syeh Jauhar bin Abdullah yang dikenal dengan julukan Al-Habsy, adapun Syeh Jauhar lainya adalah Albaha, Jauhar bin Abdullah Al-adeni, hidup di masa raja Al mas'ud bin Aqyas bin Muhammad bin Abu Bakar bin Ayub, yang merupakan raja terakhir dari raja-raja bani Ayub di Yaman, Syeh Jauhari ini adalah bekas seorang budak yang di merdekakan, kemudian menjadi seorang pedagang kain, selain itu beliau dikenal mempunyai kepribadian yang bersih, terpercaya, dialah yang membangun masjid yang dikenal dengan namanya di kampong Jauhar di Aden.

Dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa pendapat yang mengatakan Syeh Jauhar sebagai hamba sahayanya Imam Al-Adeni adalah salah, karena Syeh Jauhari meninggal pada tahun 621 H, bertepatan dengan tahun 1228 M, dan Syeh Jauhari yang berguru kepada Imam Al-Adeni adalah Syeh Jauhari bin Abdullah yang dikenal dengan julukan Al-Habsy.

16. Syeh Abdul Alim Al-Hawaiji
Syeh Abdul Alim merupakan seorang murid dan penuntut ilmu yang ikhlas dan sungguh-sungguh dalam belajar kepada Imam Al-Adeni, Syeh Abdul Alim inilah yang menjadi penyebab Imam Al-Adeni menulis kitabnya yang berjudul "Al-Juz Allatif Fi Tahkim Assyarif", sebagaimana hikayat mengakatan bahwa Imam Al-Adeni mengangkat Syeh Abdul Alim sebagai Syeh dan memberinya ijazah serta tahkim, dan Syeh Al-Hawaiji meminta kepada Imam Al-Adeni agar mengajarinya cara tahkim dan memberikan ijazah, maka sebagai jawaban dari permintaan tersebut Imam Al-Adeni menulis kitab tersebut.

17. Syeh Abdullah bin Ahmad Bakatsir (mukim di Mekah)
Syeh Abdullah Bakatsir dilahirkan di Tarim, tumbuh besar disana dalam lingkungan ilmu serta bimbingan dari para ulama besar di masa itu, dia termasuk murid Imam Al-Adeni yang belajar kepadanya dalam dua masa, yaitu masa Imam Al-Adeni di Tarim dan di Aden, selain belajar kepada Imam Al-Adeni Syeh Abdullah Bakatsir juga belajar kepada putranya, kemudian hijrah ke Mekah dan mukim disana, Syeh Bakatsir sangat memperhatikan kepada jamaah dari Hadhramaut yang dating ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji.
Syeh Abdullah Bakatsir meninggal dunia di Mekah dan dimakamkan disana pada malam sabtu tanggal 13 Rabi' Tsani tahun 925 H.

18. Syeh Nu'man bin Muhammad Almahdi
Tentang riwayat Syeh Nu'man dan hubungannya dengan Imam Abu Bakar Al-Adeni dikupas dalam kitab "Aliqdu Annabawi" disebutkan dalam kitab tersebut yang ringkasanya sebagai berikut : pada suatu ketika Syeh Nu'man sedang dalam perjalanan dengan menaiki kapal laut, dan kemudian kapal yang beliau naiki terjadi kebocoran yang diayakini akan menyebabkan tenggelamnya kapal, kemudian Syeh Nu'man didatangi rasa kantuk dan tertidur sebentar, dalam tidurnya itu beliau bermimpi didatangi oleh Imam Al-Adeni dan beliau membawa sehelai sapu tangan yang kemudian dijadikannya sebagai penambal kebocoran kapal tersebut, dan ketika Syeh Nu'man terbanguna dari tidurnya maka beliau sadar bahawa yang dimimpikannya tadi adalah suatu hal yang nyata.

19. Syeh Muhammad Athohthowi Almakki
Sebagaimana disebutkan oleh Sayid Abdurrahman bin Mustafa Alidrus dalam kitab "Syarah Qosidah Haat Ya Haadi" halaman 98, Syeh Muhammad Almakki merupakan salah satu ulama yang berguru kepada Imam Abu Bakar Al-Adeni.

20. Pangeran Marjan bin Abdullah Adzafiri
Pangeran Marjan bin Abdullah adalah mantan pembantu raja Zafir, sultan Amir bin Abdul Wahab yang kemudian menjabat sebagai sultan setelah wafatnya sultan Amir bin Abdul Wahab, dalam menjelankan tugasnya sebagai raja pangeran Marjan dikenal sebagai raja yang tegas dalam memerintah kerajaannya, dia termasuk salah satu penguasa yang mempunyai hubungan dekat dengan Imam Al-Adeni.

Beberapa pengarang buku biograpi menyadur tentang karomah-karomah Imam Al-Adeni yang terjadi di hadapan pangerana Marjan, terutama karomah-karomah yang terjadi di sela-sela peperangan yang diarunginya bersama majikannya sultan Amir bin Abdul Wahab, syeh Bahraq dalam "Mawahib al-Quds" mengatakan bahwa pangeran Marjan pernah berkata : "kalau kamu menginginkan aku mendiktekan tentang karomahnya Imam Al-Adeni dan menjadikannya sebuah kitab yang besar maka aku sanggup mendiktekannya".

Setelah pangeran menjabat sebagai penguasa zafir, selain tegas dalam memerintah, perkataan pengeran Marjan sangat di taati oleh semua golongan bahkan oleh keluarga raja dalam kerajaan Athahiriah yang menjadi penguasa zaman itu, bahkan penduduk daerah pegunungan Taiz dan sekitarnya tidak mau tunduk kepada siapapun dari keluarga raja Athahiriah kecuali atas persetujuan pengeran Marjan di Aden.

Disebutkan dalam "Mawahib alquds" halaman 148, bahwa pada tahun 926 H, pangeran Marjan bersama Syarif Abdullah bin Syeh bin Abdullah bin Abu Bakar Alidrus dan Hilal bekas hamba sayahanya Imam Al-Adeni yang kemudian menjadi juru rawat makam Imam Al-Adeni, bertolak menuju Attilaj. Dan pada kesempatan yang sama Syeh Abdul Malik datang dari Lahaj menuju Attilaj, maka bertemulah kedua rombongan tersebut, pada kesempatan itu pangeran Marjan membaiat Syeh Abdul Malik dan mengambil sumpah dan memerintahkannya untuk memasuki wilayah pegunungan dan memerangi putra pamannya Syeh Ahmad bin Muhammad, dan ketika urusannya sudah selesai maka kembali ke Lahaj dan masuk Aden.

Selama hidupnya pangeran Marjan mengabdi kepada Imam Al-Adeni, begitu pula setelah meninggalnya Imam Al-Adeni dengan membangun kubah dan membangun rubat untuk para pelajar yang berada di sebelah masjid.

Pangeran Marjan meninggal dunia pada tahun 927 H, dan dimakamkan di dekat makam Imam Abu Bakar Al-Adeni, dan tidak lama kemudian disana di makamkan kapten Shafar Arrumi yang datang ke Aden bersama bala tentara untuk mengusir penjajah barat dari Aden, namun di tengah perjalanan pulang mengalami sakit parah dan kembali lagi ke Aden, untuk akhirnya wafat di sana pada tahun 927 H.


Hasil karya Imam Al-Adeni yang berupa prosa


Karya tulis yang berbentuk prosa pada zaman Imam Al-Adeni mengungguli sastra pada zaman itu, hal tersebut disebabkan madrasah sufiah yang notabene ulamanya menggunakan bentuk prosa dalam penulisan karya ilmiah dan surat menyurat, dengan menggunakan kata-kata yang mempunyai makna yang luhur yang terdapat dalam kamus tasawuf.

Dalam bab ini penulis akan tampilkan sebagian karya tulis Imam Al-Adeni baik yang berupa prosa ataupun syair, diantaranya adalah suratnya yang merupakan campuran bentuk prosa dan syair yang ditujukan kepada Syeh Abdurrahman bin Ali di Tarim.

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام الأتمان الأكملان على سيدنا محمد و على آله وصحبه وسلم.
من الفقير إلى الله تعالى المملوك العبد الرق أبي بكر بن عبد الله علوي لطف الله به :
فقد ورد في الكتاب الكريم المقابل بالتبجيل والتعظيم المشتمل على الدرر النظيم, والزهر الفائق البسيم, الذي يحق أن يقال : {إنه من سليمان و إنه بسم الله الرحمن الرحيم} الوارد من الشيخ الأوحد, العالم العلم المفرد, سيد الشرفا و سبط المصطفى, ورضيع ألبان الصفا والوفا, بحر الحقائق, وكاشف رموز الدقائق, زين الأدباء, ولسان العرب العرباء, ذي الأخلاق الرضية, والشمائل المرضية, والهمة العالية الأبية, والأنفاس العلوية القدسية, وجيه الدين, وبركة المسلمين, سليل الصالحين, واسطة عقد الشرف الثمين, الشيخ الأجل الولي الصالح, الساعي في المصالح, عبد الرحمن بن علي بن الشيخ أبي بكر رضي الله عنهم آمين, ونفعني بهم, فقبلته تقبيل مقتطف من رياضه, مغترف من حياضه, متبرك بمواضع أقلامه, محترف بإنعام تودده وشامل إكرامه وإنعامه, ونزهت طرفي في حدائق براعته, وما أودعه من جواهر بلاغته, فشكر الله أنامل سطرت سطوره, ونظمت منثوره, واقتطفت من رياض الأدب زهوره, وأطلعت في سماء البلاغة كواكبه وبدوره.
وما أهديتم من السلام فخصكم الله بأضعافه, وغمركم بمنه وألطافه, وما جاء به من علوم البلاد, وما حدث فيها من الفتن والفساد, فالرجاء في الله أن يزيل الشر وينفي كل محذور, ويطفيء نار الفتن, ويمحي منها سائر اليمن, ما ظهر منها وما بطن, والبلاد وإن حصل بها ما ترى فالحوطة بالله ثم ببركة السلف محفوظة, وبعين العناية والرعاية إن شاء الله ملحوظة, وكيف لا وهي موضع مهابط الرحمة والسكينة, وموطن أقدام الأولياء والصالحين.
وقد أحسن سيدنا الإمام السبكي رضي الله عنه :
وفي دار الحديث لطيف معنى إلى فرش بها أصبو وآوي
لعلي أن أمس بحر وجهي مكانا مسه قدم النواوي

وعوائد الله لم تزل جميلة, ومواهبه في جميع الأحوال جزيلة.

Ini sebagian contoh daripada akhir suatu surat yang ditulis oleh Imam Al-Adeni

وفي النفس من الضيق بهذا الوقت من عدم المجالس كثير, فلما آنست منك الأنس, وعرفت منك أنك تحب البسط,كان كمن جر نهرا محبوسا, فلا تعتب على كثرة البسط, فإنه من صفاء المودة, وفي القلب نصائح يحب المملوك أن يبديها لكم لما غلب الود وصفا الحب.
إعلم أن هذا الزمان خصوصا عندكم الغالب على أهله عدم الوفاء, وإظهار القبيح والجفاء, وصرتم بين أظهر أعداء للدين جبلوا على محبة إذاعة مثالب أهل المناصب, وقبيلنتا الغالب عليهم عدم الاحتراز في الأقوال والتلبيس في الأفعال, فلا يجروا على أنفسهم إلا زيادة سوء ظن فوق ما جلبوا عليه.
وأنت بسلامتك قد جعلك الله مفردا, وإفرادك من غير اختيار من زمان أبيك في الحافة والبيت والمسجد والطبع, فالصواب اعتزالك منهم قلبا وقالبا وأبقالك على ما اختار الله لك فهو أعلم بالخيرة, ولا تدخل نفسك في الأمور الصادرة ما بين إخوانك, وقل الكبار سادة والصغار أولاد, ولا يمكن العصبية مع أحد على أحد, وقل حالي يضعف عن الخصومات ومخالطة أرباب الدول, وقل: أنا منفصل من زمان الوالد ورغبت في الاعتزال عن كله لعلمي بضعف حالي فلا تكلفوني سوى أني أحبكم الجميع, فهذا هو الأصلح لأنهم لا يتبعون ما أمرت ولا تحسن منك العصبية مع أحد دون أحد مع ما في المخالطة من الآفات ما يذهب الدين والجاه والمروءة, وأكثر مما يتبعنا قول الشامتين الحاسدين: راحوا أهل الخير وبقي من لا ينفع, ولا عاد على رسم الفقراء سواك, فبالله عليك ورسوله لا تدنس قميص سلوكك بسليط مخالطة أو باش تريم ورعاعها.. أف لرئاسة تناط بهم .. فو الله ما تجشمت الفرقة وحليت لي الغربة إلا لكراهة تلك المخالطات والمعاملات من خسران الدين والدنيا.
و بعد فاعلم سيدي أني إذا ذكرت بعدي عن الترب المنيفة والضرائح الشريفة وعدم زيارة المشايخ يحصل التعب الكلي, وإذا راجعت أذكر ما قاسيت من مرير عشرة العشيرة وعدم احتفالهم بمراعاة المروءة, وقل امتثال العاقل, وعدم رمق العواقب- وسيان عندهم عدوهم وصديقهم في إفشاء غوابي أسرارهم- أحببت الغربة وذقت لها حلاوة كائنا ما كانت, ولا شيء يتبعني سوى أن أموت في غير تريم, فالدعاء الدعاء الدعاء أن الله تبارك وتعالى سبحانه جل ذكره أن يجعل موتي بتريم.
وبعد فخاتمة كتابي نسأل الدعاء أن يختم للجميع بخير الدنيا والدين والآخرة بحق محمد وآله آمين.

Sebagian daripada makalah-makalah Imam al-Adeni

Syeh Abdullatif bin Abdurrahman Bawazir dalam pembukaan buku kumpulan syair yang berjudul "Mahajjatussalik wa Hujjatunnasik" berusaha mengumpulkan beberapa petikan daripada ceramah Imam Abu Bakar Al-Adeni yang didengarnya, daintara petikan tersebut adalah :

1. Petikan ceramah imam Al-Adeni dibidang tauhid
Imam Abu Bakar AL-Adeni berkata : sesungguhnya Allah adalah zat yang maha mendengar dan maha melihat, maha kuasa, zat yang hidup dengan zatNya, maha mengatur dan menguasai segala isi alam, yang maha awal dan maha akhir, yang maha zahir dan maha batin, yang maha abadi, tidak ada permulaan dan akhir atas wujudNya, tidak ada zat yang menyamai atas zatNya, tidak sifat yang menyamai sifatNya, yang mendengar tanpa indera pendengar, yang melihat tanpa indera penglihatan, Dia tidak dapat dicapai penglihatan, sedang Dia meliputi penglihatan dan Dia Maha Halus lagai Maha mengetahui, Dia tidak berasal dari sesuatu, tidak berada dalam sesuatu juga tidak diatas sesuatu, karena kalau Dia berasal dari sesuatu, maka niscaya adanya Dia didahului sesuatu, dan kalau Dia berada dalam sesuatu maka niscaya keberadaannya terbatas, begitu juga kalau Dia berada diatas sesuatu maka niscaya Dia dipikul, Tidak sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang maha mendengar lagi Maha Melihat, Maha Agung Allah dari perkataan orang-orang zalim.

Mengenai ayat-ayat muatasyabihat dalam Al-Qur'an seperti ayat الرحمن على العرش استوى)), yang artinya : Yang Maha Pengasih bersemayam di atas 'arasy. Imam Al-Adeni berkata : kata bersemayam dalam ayat tersebut, bukan bermakna menempati tetapi bermakna menguasai, dan Rasulullah SAW bersabda "Janganlah engkau mengunggulkan aku atas saudaraku Yunus bin Matta" hal tersebut karena Rasul SAW naik hingga mencapai 'Arasy dan Kursy, sedang Nabi Yunus Alaihi Salam, turun hingga ke dasar bumi, dan keduanya di hadapan Allah SWT tidak ada bedanya, dan Allah SWT berfirman (واسجد واقترب) yang artinya : sebenarnyalah, janganlah engkau tunduk kepadanya, tetapi sujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada Allah. Dari ayat tersebut jelaslah bahwa tidak ada arah, karena kalau Allah SWT berada di arah atas maka niscaya orang yang berdiri lebih dekat ke langit daripada orang yang bersujud, maha tinggi Allah daripada jangkauan akal dan faham manusia.

Dengan kekuasaanNya, Allah menciptakan alam semesta dan dengan kehendakNya Allah mengaturnya, Dia tidak melekat dengan alam juga tidak terpisah, tetapi Dia sebagaimana Dia kehendaki, dan bagaimana Dia kehendaki, apa yang diperbuatNya tidak dipertanyakan, tetapi perbuatan merekalah yang ditanyakan.

Dari perkataan Imam Al-Adeni tentang Takwa dan Husnu Adzon

Imam Al-Adeni berkata : hendaklah kamu sekalian bertakwa kepada Allah, karena Allah SWT telah berfirman (وتزودوا فإن خير الزاد التقوى) artinya : dan hendaklah kamu sekalian membawa bekal, maka sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa. Dan Allah SWT berfirman (واتقوا الله ويعلمكم الله), artinya : dan bertakwalah kamu sekalian kepada Allah SWT, maka niscaya Allah akan mengajari kamu.

Mengenai husnu dzon (berbaik sangka) Imam Abu Bakar Al-Adeni berkata : hendaklah kamu sekalian berbaik sangka kepada Allah SWT,

(ليس البر أن تولوا وجوهكم قبل المشرق والمغرب ولكن البر من آمن بالله واليوم الآخر والملائكة والكتاب والنبيين ... الآية)

Artinya : Bukanlah kebaikan itu menghadapkan wajah ke arah timur dan barat, tetapi kebaikan itu adalah barangsiapa yang beriman kepada Allah, hari akhirat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-Nabi.

Dan iman itu adalah berbaik sangka dan membenarkan, Allah SWT berfirman, (و تعاونوا على البر والتقوى)

Artinya : dan saling tolong menolonglah diantara kamu dalam kebaikan dan takwa.
Dan Allah SWT berfirman

(فسوف يأتي الله بقوم يحبهم و يحبونه)

Artinya : maka kelak Allah akan mendatangkan kaum yang Dia cintai dan mencintaiNya.

Mengenai hadits 'Araby ketika dia bertanya kepada Rasul SAW tentang hari kiamat, maka Rasul balik bertanya kepadanya, "apa yang kamu persiapkan untuk menghadapinya ? 'Araby menjawab, cinta kepada Allah SWT dan RasulNya, maka Rasulullah SAW bersabda, kamu akan bersama dengan yang kamu cintai". Berbaik sangka adalah suatu tanda akan kebahagiaan, dan orang yang berbaik sangka diharapkan akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Imam Al-Adeni berkata : tidak akan merugi orang yang berbaik sangka walaupun sangkaannya salah, dalam sebagian qosidahnya beliau mwngatakan :

ربي بك أحسنت ظني فإنه خير ملزم
وإنه الكنز الأكبر وإنه الإسم الأعظم

Pesan-pesan Imam Al-Adeni agar berbaik sangka sangat banyak sekali, dan beliau berkata : berbaik sangka adalah amal yang paling mendekatkan kepada Allah, karena Rasulullah SAW bersabda : sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung niat, dan setiap orang akan menuai dari niatnya itu.

Imam Al-Adeni berkata : janganlah kamu sekalian berburuk sangka, kareng buruk sangka itu tanda dari kecelakaan, dan orang yang berburuk sangka dikhawatirkan akan su'ul khatimah, Rasulullah SAW bersabda : "barang siapa menyakiti salah seorang kekasihku, maka sesungguhnya aku telah mengikrarkan peperangan dengannya". Dan Allah berfirman kepada NabiNya mengenai orang-orang munafik

(استغفر لهم أو لاتستغفر لهم إن تستغفر لهم سبعين مرة فلن يغفر الله لهم)

Artinya : sama saja bagi mereka orang-orang munafik baik kamu memintakan ampunan bagi mereka ataupun tidak, bahkan kalaupun kamu memintakan ampunan bagi mereka sebanyak tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni mereka.

Perhatikanlah keadaan orang-orang munafik, karena mereka berburuk sangka maka permintaan ampun dari Nabi SAW pun tidak ada manfaat bagi mereka, padahal Nabi SAW adalah mahluk Allah yang paling utama.

Imam Al-Adeni berkata : tidak akan berbahagia orang yang berburuk sangka walaupun sangkaannya benar.


Sebagian perkataan Imam Al-Adeni tentang ziarah kepada para wali


Imam Al-Adeni berkata : hendaklah kamu sekalian ziarah kepada para wali dan mengenali mereka, jika niatnya betul, dan dibarengi dengan keyakinan yang kuat, maka sesungguhnya antara alam gaib dan alam nyata sangat erat hubungannya sebagaimana hubungan antara ruh dan jasad, tidak ada berkah dari alam gaib kecuali melalui usaha dari alam nyata, dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah SWT kepada Maryam

(و هزي إليك بجذع النخلة ..)

Artinya : dan kamu gerakkanlah pohon kurma.
Dan firman Allah kepada Nabi Musa Alaihi Salam,

(أن اضرب بعصاك الحجر)

Artinya : pukullah batu itu dengan tongkatmu
Allah menjadikan, menggerakkan pohon kurma oleh Maryam dan memukul batu oleh Musa sebagai sebab barokah yang turun dari alam gaib.

Sebagian perkataan Imam Al-Adeni mengenai tha'at dan bahaya maksiat

Imam Al-Adeni berkata : janganlah sekali-kali kamu berdalih kepadaNya dengan perbuatan tha'at kamu, jangan pula kamu menjauhinya ketika kamu melakukakn maksiat, dan janganlah kamu berputus asa dari rahmatnya dalam setiap keadaan.
Imam Al-Adeni berkata : janganlah kamu meremehkan perbuatan tha'at sekecil apapun, karena di dalamnya terdapat rdlo Allah SWT, dan jangan pula kamu menganggap enteng sekecil apapun perbuatan maksiat karena didalamnya terdapat murka Allah.

Imam Al-Adeni berkata kepada orang-orang yang suka mengadu domba dan menggunjing orang lain, sesungguhnya Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujuraat ayat 12 yang berbunyi :

ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ))

Artinya : Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing atas sebahagian yang lain. Adakah diantara kamu suka makan daging saudaranya yang mati?.
Dan dalam surat Al Qalam ayat 13 Allah SWT berfirman :

(هماز مشاء بنميم ? مناع للخير معتد أثيم)

Artinya : yang banyak mencela yang kian kemari menghambur fitnah. Yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melewati batas lagi banyak dosa.

Rasulullah SAW bersabda : seorang muslim adalah orang yang selamat daripada lisannya dan tangannya orang-orang muslim lainnya. Dalam hadis lain bersabda : tidaklah manusia diceburkan ke neraka baik wajahnya dahulu ataupun bokongnya kecuali akibat lisannya.
Imam Al-Adeni berkata :

كل جرح علاجه ممكن ما خلا يافتى جرح اللسان

Artinya : semua luka mungkin diobati kecuali luka yang disebabkan lisan.
Seseorang yang mencela atas aib atau penderitaan orang lain niscaya oleh Allah SWT akan diberi cobaan seperti halnya orang yang dia cela atau bahkan lebih dahsyat, Sayidina Ali bersabda : kalau aku mencela perempuan yang hamil, aku takut suatu ketika aku hamil.

Imam Al-Adeni berkata : jauhilah sifat sombong dan hasud karena kedua sifat tersebut melebur perbuatan baik dan menghilangkan keberkahan sebagaimana api melalap kayu bakar, Allah SWT berfirman :

(إلا إبليس أبى واستكبر وكان من الكافرين)

Artinya : kecuali iblis, dia enggan (bersujud kepada Adam AS) dan dia somong, maka masuklah dalam golongan orang-orang kafir.
Allah SWT berfirman :

(إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين)

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang sombong dan enggan menyembahKu akan masuk neraka selama-lamanya.
Allah SWT berfirman :

(أم يحسدون الناس على ما أتاهم الله من فضله)

Artinya : apakah mereka merasa iri kepada manusia atas pemberian Allah SWT dengan kemurahaNya.

Imam Al-Adeni berkata : sesungguhnya sombong dan hasud adalah pertama kali maksiat, dan setiap kali seseorang bertambah nikmatnya maka makin geramlah hati orang-orang yang hasud, tentang hal ini Imam Al-Adeni sering mendendangkan ucapan syair :

قل للحسود إذا تنهد : طعنة يا ظالما وكأنه مظلوم

Dan orang-orang hasud selamanya tidak akan jadi pemimpin, sesuatu yang kotor tidak akan mengeluarkan selain kotoran.

Sebagian doa-doa Imam Al-Adeni


اللهم أجرنا من غير ضرر واغننا من غير بطر اللهم أجرنا من غير ابتلاء.

Adapun doa yang sering dibacanya dalam majlis zikirnya adalah :

اللهم ارزقنا من العقول أوفرها ومن الأذهان أصفاها ومن الأعمال أزكاها ومن الأخلاق أطيبها ومن الأرزاق أجزلها ومن العافية أكملها ومن الدنيا خيرها ومن الآخرة نعيمها وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلم.

Sebagian perkataan Imam Al-Adeni tentang perbedaan Syariah dan Hakikat
Sebagain ahli fiqih bertanya kepada Imam Al-Adeni tentang perbedaan antara Syariah dan Hakikat, maka beliau menjawab :

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah SWT, Dialah yang memuji atas diriNya, dan Dial ah zat yang terpuji, dari Dial ah datangnya maksud kepada orang-orang yang memiliki maksud, dan Dial ah yang dimaksud, Dia menciptakan kehendak hamba dengan kehendakNya, dan menetapkannya hingga menjadikan hujjah atas hamba, dan dengan ketetapan dariNya seorang hamba melakukan perintah dan menjauhi laranganNya, dan Dial ah yang membalas semuanya sesuai perbuatannya, maka Dia berfirman :

(وأن ليس للإنسان إلا ما سعى)

Artinya : dan seorang manusia tidak berhak kecuali sesuatu yang dia kerjakan.
Dia juga berfirman :

(وما تشاؤون إلا ما يشاء الله)

Artinya :
Dan tidaklah kamu sekalian berkehendak kecuali sesuai kehendak Allah.

Maka terjadilah kebingungan, dan butalah indra penglihatan dan mata hati, maka Dia memberikan taufik kepada hambaNya, maka sebagian dari mereka diberi taufik dengan syariah dan sebagiannya denga hakikat, ilmu yang menghiasi jasmani adalah ilmu zahir dan ilmu yang menghiasi hati adalah ilmu batin dan itulah ilmu hakikat, Allah menjadikan zahir Islam atas beberapa rukun yang dilakukan oleh badan, dan menjadikan hakikat iman dan ihsan atas yakin yang ada pada hati nurani, tetapi karena sesuatu yang tersimpan dalam hati nurani itu suatu yang tidak bisa dilihat ataupun didengar, maka dijadikanlah lisan sebagai alat terjemah, maka jelaslah antara syariah dan hakikat mempunyai hubungan yang sangat erat.

Adapun perkataan ahli syariah yang hanya mengerti ilmu tanpa dibarengi amal "selain syariah adalah kufur" maka perkataan mereka ada benarnya dan juga ada salahnya, begitupula halnya perkataan orang-orang yang mengaku berpegang terhadap hakikat tanpa mengetahui syariat "selain hakikat itu tidak ada apa-apanya".

Adapun mereka yang menguasai syariat dan hakikat maka mereka berkata "apakah kamu sekalian tidak mendengar pemberi taufik berfirman :

( والذين جاهدوا )

Artinya :
Yang dimaksud ijtihad (bersungguh-sungguh) dalam ayat tersebut adalah syariah, ijtihad tersebut adalah merealisasikan nas-nas syariah dalam bentuk amal agar mendapat petunjuk kepada jalanNya dan itulah hakikat," dan bagi mereka yang mengaku berpegang kepada hakikat tanpa menggunakan syariah, maka ketahuilah kamu sekalian tidak akan mendapatkan hidayah kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah syariah dan menjauhi larangannya.

Dan diantara karangan Imam Al-Adeni yang paling penting adalah kitabnya yang berjudul "الجزء اللطيف في "التحكيم الشريف, dalam kitab ini beliau menjelaskan secara rinci sanad pemakaian khirqoh menurut ahli tasawuf, dalil-dalil yang digunakan oleh ahli toriq dalam pemakaian khirqoh, perbedaan pendapat ulama tentang khirqoh, serta pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah bid'ah, kemudian Imam Al-Adeni menyelinginya dengan menjelaskan tentang bid'ah dan macamnya, dan seterusnya menyebutkan berbagai macam pemakain khirqoh serta tatakramanya, juga tentang tata cara pengambilan 'ahd dari seorang murid oleh syehnya, seperti berikut ini :

1. hendaklah seorang Syeh menyebutkan adab-adab taubat, kemudian meletakkan telapak tangan kanan diatas telapak tangan sang murid, seraya menyatakan bahwa seorang syeh dan murid keduanya bersekutu dalam taubat.
2. dengan suara keras syeh mengucapkan :

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم استغفر الله العظيم (3 kali ) وأسأله التوبة والمغفرة والتوفيق لما يحبه و يرضى و صلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين.

Setelah Syeh mengucapkan perkataan diatas lalu diikuti oleh sang murid.

Syair-Syair Imam Al-Adeni Memiliki Tujuan yang Bermacam-Macam.

Buku kumpulan syair-syair Imam Al-Adeni dihiasi berbagai macam bentuk syair dan berbagai macam tujuan menurut ahli tasawuf, sebagaimana diketahui bahwa sastera sufi mempunyai ciri khas tersendiri terutama dalam penggunaan kata-kata, kebanyakan kalimat tidak digunakan dalam maknanya yang lugas, begitupula dalam penggunaan kata-kata kiasan, seperti kata mabuk, arak, gelas, panah mata, hindun, laila. Kata-kata tersebut yang dimaksud adalah makna kiasannya, yang dimaksud dengan mabuk adalah kelezatan dalam berzikir dalam tafakur, adapun gelas merupakan sebab untuk mencapai kelezatan tersebut, dan tentang rumus yang menggunakan nama peremupan seperti laila, adalah cara seorang penyair dalam mengungkapkan suatu keindahan batin dengan menggunakan kata-kata yang menunjukkan keindahan zahir.

Dan tidak semua syair sufi berupa syair cinta, selain itu banyak lagi macamnya, seperti syair nasihat, koreksi diri, dan zuhud. Namun dari semua macam syair tersebut mempunyai ciri yang sama dan menunjukkan bahwa sayir tersebut merupakan syair khas para ahli tasawuf.

Dan tidaklah sepantasnya bagi seseorang yang tidak memiliki dzauk seperti yang dimiliki para ahli tasawuf, melecehkan qasidah-qasidah tasawuf dengan menyangkutkan syair-syairnya dengan sesuatu yang mereka hayalkan, sesuatu yang bersangkutan dengan syahwat, dan kalaupun diantara syair-syair sufi yang pada zahirnya menunjukkan makna yang tidak baik, maka hal tersebut tidak bisa dijadikan landasan untuk menyama ratakan hukum tersebut kepada semua ahli tasawuf, disamping semua itu tidak ada perlunya mendebatkan suatu pola pikir yang telah punah dengan kepunahan orang-orangnya dan membesar-besarkan masalah tersebut.

Justru yang perlu menjadi perhatian kita sekarang ini adalah pola pikir dalam kehidupan kita sekarang ini, yang nyata-nyata telah merendahkan martabat dan menghancurkan kehidupan serta harga diri manusia.

Namun perkataan saya ini bukan berarti promosi atas syari romantis sufi ataupun istilah arak maknawinya, tetapi maksud dibalik semua itu adalah menegaskan bahwa seyogyanya kita memberikan penilaian atas suatu madrasah berdasarkan asas pemikirannya bukan dari zahir kata-kata belaka, tanpa melihat hakikat, keadaan, tempat dan waktu keberadaan madrasah itu sendiri.

Dan yang sangat disayangkan, penyamarataan tersebut bukan saja terhadap sastera sufi, namun berlaku kepada segala sesuatu yang bersangkutan dengan tasawuf, orang yang mengaku sebagai peresensi yang nota bene keluaran madrasah eropa, mereka yang menganggap dirinya memikul tugas untuk membersihkan sejarah, sastera dan ilmu-ilmu islam dari kekeliruan dan kesalahan sebagai akibat pemikiran tasawuf dan pemalsuan hadits dan hal lainnya, tetapi semua itu mereka lakukan dengan menggunakan tolok ukur barat yang merupakan ha lasing bagi Islam itu sendiri, oleh sebab itulah pada akhirnya mereka menuduh para pendahulu dengan sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan, dan mereka sendiri menganggap bahwa tolok ukur yang mereka gunakan adalah sesuatu yang murni dari islam, padahal hal tersebut sangat jauh sekali dari Islam, bagaimana tidak? Karena mereka sendiri mendapatkan itu semua dari musuh-musuh Islam maka tidak diragukan lagi mereka sendiri justru telah terpengaruh dengan pemikiran madrasah asalnya.

Dan hal tersebut kini telah merasuki madrasah-madrasah islam dari mulai dasar sampai tingkat tinggi akibat penjajahan moderen.

Dan langkah yang bijak dalam semua ini adalah memaklumi dan memaafkan orang-orang Islam dan merasa kasihan atas keadaan mereka yang menjadi incaran musuh-musuhnya, yang selalu menanamkan permusuhan dan perpecahan diantara orang-orang Islam.

Dan dalam akhir tulisan ini penulis akan menyuguhkan sebagian syair-syairnya Imam Al-Adeni secara ringkas. Sebagian besar syair-syair Imam Al-Adeni merupakan syair romantis yang menggunakan kata-kata dari bahasa daerah dan dengan nada nyanyian, terkadang syairnya keluar dari kaidah-kaidah ilmu arudl, namun kelebihan syair-syair tersebut adalah bait-bait permulaannya memiliki nada yang sangat cocok dengan nada nyanyian para ahli tasawuf Yaman pada zaman itu, adapun kosa-kata yang digunakan oleh Imam Al-Adeni terdiri dari bahasa daerah dan kata-kata arab fasih, adapun bahasa daerah yang sering kali digunakan dalam syair Imam Al-Adeni adalah bahasa daerah Tihamah.

Sebagaimana terlihat dalam bait-bait syair berikut :

شاعشق لي معز غالي وارتقي لي مرتقي عالي
شا فخر لي بفخر محبوبي وأعطاني في الحب مطلوبي

Begitu juga pada bait berikut ini :

إذا شا اترك لهم وواصل سروري ولي رب يعلم بخافي أموري
وشا ادخل وشا اجزم بقلب جسور أرى اللوم عندي خطأ غير صائب
أنا شا استجير بالجمال المكمل ومن في النبيين أكمل وأفضل

dan kalau di teliti secara cermat sebetulnya dalam syair –syair tersebut terdapat kelemahan, dan memang kelemahan dalam segi bentuk syair tersebut merupakan suatu yang biasa, karena tujuan dari syair-syair tersebut adalah dakwah kepada orang-orang awam, selain itu kebanyakan dari gubahan-gubahan tersebut adalah untuk dinyanyikan, oleh sebab itu syair-syair tersebut menggunakan katak-kata yang gampang untuk difaham dan banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menurut sebagaian penulis merupakan suatu kejanggalan dan mereka menganggap bahwa ada sesuatu dibalik itu semua, karena terdapat perpautan yang menyolok antara sastera dan prosa pada zaman itu, prosa lebih mendapat perhatian dari para ulama zaman itu, hal tersebut terlihat jelas dalam tulisan dan khutbah-khutbah yang begitu memperhatikan kaidah-kaidah bahasa baik dari segi tata bahasa, sajak serta balagahnya, dan sebaliknya hal-hal tersebut tidak ditemukan dalam tulisan-tulisan ulama pada zaman itu yang berbentuk sastera.

Jawaban yang bijak atas masalah tersebut bahwasanya ulama-ulama terdahulu walaupun mumupuni dalam segi tata bahasa dan balagah -sebagaimana terlihat jelas dalam tulisan mereka yang berbentuk prosa dan khutbah-khutbahnya- namun mereka tidak menyukai bentuk syair yang dibuat-buat, bahkan terkadang mereka mencela jika seorang penyair terlalu memenitingkan akan bayan badi' apalagi kalau sayiar itu syair sufi yang ditujukan untuk pengajaran dan dakwah, karena mereka lebih suka memberikan petuah dan wejangan kepada orang awam dengan bahasa dan kata-kata yang bisa dan mudah difahami, hal tersebut sebagaimana dikisahkan oleh Habib Abu baker al Attas bin Abdullah bin Alawi Alhabsy bahwasanya beliau berkata : hikayat mengatakan bahwa ketika Habi Abdullah bin Husain bin Thahir mendengar perkataan penyair yang berbunyi :

علي نحت القوافي من معادنها وما علي إذا لم تفهم البقر

Artinya :
Aku harus menggali kowafi (not syair) daripada penyimpanannya
Dan aku tidak perduli kalau syairku tidak difahami oleh orang bodoh
Habib Abdullah bin Husain bin Thahir berkata :

تركت نحت القوافي من معادنها لأن لي مقصدا أن تفهم البقر

Artinya :
Aku tidak menggali kowafi daripada penyimpanannya
Karena aku ingin syairku difahami orang-orang bodoh

Dari hal tersebut diatas sangat jelas bahwa madrasah Hadhramaut memiliki ciri has tersendiri baik dalam pola pikir ataupun kesusastraan, adapun penyebab itu semua karena kebanyakan masyayeh pada zaman itu menggunakan semua waktunya dalam berdakwah dan memberi wejangan kepada orang awam, maka perhatiannya mereka terhadap hal yang lain seperti sastera sangat minim sekali, namun bukan berarti bahwa Hadhramaut pada zaman itu tidak memiliki ulama yang mumpuni dalam syair, karena banyak dari mereka yang memiliki kemampuan yang mumpuni dalam bidang sastera dan syair.

Kesimpulan tersebut diatas merupakan hasil dari penelitian penulis terhadap beberapa ulama dan suyuh Hadhramaut di sela-sela penulisan riwayat hidup Alawi (kakek penulis) dalam buku yang berjudul "لوامع النور". Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa ketika Alawi kembali ke Hadhramaut setelah menimba ilmu dari Mesir dengan membawa berbagai macam ilmu, dia menemukan keadaan Hadhramaut tidak sesuai dengan ilmu yang ia bawa, tentang keadaannya tersebut beliau berkata : "ketika aku tiba di negeriku, tanah kelahiranku, mereka tidak mengetahui balghah, bahkan seseorang yang mempunyai sifat balaghah justru menjadi ejekan, dan ketika aku memeriksa apa yang tersimpan di benakku ternyata semuanya tak berguna, pada saat itulah aku teringat perkataan seorang penyair :

أرض الحراثة لو أتاها جرول نجل الحطيئة لانثنى حراثا
تصدى بها الأذهان بعد صقالها وترد ذكران العقول إناثا

Dan ketika aku dalam keadaan bingung dan ragu tiba-tiba datanglah bisikan yang berkata : "lepaslah sandalmu sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci"

هذا شراب القوم سادتنا وقد أخطا الطريقة من يقل بخلاف

Maka aku terbangun dan jelaslah bahwa jalan yang terbentang adalah jalan dilalah, makomat, ahwal, qobul dan iqbal, maka aku bahwa memang gila itu banyak macamnya dan sesungguhnya hak tersebut selalu bersama orang yang tahu tentang rahasia, maka kemudian aku mengikuti jejak para pendahuluku dan meninggalkan segala yang akan membawa kerusakan kepadaku, dan mulailah aku melangkah dalam jalan dakwah kepada Allah dan memberikan petunjuk kepada yang tersesat.


Syair-syair Kerinduan Imam Al-Adeni


Imam Al-Adeni berkata dalam menggambarkan kerinduannya kepada keluarga dan orang-orang soleh terdahulu :

عرض بذكري إن مررت بلعل واقري السلام أهيل تلك الأربع
واشفع وقل بتذلل وتخشع ياساكني وادي النقا والأرجع
فيكم ضنى جسمي وسالت أدمعي
وبكم لبست من النوى حلل الضنا وهجرت فيكم من نأى أو من دنا
وجعلت حبكم لنفسي ديدنا إن كان مسكنكم بوادي المنحنى
حسا فمثواكم معي في أضلعي
يا من أعدهم أعز دخائري شغفي بحبكم سرى في سائري
وبدا وفاض على جميع مظاهري في خاطري وضمائري وسرائري
في منظري في منطقي في مسمعي
Dan tentang kerinduannya akan kampong halaman dan sanak kerabat beliau berkata :

مسافرين أبلغوا عنا من في تريم ألف ألفي سلام
من قامته تشبه الغصنا ومن جبينه كبدر التمام
متمم الحسن والمعنى سيوجي الطرف قميري الحمام
والجسم من فرقته مضنى وناظري ما تهنا منام
قولوا لمن قد برا حالي لا يحسب انا نسينا لقاه
أفديه بالحال والمال و ليس مقصودي إلا رضاه
والله أقسم ولا أبالي ما حب في الخلائق سواه

Dalam qosidah lain Imam Al-Adeni berkata :

يا سفح عيديد يا مأوى الدمى الكنس الساجيات العيون الفتر النعس
الحاليات اللما الشنب اللعس يا سفح عيديد يا وجدي لغزلانك
يا سفح عيديد يا مأوى الملاح الحور الفاتنات الورى ألباهيات النور
هل ترحمون البعيد القاصي المهجور سقيا ورعيا لروضاتك ورضوانك

Dan dalam kerinduannya terhadap Aden beliau berkata :

هزني الشوق إلى عدن شد يا حادي الركاب
شوقنا ازداد والوسن عن جفوني نزح وغاب
خاطري قط ما سكن مذ جاء منهم كتاب
هل درى وردي الوجن ما بقلبي من اضطراب
لونه يمسك حين فاه ما يماثله قد طيب
أو كما البارد القراح أو كما المندل الرطيب
لا غنى لي ولا سراح عنك والله يا جبيب
وجهك الباهي الحسن شمس ما دونها سحاب

Syair Imam Al-Adeni yang berisikan petuah dan hikmah

نصبت لأهل المناجاة في حندس الليل أعلام
واستعذبوا السهد وامسوا قياما إذ نام من نام
واستقبلهم لطائف بهجات فضل وإكرام
من لذة لا تكيف ولا تصور في الأوهام
قد ذاقها من عناها وهام فيها الذي هام
واستوحش الخلق وامسا في الفيافي والاكام
ولم يعرج على شي سواه لولام من لام
طابوا وفاز المخفون ونحن أرباب الآثام
نبني ونهدم بنانا ومتهى أمرنا اهدام
بالسوف والسوف تسويف تمضي الليالي والأيام
أيامنا قد تقضت على التماني والاوهام
وكل آت قريب والعافية بعدها اسقام
والعمر فان وإن طال لابد من كرة السام
والغيد تمسي أرامل منا وأطفالنا أيتام
ونذكر أياما كنا كأنها أضغاث أحلام
نندم على ما فعلنا ولا يفيد التندام
يا ذا الكسل كم تؤخر توبتك من عام إلى عام
وليست تدري بعام يأتيك من ناقص أو تام
أو هل تحققت دنيا دامت لحد أو لها دام
وليس تعلم لخصمك أمرا إذا جا للالزام
يا كاشف الضر يا من قضى بقدره وأحكام
احفظ علينا جميعا عند انقضا العمر الاسلام
قد جدت فضلا بالاسلام وأفضل الجود ولاتمام
حاشاك بعد التفضل تذيقنا هول الاضرام
فنحن أهل للاسوا وأنت أهل للانعام
تمت وصلوا على احمد مكررا طول الاعوام

Dalam qosidah lain beliau berkata :

كل من ليس يمنع نفسه عن حضيض الهوى ذاق الهوان
من تدني دانت به همته لو يكن عاليا بالزبرقان
واصحب اللطف في كل الأمور ما لطف كل شي إلا وزان
كل جرح علاجه ممكن ما خلا يا فتى جرح اللسان
إنما يوقع المرء الغبي في جميع المصائب خصلتان
الطمع والتعدي للذي ليس يعنيه فاحذر يافلان
والزم الصبر في كل الأمور صاحب الصبر في العقبى معان
لا تعادي زمانك يغلبك كن مساير يسايرك الزمان
لا تعرج على وطن وكن أينما كان عزك هو مكان
فالغنى الغنى كل الغنى التقى ما سوى التقوى ففان
بالتقى يجتمع لك يا فتى في حياتك وفي الأخرى الأمان
لا يقنطك ذنبك والتزم حسن ظنك بربك كل آن
لا تمنى على الله المحال مطلبك منه للعصمة جنان
أنت ما كنت حيا في جهاد كن قوي اليقين ثبت الجنان
وإذا ما يقينك صح به فهو يحفظك ما قد شاه كان
وإذا كنت من أهل اليقين صح قدم التصوف لك وبان
يتضح سر أسرار الغيوب في القلوب والخبر عندك عيان
والكلام بعد ذا لا ينبغي قد حسن هاهنا قبض العنان
والصلاة والسلام على النبي الأتمان ثم الأكملان

Syair Imam Al-Adeni yang Berisikan Koreksi Diri (musahabah nafs)

يا عين إن نام الخلي ففي الدجى لا تهجعي لا تهجعي لا تهجعي
جن الظلام ففي جنانك فارتعي و تمتعي وتمتعي وتمتعي
يا أذن إن طال العذول عتابه لا تسمعي لا تسمعي لا تسمعي
لا يستميلك عن هواك مفند منه ارعوي منه ارعوي منه ارعوي
يا مهجتي شقي الصفوف وبادري لا ترجعي لا ترجعي لا ترجعي
وإذا أتاك الموت من دون المنا لا تجزعي لا تجزعي لا تجزعي
لا تطمعي من دونهم بسلامة لا تطمعي لا تطمعي لا تطمعي
غير الرياض المونقات فاتركي لا ترتعي لا ترتعي لا ترتعي
لا تدعي ريب الهوى بجهالة لا تدعي لا تدعي لا تدعي
إن كنت صادقا فلا تتخشي الفنا فله اكرعي فله اكرعي فله اكرعي
و تجرعي غصص المهالك واصبري و تجرعي و تجرعي و تجرعي
إن صاح ناقوس الهوى آن اللقا كوني اسرعي كوني اسرعي كوني اسرعي


Syair Imam Al-Adeni dalam Bentuk Surat Menyurat

Banyak ditemukan dalam kumpulan syair-syair Imam Al-Adeni syair yang berbentuk surat ditujukan kepada salah seorang ulama ataupun kerabatnya, jika ditinjau dari susunan bait syair dan seni susunannya tidak berbeda dengan syair-syair lainnya, hanya saja syair dalam bentuk surat ini menunjukkan suatu adat masayeh pada zaman itu yang menulis surat dengan berbentuk syair, diantara syair-syair tersebut adalah jawaban kepada qosidahnya Alqadli Syihabuddin Ahmad bin Umar al mazajad pada tahun 910 H.

أجادت سليمى بالوصال وبالبشر وبالود منها ليس بالصد والهجر
ولم تصغي للواشين سمعا وإنها لتعلم ما يجني الوشاة من الوزر
تراها على العهد القديم مع الوفا ولم تلتفت من قول عمرو ولا بكر
وشيمتها لم تستحل عن ودادها وليست تقابل صفوها قط بالمكر
يظن بها نقض العهود وإنها على كل حال لا تشوبه بالغدر
ففي قربها عز ومجد ورفعة إلى الغاية القصوى إلى العالم الحبر
شهاب العلا غوث الملا هو أحمد وقاضي قضاة الوقت في مدة العصر
فيوم له في العلم والفضل والحجى يزيد على أعمار سبع من النسر
وفي العلم يم لم يزل متلاطما يقل عليه مد سبع من النهر
فيا أيها القاضي الذي وصف فضله يجل عن الإحصا والعد والحصر
كتابك أحلى في الفؤاد منى المنى وأطيب من مر النسيم إذا يسري
وإني بصدق الود منك وبالوفا عليم وكل قد أحاط به خبري
وخاطرك المحروس يشهد أنني على الصدق والود الأكيد مدى عمري

Jawaban lain yang ditulis pada akhir tahun 913 H

سلام كروض عمه وبل ساجمه ففتح من نور الكمام مباسمه
سلام يفوق المسك في نشر عطره ويزري بذوق الشهد في فم طاعمه
على السيد الحبر الحليم شهابنا نواوي العلا مفتي الزمان وحاكمه
له في سلوك الدين أوضح منهج له في فنون العلم أوفى مقاسمه
لكل زمان عالم يهتدى به وهذا زمان أنت لا شك عالمه

Syair-syair Romantis Imam Al-Adeni

-syair Imam Al-Adeni yang berisi pujian kepada Sultan Adzafir Amir bin Abdul Wahab :

شوقي إلى زينب شديد شائق والقلب إليها لايزال خافق
وأدمعي من مقلتي دوافق شوقا ونومي للجفون مفارق
خدود زينب زينت بتوريد وجيد زينب جيد ظبية البيد
نفسي فدا زينب وذلك الجيد لقد حوت زينب لحسن فائق
زينب منى قلبي وكل قصدي زينب لها أرفع محل عندي
ما حال زينب يا نسيم بعدي أما أنا مشتاق صب وامق
فإن زينب قرة النواظر وإن زينب منية الخواطر
لولا صلاح المركمات عامر لأطير إليها واقطع العلائق

Yang dimaksud dengan kalimat zainab, dalam syair diatas bukan hakikatnya, melainkan sebuah rumus yang hanya dipahami oleh si penyair dan orang yang dituju, sebagai dalil bahwasanya kalimat zainab bukan berarti nama perempuan adalah syair tersebut ditujukan kepada seorang pmpinan tentara yang sangat tidak mungkin dan bahkan justru akan menimbulkan kemarahannya jika kalimat-kalimat dalam syair diatas difahami secara harfiah tanpa mengindahkan maksud dari sang penyair, tetapi hal tersebut sebagaimana telah dijelaskan dalam bab sebelumnya, merupakan suatu ciri khas ulama dan para pembesar pada zaman itu, yang terbiasa saling melontarkan pujian dan sanjungan diantara mereka dengan memakai ungkapan-ungkapan romatis, sehingga tidak mungkin menimbulkan prasangka yang tidak baik, oleh karena itu syair semacam ini banyak sekali ditemui dalam kumpulan syair-syair ulama dan pembesar pada zaman itu.

Dan cara tersebut merupakan suatu seni yang indah dan terpuji pada zaman itu, dan termasuk suatu seni dalam syair yang telah punah dengan punahnya para penyair yang memiliki seni dan karakter tersebut, dan tidak mungkin bagi generasi berikutnya mengikuti gaya tersebut kecuali dengan memenuhi karakter yang dimiliki oleh para penyair-penyair di zaman tersebut, marilah kita perhatikan sebuah syair Imam Al-Adeni yang berisikan pujian kepada ayahandanya Imam Alidrus yang menggunakan gaya romantis:

رق السقيم يا رديني القد يا داجي الثميم دمعه رديم
فوق وجنة الخد من شادن تريم كم ذا أهيم مستهام معمد
يا زاهي البريم شغبه عظيم بالفراق والصد يعلم به العليم
ليت يا خرود تسمح الليالي وأفراحنا تعود تطلع السعود
في سما الوصال تشفي به الكبود تنجلي الصدود والقليب سالي
بك واظبي أطلب الرحيم العظيم الأوحد إن يغني العديم
ساجي الكحيل حاني الموشم ما شابكم بديل ليس لك مثيل
بالطريق الأحوم والمنظر ارحم العليل الكئيب ذا الهم
الواله النحيل كن به رحيم يا حبيب تحمد لا زلت في نعيم
عافني الكرى والقليب والجوف فيه جدد السرى
حادي الركائب يشفي بك عند ما ترى أفخر القباب
قبر الولي الفرد شيخنا الحليم الإمام الأوحد عبد الله الكريم

Sebagian besar syair-syair sufi memang berupa syair romantis, namun dalam memahami syair seperti ini hendaklah jangan keluar dari aturan dalam seni sastera, kalimata-kalimat atau rumus-rumus yang dipakai dalam syair ini boleh di takwili dengan makna yang pantas dan masuk akal serta tidak bertentangan dengan maksud sang penyair, namun penggunaan rumus-rumus tersebut tidak boleh digunakan dalam Zat Allah SWT, rumus tersebut hanya digunakan untuk menunjukkan kemuliaan dan keutamaan pada diri manusia.

Hal tersebut sebagaimana diisyaratkan oleh Imam Al haddad yang dinukil oleh Al-Ahsai : "dan rumus-rumus tersebut tidak boleh digunakan pada Zat Allah SWT begitupula para nabi, hal tersebut hanya pantas digunakan untuk pujian kepada ruh ataupun cacian kepada hawa nafsu".

Walau demikian tidak semuanya rumus yang digunakan membutuhkan tkwil, karena terkadang rumus-rumus yang digunakan sangat jelas maknanya, hal tersebut sebagaimana dalam perkataan imam Al-Adeni :

يا ساكنين وادي النقا ما بين عيديد ودمون
أدعو لكم طول البقا أن لا يريكم ربنا هون
قلبي لكم متشوق وفي رباكم صار مرهون
متى يكون الملتقى لعل يسلو كل محزون
فكم بها غيد زهت كادت تفاخر حسن بلقيس
ماالبدر ماالشمس إن بدت ما ريم رامه ما الطواويس
العاليات المرتقى فكم بها من صب مفتون
يا أهل بيت المصطفى يا أهل الهداية والمعارف
كم فيكم صوفي صفا ومنكم كم حبر عارف

Sebagian Syair Imam Al-Adeni yang Berisikan Pujian :
-qosidah yang ditujukan kepada sultan Amir bin Abdul Wahab setelah menang dalam peperangan

عنايات وتيسير بيسر ولطف شامل ودوام نصر
وتأييد من المولى تعالى وحفظ مانع من كل ضر
وفتح عن قريب في علاء وعافية مؤبدة وستر
لمولانا الإمام ومن ترقى على كل الملوك بكل فخر
فأنت على الشريعة لا خلاف لما قلناه في سر وجهر

-qosidah yang ditujukan kepada penguasa Zaila' Nasiruddin bin Abdullah Bahlawan

ألا يا ناصر الدين المسمى بنصر الدين أكفيت الهموم
نصرت على الجميع بنصر ربي وأعطاك المهيمن ما تروم
ولا زالت لك الأيام سعدا وأيام الذي يشناك شوم
فطب نفسا بما قد قلت حقا بهذا القول قد حكم الحكيم

-qosidah yang ditujukan kepada saudara sepupunya Syeh Abdurrahman bin Ali, ditulis pada tahun 895 H.

سبط النبوة وارث السر الذي يهدي من لم يكن بالمهتدي
جم الفضائل عابد الرحمن من أنواره كالكوكب المتوقد
عيني التي عين اليقين أرى بها ويدي التي تسطو إذا أكلت يدي
وأخي الذي صدق الإخا أو ليته وخصصته مني بصدق توددي

Sebagian Syair Imam Al-Adeni Tentang Tawajud dan Sama'

مقام السماع مقام شريف بصحب وذكر وموضع نظيف
لنا فيه يا صاح معنى لطيف يقيم اللطيف ويفني الكثيف
تظن السماع سماع الدفوف أو ان التصوف لباسك صوف
أو الوجد هو التصديه بالكفوف فلا يعتقد ذاك إلا سخيف
سماع الرجال شهود وحال بحق اليقين ونفي المحال
بشوق وتوق لمعنى الجمال وقلب تقي وجسم عفيف
وكل التواجد سوى ذا حرام بنص الشيوح الفحول الكرام
كراعي "العوارف" وعالي المقام قشيري "الرسالة" وكم من منيف

Dan kebanyakan syair imam Al-Adeni yang berisikan dzauk biasanya mengandung pembenaran atas faham yang salah tentang tawajud, ataupun peringatan kepada orang-orang yang melewati batas tatakrama seperti gerakan-gerakan yang berlebihan ataupun tangisan yang bersuara.


Kedudukan, Peninggalan dan Peran Imam Al-Adeni dalam Perbaikan Kehidupan Bermasyarakat


Semenjak Imam Al-Adeni memutuskan untuk menjadikan Aden sebagai tempat tinggal pada tahun 889 H, semua warga setempat dari berbagai macam kalangan menyambut gembira kehadiran beliau ditengah-tengah mereka, Imam Al-Adeni bagi masyarakat setempat adalah sorang bapak yang bijak, seorang pendidik yang penuh kasih, seorang saudara yang ikhlas, dan tidak seorang pun dari mereka yang menentang keberadaan Imam Al-Adeni.

Dan semenjak itu pula Imam Al-Adeni menjalankan tugas mulianya menyebarkan ilmu dan dakwah kepada jalan Allah SWT dengan hikmah dan petuah-petuah yang baik, membantu kaum fakir miskin serta anak-anak yatim piatu, hari-hari Imam Al-Adeni dibagi untuk zikir dan ilmu, dakwah dan mengajar, hingga akhirnya rampunglah pembangunan masjid dan sarana pelengkapnya, maka kemudian masjid itu dijadikannya pusat dakwah dan penyebaran ilmu, disamping sebagai penampungan orang-orang musafir dan kaum fakir miskin serta anak-anak yatim sebagaimana telah disebutkan dalam bab terdahulu.

Kedudukan Imam Al-Adeni di kota Aden sangat tinggi, nama besarnya dikenal dimana-mana, Allah memberinya anugerah karomah-karomah dan tanda-tanda kebesaran Allah SWT, sehingga membuat ciut nyali para penjahat dan tukang maksiat, begitu pula halnya dengan para pembesar berlomba-lomba untuk mendekati beliau dan memohon doa serta ridlonya, dan dalam kehidupan sosial kemasyarakatn beliau pun mempunyai andil besar dalam mendamaikan kelompok masyarakat yang bertikai, serta membantu kaum papa dan para musafir.

Diantara jasa Imam Al-Adeni dalam bidang sosial adalah pembangunan ribat dan masjid yang hingga sekarang dikenal dengan masjid Al-Adeni, dan dengan isyarat beliau kepada para pejabat dan orang-orang kaya terbentuklah bendungan-bendungan penampung air hujan serta perbaikan jalan di Aden dan Hadhramaut dan kota lainnya.

Sayid Alawi bin Tohir Al haddad dalam kitabnya "Asy-samil" halaman 196 ketika menyipati bendungan gidun di lembah Doan : bendungan tersebut dalamnya setinggi 6 kali orang dewasa, volume mukanya 100m, volume dasarnya 50m, dindingnya dilapisi di cat dengan kapur. Bendungan tersebut sudah berumur ratusan tahun, dan Imam Abu Bakar Alidrus Al-Alawi Al-Husaini mengisyaratkan kepada sultan Amir bin Abdul Wahab Ath-Thahiri Al-Himyari agar memperbaikinya, dan dikatakan bahwa perbaikan bendungan tersebut menghabiskan satu keranjang emas.

Imam Al-Adeni juga memiliki jasa besar dalam perbaikan lembah Tsubai dan perbaikan masjid-masjid di kota Tarim dan lainnya yang merupakan kemaslahatan umum, dan sebagai wakil dari Imam Al-Adeni dalam semua pembangunan tersebut adalah Sayid Syarif Muhammad bin Ahmad bin Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Alfaqih Ahmad bin Abdurrahman bin Alawi Ammulfaqih.

Adapun di kota Aden Imam Al-Adeni mempunyai sedekah tahunan kepada para penuntut ilmu dan pengurus makam, para pengikut dan pecinta Imam Al-Adeni membeli tanah perkebunan yang hasilnya untuk membiayai pemeliharaan makam serta perayaan tahunan yang sejak dulu dilakukan. Menurut para ahli sejarah bahwa perayaan tahunan ziarah Aden sudah ada dimasa hayatnya Imam Al-Adeni, dan beliau menghidupkan kembali perayaan tersebut karena bermanfaat bagi orang-orang lemah dan fakir miskin, diantara adat dalam perayaan tersebut adalah yang dikenal dengan nama "kiswah" yaitu pembagian pakaian kepada para kaum lemah dan fakir miskin, namun kemudian adat tersebut diganti oleh generasi seterusnya dengan penggantian kelamu yang dipakai menutupi kuburan dan bekasanya diperebutkan oleh para peziarah dipintu masjid, jelas beda sekali antara adat yang dikukuhkan oleh Imam Al-Adeni yang merupakan sedekah kepada kaum lemah dan miskin, dengan adat yang diciptakan oleh generasi setelahnya yang telah menyebabkan perpecahan umat islam.

Dan dengan bergesernya zaman perayaan ziarah Aden pun semakin banyak bercampur dengan kemunkaran dan keluar dari maksud asalnya ziaroh, maka perayaan tahunan itupun berubah pungsi menjadi suatu adat yang bercampur dengan berbagai macam kemunkaran, hal tersebutlah yang kemudian mendorong sebagian orang mengingkari ziaroh tersebut karena mereka menganggap hal tersebut merupakan cara penghormatan yang lewat batas, dan justru menyediakan lapangan maksiat dengan berkedok ilmu dan ulama dan penghormatan kepada para wali.

Dan ketika terjadi apa yang mereka sebut kebangkitan Islam di Aden, muncullah dalam lingkungan masyarakat Aden perbedaan pendapat tentang penghormatan kepada para wali Allah, hal yang menimbulkan suatu perpecahan diantara masyarakat dan bahkan bentrokan senjata, karena pihak yang berpendapat bahwa hal tersebut bertentangan dengan agama menentangnya dengan keras, bahkan terjadilah penghancuran dan penggalian beberapa kuburan, dan upaya pembenaranpun keluar dari jalurnya bahkan berbalik menjadi ajang caci maki dan penghinaan bahkan terhadap para sholihin. Ketika itulah dengan taufik dari Allah SWT, muncul dari dalam lingkungan madrasah Imam Alidrus dan para pengurus masjid, ide untuk mengakhiri konflik tersebut dengan mengambil jalan tengah, dengan menata kembali makam dan masjid serta ziaroh sesuai hokum syara' dan tujuan asalnya yaitu menyebarkan ilmu dan mendidik para generasi dengan keutamaan akhlak, disamping membuat batasan-batasan dalam ziaroh sehingga terhindar dari kemunkaran dan subhat yang sebelumnya telah menjadi bagian dari ziaroh itu sendiri.

Imam Al-Adeni dimata para pecinta dan orang yang membencinya


Dari mulai Imam Al-Adeni terjun sebagai dai dan pendidik, segala cobaan dan ujianpun bermunculan disamping mereka yang menerima kedatangan beliau dan mengikuti petunjuknya, dan itulah hikmah Allah pada para hambaNya, sebagian dari hal tersebut ditulis oleh Imam Al-Adeni dalam bentuk syair sebagaimana terdapat dalam buku kumpulan syairnya pada halaman 53.

Imama Al-Adeni berkata tentang ahli zaman itu, diantaranya tentang Sultan Tarim, yang telah menentang Imam Al-Adeni, hingga hal tersebut berpengaruh kepada para pengikut dan keluarganya, maka hal yang disebutkan dalam qosidah inipun terjadi kepada penguasa Tarim tersebut, hal tersebut terjadi pada tahun 875 H.

لا ترجفوني فإنني لا أجزع من رجفكم كلا ولا أتزعزع
عندي محقق أن كل رجوفكم بي لا يضر وودكم لا ينفع
أنتم أقل أذل من أن تجلبوا نفعا ولستم للضرائر تدفع
النافع الضار المهيمن ربنا إن شا يذل عبيده أو يرفع
ما أن ذكرت تقربا منكم مضى إلا وكدت لذكره أتقطع
أسفا على بذر الجميل ببقعة بطحا سباخا بذرها لا يزرع
والآن قد عاهدت نفسي يافتى عهدا وثيقا لاإليكم أرجع
حسبي ببعدي عنكم لي راحة ما شئتم من بعد هذا فاصنعوا
وإن احتويت بسيفك الهندي فلي سيف إلى ضرب المفارق أسرع
سيفي هو اسم الله الأعظم خصني إرثا به جدي الشجاع الأورع
وإن التجأت بحصنك العالي أنا حصني أعز لدى الخصام وأمنع
حسبي هو القرآن والأسما العظا م فمن هنا يا ذاك حصني
وإن اعتزيت لنا بجد ظالم جدي الذي هو في العالمين يشفع
الهاشمي المصطفى خير الورى ذخري إذا بالهول شاب الرضع
وإذا صرخت إلى عساكرك التي لا يبلغنك جمعها ما تطمع
ناديت كل الصالحين فأبرموا أمرا به تلقى الهلاك فأجمعوا
هذا ولو أبغي عنادك ظاهرا والأرض تبقى بعد بعدي بلقع
لخرجت أسعى نحو أرض غيرها وبقيت فيها بالنعم أمتع
لا عار قد جاء الأوائل من قرى أرض العراق إلى بلادك ينجعوا
لم يبق بعد خروج سيد هاشم من مكة عار على من يتبع
يا أكرم الكرماء يا رب السما يا كاشفا ضراء من يتضرع
اهزم جيوش البغي وافلل حدها ليطيب بعدهم الربا والموضع
ويكون فيها بعدهم أحد يرى فيه الصلاح لعل تصفو الأربع
أو جد وبدلهم صلاحا دافعا لفسادهم فلعلهم أن يقلعوا
خذ هذه الأبيات مني كي ترى ما كنت تخشى يا شهاب وتفزع
ها أنا أقول وأنتم قد قلتم وغدا يرى من بالحقيقة يطلع
كنا نسايركم لنخفي ظلمكم فازداد ظلمكم فزال البرقع
فأشعت إنكاري لنصر شريعة جاء الرسول بها إلينا يصدع
صلى عليه مع السلام الهنا ما الورق غنت والضياع يتشعشع
والآل والأصحاب أعلام الهدى من فيهم سر المهيمن مودع

Tentang orang-orang yang tidak menepati janjinya Imam Al-Adeni berkata :

أعاتب دهري أم لنفسي أعاتب وثوقي بمن قد لاحقته التجارب
فكم صاحب أرجوه عند ملمة سداد لها فازددن منه المصائب
فما أكثر الأصحاب حين تعدهم وما قلهم إن حاولتك النوائب
وكم صاحب أملته أن يعينني فكان كبرق لاح لي وهو خالب
رأيت سرابا لاح لي فظننته شرابا وغرتني الظنون الكواذب
وكم من فتى أرجو مواهب بره وقد صار بالضد المواهب ناهب
فدعوى بلا صدق ومن بلا عطا فخيب آمالي به وهو خائب

Tentang orang-orang yang mencelanya karena hutang yang ditanggungnya akibat nafkah dan mendamaikan kelompok yang bertikai dan juga membantu orang-orang yang tidak mampuh serta kemaslahatan umum lainnya, Imam Al-Adeni berkata :

سبحان عالم إعلاني وإسراري وشاهدي غائبا أو كنت في داري
وعالم السر مني حيث أستره وغيره ماله علم بأسراري
بأنني لست أرضى غيره بدلا آوي إلى عزه من كل ختار
أشكوا إلى الله ممن لام في كرمي على المقلين من أبناء أعصاري
أنا الذي لا أرى الإمساك يصلح لي فلا أفارق جودي خوف إعساري
وطنت نفسي على أشياء أعرفها عن كابر كلها أفعال أخيار
وليس لي مسلك إلا اتباعهم وسبق لاحقهم في كل مضمار
فلو بذلت طريق المال عن طرف مع التليد لما باليت يا جاري
أيمسك المال خوف الفقر ذو كرم عرق الندى في مجاري جسمه جاري
ولو تدينت ملء الأرض من ذهب ما بات عندي منه عشر أعشار
لم أكترث من ثقيل الدين أحمله الله يحمل جل الحادث الطاري
مولاي يقضيه عني فهو ذو جدة بحيث يسره من غير إجبار
يا صاح قل للذي بالدين عيرني ماذا علي بذاك العار من عار

Dalam buku kumpulan syair Imam Al-Adeni disebutkan bahwa ada seorang sufi dari Abyan yang menentang Imam Al-Adeni dan berlaku tidak sopan terhadapnya, maka Imam Al-Adeni menulis bait syair yang berisikan ancaman kepada orang tersebut, dan Allah telah membuktikan doanya tersebut, bait syair tersebut sebagai berikut :

سيفي المهند ما كحده وجدي أحمد
أقد به هامة معاندي قد واهده هده
وهزلنا عند المبارزة جد قول مؤكد
من حد اذا قمنا ومن له حد الله يشهد
وفضلنا يشهد بكل مشهد الأب عن جد
العيدروس الأب والسويني كألف فارس
وكم أسود قائمة بعوني ورب حارس
وسوف تنظر أينا له اليد ومن يؤيد
بدر السعادة قد قرب طلوعه فسوف يظهر
إذا بدا كل الشهب تطيعه ولو تأخر
غصن زكى أصله مع فروعه وزهره أثمر
فيا ابن شمس الدين قم تأكد فحربنا شد
فسوف تنهب يا فتى وتبعد وابنك يقيد


Peninggalan-peninggalan Imam Al-Adeni


Imam Al-Adeni meninggalkan peninggalan-peninggalan ilmiah yang begitu penting dan berharga, diantaranya adalah ribat dan masjid yang menjadi pusat penyebaran dakwah islamiah dan ilmu syariah, selain itu adalah makamnya beliau yang sampai sekarang digunakan sebagai tempat hadhrah setiap senin malam, selian itu Imam Al-Adeni juga meninggalkan beberapa barang berupa tasbih, wadah air dan tongkat yang digunakan pada waktu khutbah.

Namun barang-barang peninggalan itu raib dicuri dalam serangan terhadap masjid dan kubah, bahkan bukan hanya barang-barang itu saja, para penyerang itupun mengambil daun pintu makam, ukiran-ukiran bersejarah dan beberapa daun jendela, terutama jendela tarim dan membakarnya bersamaan dengan tulang-tulang jenazah dari kuburan yang mereka gali.

Adapun mimbar masjid, itu diyakini bahwa dibuat setelah peristiwa penyerangan terhadap masjid, adapun kayunya didatangkan dari India, dan dalam kurun waktu berikutnya dilakukanlah perbaikan masjid secara menyeluruh oleh para munsib termasuk sumur Imam Al-Adeni yang dinamai sumur kesembuhan, yang dipakai mandi dan wudlu.

Imam Al-Adeni Meninggal Dunia

Imam Al-Adeni menghabiskan masa hidupnya dalam pengabdian kepada Sang Pencipta, menegakkan ilmu serta dakwah kepada Allah SWT, dan mengajak umat manusia kepada kebaikan dan mengamalkannya, hingga akhirnya Allah memberinya sakit beberapa hari untuk kemudian dipanggilan ke hadiratNya pada malam selasa tanggal 14 Syawal tahun 914 H, dalam usianya yang ke-63 tahun.

Mendengar wafatnya Imam Al-Adeni, kota Aden menjadi geger, semua lapisan penduduk berbondong-bondong mendatangi masjid dan rumahnya, tempat beliau dimandikan dan dikafani, kemudian dibawa ke masjid dengan diiringi doa yang tidak henti-hentinya untuk kemudian disalatkan dan dikuburkan ditempat yang beliau pilih sedniri semasa hidupnya, setelah itu diadakan khatam Qur'an selama 3 hari sebagaimana adapt di Hadhramaut dan diakhiri dengan ceramah dan pembacaan syair dari para ulama dan murid-murid Imam Al-Adeni, diantara murid Imam Al-Adeni yang menyampaikan bela sungkawa dalam bentuk syair adalah Al-Allamah Muhammad bin Ahmad Bahraq, syairnya adalah sebagai berikut :

كل نفس إلى الفناء تؤول ما لحي إلى البقاء سبيل
إن في الموت عبرة هي تكفي كيف والموت في سواه قليل
كم وكم في التراب صدر مهاب وفتى باسل ووجه جميل
كيف يلتذ بالمعيشة مرء وإلى اللهو بعد هذا يميل
يا لها غفلة تمادت فضلت عن سواء السبيل فيها عقول
لعبت بالعقول دنيا غرور لم يفق عن خمارها إلا القليل

Sampai dengan ….

رمقت عينه العواقب فيها فشراها لما اشتراها الجهول
شاد جودا فساد مجدا فأضحى في ذرى العز حين ذل البخيل
فهو السيد الشريف الذي قد سلسلت فروعه والأصول
وجدير بالمجد والفخر غصن أصله دوحة نمتها البتول
قل لمن رام شأوه قصر درك الفخر بالمنى مستحيل
والقبر ثوى به كيف أضحى ولبدر الكمال فيه أقول
حرمت حضرموت فخرا حوته عدن لم تحزه تلك الطلول
صار ذاك اسمها كما كان فيها ساكنا فدام فيها النزول
فبها العرب والجهات جميعا عمها النور والبها والقبول
فابشروا أيها النزول بعدن وسلام من ربكم لا يزول
لا يخف من يحوم حول حماها كيف يخشى وقد حمتها الفحول
كل من رامها بسوء وإن ظــ ـن نجاحا فإنه المخذول
نسأل الله أن يديم علينا نعما لا يشوبها تحويل
ويقيم الولاة بالعدل فينا ولأهل الفساد عنا يزيل
وصلاة مع السلام على من شق بالحجر صدره جبريل
أحمد الحامد البشير النذير الــ ــفاتح الخاتم النبي الرسول

Setelah Imam Al-Adeni wafat, yang menggantikan kedudukan beliau adalah putranya Imam Al-Allamah Ahmad Al-Musawa, masa Imam Al-Adeni tinggal di Aden dari kedatangan beliau ke Aden hingga wafatnya adalah kurang lebih 25 tahun, hal tersebut sebagaimana disebut oleh ahli sejarah keturunan Alfaqih Syeh Abdullah bin Ahmad Al Hadrami dalam kitab "Tarikh Asyihir" dalam dua bait berikut ini

"قضى جا" تراه وفيا بعام وفاة الولي القطب صاحب عدن
أبي بكر العيدروس الذي به الله أعلى منار السنن

Tangggal wafatnya Imam Al-Adeni disebutkan pada awal bait yaitu "قضى " =910 "جا" =4, 910+4=914.

Sadah Ali Alidrus dibawah lindungan makom Imam Al-Adeni

Semenjak wafatnya Imam Abu Bakar bin Abdullah Alidrus, kedudukan keluarga besar Alidrus melambung tinggi dan muncul sebagai perwakilan dari keluarga besar bani Alawi, bukan merupakan suatu yang aneh hal tersebut terjadi, Karen sebelumnya telah disebutkan oleh salah seorang perempuan sholehah dari bani Alawi yaitu istrinya Imam Syeh Abdurrahman Assegaf, yang mengatakan "setiap sesuatu memiliki inti (hati/sumsum) dan intinya keluarga besar Baalawi adalah Ali Alidrus".

Begitu pula dengan kedudukan keluarga besar Alidrus di Aden, tetap berdiri kokoh bagaikan gunung yang kokoh menjulang tinggi tidak tergoyahkan dengan perubahan waktu dan generasi, dan berbagai peristiwa bersejarah yang terjadi dari mulai abad ke-9 dan 10 hingga sekarang, tidak luput dari peran penting keluarga besar Alidrus, walapun berbagai pihak yang tidak menyukai berusaha memutar balikkan pakta sejarah, dalam bab berikut ini penulis berusaha menyebutkan sebagian kecil dari peran keluarga besar Alidrus dan makam Al-Adeni dalam mengukir sejarah Aden.

1. Mimpi komandan perang Turki sebagai sebab memasuki Aden
Ahli sejarah Ustadz Abdullah Muhairiz dalam kitabnya "Al-Uqbah" mengisahkan tentang masuknya tentara Turki ke Aden pada tahun 976 H, ketika itu Amir Qosim bin Syuwai' berada di Aden, Muhairiz mengatakan bahwa tentara Turki mengepung kota Aden dari pelabuhan Shairah dan pintu Aden dan mengusir kapal-kapal Portugal yang dating untuk membantu Amir Qosim, dan pengepungan itupun terjadi dalam waktu yang begitu lama sehingga salah satu pemimpin mereka yang bernama Sukur Kadakhda yang kemudian dikenal dengan Kapten Alyaman bingung kehabisan pikir mencari jalan untuk masuk kota Aden, akibat lelah ahirnya tertidur, dalam tidurnya dia mimpi di datangi oleh Imam Al-Adeni dan menunjukkan jalan masuk ke kota Aden, dalam mimpi itu Imam Al-Adeni menggandeng tangannya dan membawanya ke benteng Aden yang bernama Syamsan yang tingginya tidak tertandingi, dan menunjukkan tangga untuk menaiki benteng tersebut, seraya memerintahkannya untuk menaiki tangga tersebut, lalu terbangunlah Kapten Alyaman kemudian bersama anak buahnya memanjat benteng Aden melalui jalan yang ditunjukkan oleh Imam Al-Adeni dalam mimpinya, dengan itu masuklah tentara Utsamni dari darat dan laut dan meringkus Amir Qosim bin Asyuwai' pada 28 Dzul qo'dah tahun 976 H.

2. Peran keluarga Alidrus dalam memerangi Portugal
Athoyib Bafaqih dalam kitab "Sejarah Kota Syihir", sebagaimana dinukil oleh Hmzah Lukman dalam "Sejarah Kepulauan Yaman" sebagaimana dinukil Hasan Syihab dalam "Sejarah Kelautan Yaman" menyebutkan : pada awal bulan Rabi' Atsani tahun 942 H, yang bertepatan dengan 1535 M, datanglah kapal asing dan ditengah perjalanan mereka merampok dan merampas, kemudian sampailah ke kota Syihir, dari sana mereka bersama beberapa kelompok orang asing lainnya meneruskan perjalanan dengan melalui jalan laut ke Al misyqos, dan menjelang tiga hari kemudian terdengar kabar bahwa mereka telah sampai di Qosyan, dan disana terdapat tentara kerajaan Athahiriah yang dipimpin oleh Sayid Abdullah bin Syeh Alidrus menggantikan Sultan Amir bin Daud bin Tohir, maka terjadilah peperangan yang sengit antara kedua kelompok tentara yang diakhiri dengan kemenangan tentara Sayid Abdullah atas tentara asing.

3. Peran keluarga Alidrus di Aden dalam memadamkan api fitnah pada tahun 933 H.
Athoyib Bafaqih dalam kitab "Sejarah kota Syihir" mengatakan : setelah tentara Turki terpukul kalah oleh tentara asing, Syeh Ahmad bin Muhammad Shahib Aden melarikan diri dengan menggunakan jalur laut, namun hal tersebut diketahui oleh Syarif Abdullah bin Syeh Alidrus dan Al faqih Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Bafadol dan ulama-ulama lainnya, maka mereka memintanya kembali ke Aden untuk menenangkan keadaan dan memadamkan fitnah disana, namun ditengah perjalanan menuju Aden mereka diserang, akhirnya kembali lagi.

Nama-nama munsib Alidrus yang merawat makam dan semua peninggalan serta meneruskan perjuangan Imam Al-Adeni dalam menyebarkan dakwah dan ilmu

1- Sayid Ahmad Al Musawa bin Abu Bakar Alidrus, meninggal tahun 922 H (1447 M)
2- Sayid Muhammad bin Abdullah bin Abu Bakar Alidrus, meninggal di Mekah tahun 978 H (1503 M)
3- Sayid Umar bin Abdullah bin Abu Bakar Alidrus, meninggal di Aden tahun 1000 H (1525 M)
4- Sayid Muhammad bin Umar bin Abdullah bin Abu Bakar Alidrus, meninggal di Aden
5- Sayid Ahmad bin Umar bin Abdullah Alidrus, meninggal di Aden
6- Sayid Muhammad bin Ahmad bin Umar bin Abu Bakar Alidrus, meninggal di Aden.
7- Sayid Alawi bin Zen bin Muhammad Alidrus, meninggal di Aden.
8- Sayid Zen bin Alawi bin Zen bin Abu Bakar Alidrus, meninggal di Aden.
9- Sayid Alawi bin Zen bin Alawi bin Zen bin Muhammad bin Zen bin Ahmad bin Umar bin Abdullah Alidrus, meninggal di Aden.
10- Sayid Zen bin Alawi bin Zen bin Alawi Alidrus, meninggal di Aden tahun 1902 M.
11- Sayid Idrus bin Zen bin Alawi dari tahun 1902 M hingga wafatnya tahun 1927 M.
12- Sayid Syamsul ulama Abdullah bin Idrus bin Zen Alidrus dari tahun 1927 hingga wafatnya pada tahun 1948 M.
13- Sayid Zen bin Hasan bin Idrus Alidrus 1948 hingga wafatnya tanggal 5 bulan Mei 1960 M.
14- Sayid Abu Bakar bin Abdullah bin Idrus bin Zen bin Alawi dari tahun 1960 hingga 1966 M.
15- Sayid Abdullah bin Idrus bin Zen Alidrus dari 1966 hingga 1972 M.
16- Sayid Mustofa bin Zen bin Hasan bin Idrus bin Zen bin Alawi bin Zen Alidrus dari tahun 1972 hingga sekarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar