Rabu, 28 Januari 2009

Imam Muhammad bin Ali Shohib Mirbat Ra

Tokoh yang satu ini memiliki karakter sebagai pembentuk kader yang mampu membina umat dengan ilmu hikmahnya hingga sampai ke bumi nusantara.

Saksi Sejarah

و صاحب المرباط إمام جامع

Shahibul Mirbath panutan sempurna

تفرع منه أصل كل إمام

Nasab para panutan kembali padanya

أولئك وراث النبي و رهطه

Mereka pewaris Nabi dan kelompoknya

و أولاده بالرغم للمتعامي

Putra-putranya sekalipun bagi orang yang pura-pura buta

(mereka pewaris para nabi, kelompok dan para putranya meskipun menurut pandangan orang yang berpura-pura buta)
Al Imam Abdullah bin Alwi Al Haddad

Silsilah nasab beliau yang mulia

Rasulullah SAW
Al Imam Ali dan Sayidah Fathimah Al Zahra
Al Husain
Ali Zainal Abidin
Muhammad Al Baqir
Ja'far Al Shadiq
Ali Al Uraidli
Muhammad AL Naqib
Isa
Ahmad Al Muhajir
Ubaidillah
Alawi
Muhammad
Alawi Khali' Qasam
Ali
Al Imam Muhammad Shahibul Marbath
Ali---------Alwi-------Ahmad

Pembukaan

Di kota Dhafar kuno Negri Oman, di daerah pesisir pantai terdapat tempat yang tenang bernama Marbath, disana terdapat makam Al Imam Al Kabir Muhammad bin Ali yang terkenal dengan Shahibul Marbath.

Puluhan tamu silih berganti mengunjungi makam tersebut, baik dari anak cucu sang Imam yang menyebar di seluruh
Oman ataupun para tamu dari luar, mereka menapak tilas profil seorang Imam yang terkumpul dalam dirinya jiwa pendidik baik itu ilmu pengetahuan ataupun akhlaq Nabi Muhammad SAW dan profesi sebagai saudagar dan pengaman eksport import antara Hadhramaut dan Marbath pada abad VI H.

Pembaca yang budiman, kita sekarang berada di masa yang mana teladan para wali dan para shalihin telah luntur dari sanubari para penerus dan keturunannya sosok mereka hanya tercermin dalam koridor objek yang aneh dan perlu dipertanyakan, cibiran lisan tusukan pena mendarat pada para pecinta orang-orang terhormat tersebut, bahkan diantara mereka ada yang menghujat aqidah para shalihin tersebut padahal tanpa diragukan lagi mereka adalah panutan agama dan pewaris Nabi SAW.

Biografi Shahibul Marbath

Al Imam Muhammad bin Ali dilahirkan di Tarim , hafal Al Qur'an, beliau tumbuh dan berkembang dalam asuhan lembut ayahnya yang seorang pejuang, seorang pemimpin kaum, yang menghabiskan usianya untuk hal yang selayaknya dilakukan oleh orang-orang yang merupakan tonggak ilmu dan pendidikan, jawara sastra dan sopan santun, yang mana waktu mereka habis di majelis-majelis Al Quran, tasfsir, Hadist, dan ilmu Usul, mengajar atau menghadiri jama'ah, ibadah, dan majelis amal-amal Solih yang dilakukan oleh orang-orang terkemuka di masa itu.

Al Imam Shahibul Marbath tercermin juga pada diri beliau sifat mulia para pendahulunya, mereka mempraktikkan dalam kehidupan prinsip seimbang dalam masalah agama dan dunia yang terbias dari basis ilmu yang ada pada diri mereka, mereka memberikan porsi perhatian terhadap masalah pertanian yang merupakan profesi keseharian mereka sebagaimana mereka memberikan perhatian terhadap masalah Ilmu dan majelis-majelisnya supaya mereka tidak merasa butuh akan apa yang ada ditangan orang lain.

Demikianlah Al Imam shohibul Marbath tumbuh berkembang dibawah pantauan ayahnya belajar dan mengambil faidah dari perdagangannya, prinsip-prinsipnya, dan methode yang ditempuh untuk mencapai target, Ayahnya sejak dini telah memasrahkannya kepada syekh-syekh yang bangga untuk mencetak Al Imam Shahibul Marbath untuk menjadi orang besar baik secara dhahir maupun bathin, jika kita tahu siapa mereka guru-guru yang mencetak kepribadian sang imam setelah ayah beliau, maka akan hilang rasa takjub kita, mereka adalah:
1.
Al Syekh Al Allamah Salim Ba Fadhal
2. Al Imam Salim bin Basri
3. Syekh Al Allamah Ali bin Ibrahim Al Khatib
Al Imam Muhammad bin ali terkenal dengan keterkemukaannya, semua orang mengakui ke salehan dan ketakwaan beliau, orang dating dari segala penjuru dunia demi untuk menimba ilmu, bertabarukan, atau minta ijazah dar beliau.

Pengarang Ghararul Baha a Al Dlau-iy mensifati beliau sebagai seorang yang mumpuni dan ahli di segala bidang ilmu, dalam hal ilmu dan amal pada masanya beliau seakan tidak ada yang mengalahkan .

Diantara orang-orang yang banyak menuimba ilmu dari beliau pada masa itu adalah kedua puteranya Alawi dan Abdullah, Syekh Al Allamah Ali bin Ahmad Ba Marwan, guru dari Al FAqih Al Muqaddam, Al Qadli Ahmad bin Muhammad Ba Isa, Syekh Ali bin Muhammad Al Khatib yang terkenal dengan Shahibul Wa'al, dan dari Dhafar Syekh Muhammad bin Ali yang terkenal dengan julukan Sa'ad bin Ali (Shahibu Syihir), Syekh Ali bin Abdullah Al Dhafari dan alin-lain.

Perhatian sang Imam terhadap pertanian dan perdagangan

Konon Al imam Muhammad bin Ali condong untuk bekerja mencari rizki halal dan selalu memotivasi untuk mengeluarkan kekayaan bumi lewat pertanian, sebagaimana beliau selalu memotivasi untuk menggali kekayaan ilmu dengan belajar dan membaca, oleh karena itu beliau selalu keluar ke Bait Jubair bersama keluarganya, guna mengawasi penanaman benih kurma, biji-bijian, sayuran dan lain-lain. Kemudian beliau memperluas wilayah kerjanya sehingga menarik banyak pekerja untuk bisa mengambil keuntungan hasil bumi tersebut, Al Imam sangat perhatian dengan musim-musim cocok tanam, beliau selalu menyiapkan gudang-gudang di Tarim dan Bit Jubair yang dipenuhi dengan bebuahan dan bebijian al ini menambah pemasukan sang imam setiap tahunnya, dikatakan bila beliau hendak ke Bait Jubair ketika musim panen dating, para ibu-ibu menyapu gudang-gudang beliau dari sisa-sisa bebijian, sisa-sisa tersebut bisa terkumpul antara 40 sampai 80 Qahawil (baca: satuan volume pada saat itu) atau semisal 10 mud Nabi SAW.

Disamaping cocok tanam beliau juga seorang saudagar yang menjual makanan dan bebijian, terutama dijalan antara Hadhramaut dan Dhafar, karena beliau sudah terbiasa menempuh perjalanan di pesisir Dhafar dengan tujuan berdakwah, cantuk atau sekedar berlibur, sambil membawa barang dagangan, kadang beliau berangkat bersama anak-anaknya dan singgah di daerah Dhafar berbulan-bulan samapi beliau disana dikenal oleh orang dari segala lapisan,beliau berjasa dalam menyebarkan mazhab Imam Syafi'I di Mahrah dan sekitarnya , yang akhirnya kabilah-kabilah Mahrah dan Dhafar sangat menghormati dan menaati beliau, rombongan-rombongan pedagang dari bait Jubair ke Dhafar biasa berangkat dengan kawalan sang Imam, karena orang-orang baduwi dan para tentara tidak berani macam-macam kepada beliau dan para pengikutnya.

Di Dhafar beliau memiliki majlis ta'lim, majelius fatwa syariah, beliaulah yang memasukkan Aqidah Sunniah ke Dhafar, beliau berhasil menyadarkan penduduk Dhafar akan kesalahan mazhab khawarij yang mereka yakini dan mengubah haluan pandangan mereka menjadi Ahlu Sunnah sebagaimana terjadi pada Hadhramaut, dari sisi ini beliau menteladani kakek beliau Al Muhajir, sebab kalau dulu Imam Muhajir menyebarkan mazhab imam Syafii di Hadhramaut, maka Shahibul Mrabath menyebarkan mazhab ini di Dhafar, dan kalau dulu Imam Muhajir berhijrah dari Basrah ke Hadhramaut maka Shahibul Marbath berhijrah dari Hadhramaut ke Dhafar, bila Al Muhajir dulu bisa menenagkan pergolakan antar kelompok dan mazhab di Hadhramaut, maka Shahibu Marabath memiliki peran yang sama di Dhafar,tempat tinggal Shahibul Marbath di Dahfar adalah Marbath disitu beliau terkenal kepemimpinannya dan meluas pengaruhnya.

Kedermawanannya

Al Imam Muhammad bin Ali sejak pertama sudah terkenal dengan ke deramawanan dan kesukaannya untuk membelanjakan hartanya di jalan kebaikandan kebajikan, sampai-sampai orang-orang awam berlebihan dalam menyifati beliau, mereka mengatakan, sang imam menyantuni penghuni 100 rumah dari bangsa jin apalagi dari bangsa menusia, di riwayat yang lain, menyantuni penghuni 120 rumah, tanpa memandang penyifatan yang pertama atau yang kedua mana yang benar, kenyataan ini menunjukkan kelapangan beliau dalam harta dan derma.

Ha ini ditunjukkan juga dengan maraknya tamu-tamu beliau, penulis Al Jauhar Al Syaffaf mengatakan Syekh Muhammad bin Ali berderma kepada orang banyak, suatu saat seseorang meninggal dunia lantasAl Imam menyuruh keluarganya untuk membuat makanan untuk keluarga jenazah, keluarga beliau mengatakan kita tidak memiliki makanan, tepung ataupun adonan, lantas beliau mengatakan kumpulkan takhamir (baca : sisa adonan tepung yang masih melekat di tempatnya) dulu orang-orang selalu menyisakan ditempat adonan bagian kecil dari adonan tersebut, setelah dikumpulkan dan dimasak terkumpullah 7 bak roti.

Penulis Al Gharar menyifati beliau sebagaimana berikut :

إمام نجيب في العلوم معظم حوى شرفي مجد بعقد مفصل

Seorang panutan mulya yang diakui keagungan ilmunya yang menyandang dua keutamaan tepisah

رؤوف عطوف ذو سخاء و همة مجيد حميد بالمهابة معتلي

Lemah lembut , berkamauan tinggi dan dermawan, mulia terpuji berwibawa tinggi

حليم سخي عالم ذو نزاهة و علم و جاه حازه مع تفضل

Pemaaf, dermawan, berilmu, consisten, berilmu, pangkat, dan keutamaan

شريف منيف شاكر ربه على مزيد من الإنعام بالله الممتلي

Mulya, terhormat, berderajat syukur tinggi atas tiap nikmat dan tambahan Tuhannya

Al Imam Haddad mensifati beliau dikitab Mimiyah beliau sebagai berikut:

و صاحب المرباط إمام جامع

Shahibul Mirbath panutan sempurna
تفرع منه أصل كل إمام

Nasab para panutan kembali padanya

ألئك وراث النبي و رهطه

Mereka pewaris Nabi dan kelompoknya

و أولاده بالرغم للمتعامي

Putra-putranya sekalipun bagi orang yang pura-pura buta

Para penulis biografi mensifati sang imam



Bermacam cara digunakan para penulis biografi untuk mensifati beliau, hal ini semakin menunjukkan ketinggian derajat beliau, penulis (Ghararul Baha-a Al Dhauiy) mensifati beliaud dengan : beliau adalah imam panutan, ahli fiqih, guru yang murni, guru besar yang terkenal memiliki karamah dan keistimewaan jelas, kebarakahan nyata, derajat mulya, kepribadian yang lurus, singa diantara singa-singa.

Penulis kitab Al Gharar mensifati beliau dengan: beliau adalah singa yang menyandang segala keutamaan, maha guru, peninggalan para ulama yang mulya, pendidik dan panutan murid, Syaikhul Islam, tonggak orang-orang terhormat, melampaui jangkauan para pendahulunya, mendahului orang-orang utama dalam berlomba, lebih tinggi dari segala derajat tinggi, sangat dermawan, banyak menyantun, ringan tangan, tenaga ahli, pemilik kesempurnaan orang-orang sempruna, dan kemauan, salah satu orang yang mencapai derajat Al Arif billah, kekasi Allah, kakek yang sempurna, memiliki kemurnian yang tinggi, salah seorang ulama thariqat dan pembimbing kearah hakikat, penempuh tingkatan-tingkatan agama, peniti jalan Nabi SAW, sampai pada: Imam bertakwa, sanagt mumpuni disegala bidang ilmu, satu-satunya ahli ilmu dan amal, ahli zuhud dan wara' dimasanya, beliau menjadi tempat tujuan para santri dari segala penjuru dunia untuk menimba ilmu darinya, karena beliau adalah harta karun ilmu yang terpemdam, beliau pemelopor amar ma'ruf dan nahi munkar, orang yang melihatnya akan terkagum melihat keutamaan-keutamaan nya, beliau memiliki wibawa yang mewarnai hidup beliau dan kebagusan yang tampak di dahi beliau, beliau selalu mendapat rumor positif dari segala lapisan, ilmu dan keutamaan dari Allah menempel pada beliau, para raja dan penguasa tunduk pada beliau ilmu beliau memancar di seantero Yaman, hadhramaut dan Dhafar, terlahirkan dari beliau para panutan yang memiliki ilmu, zuhud, dan kemulyaan.

Keluarga dan anak cucu shahibul Mirbath

Dalam kitab Al Gharar halaman 131 disebutkan bahwa ibu Shahibul Mirbath dan saudaranya Husain adalah Syarifah Fatimah binti Syekh Muhammad bin Ali bin Jadid, adapun keturunana Shahibul Marbath:
1. Alawi bin Muhammad Shahibul Marbath:
Seorang yang dermawan, alim, consisten, mermadzhab Syafi'i dan Asy'ary, meninggal di Tarim pada tahun 613H, meninggalkan 3 orang putra :
1. Ahamd bin Alawi, beliau adalah orang yang pertama kali bertaswwuf sebelum Al Faqih Muqaddam, meninggal beberapa waktu sebelum beliau, Ibnu Hassan dalam Tarikhnya mengatakan, beliau tidak meninggalkan anak kecuali seorang putri yaitu Syaikhah Al Arif Billah Ummu Al Syuyukh Fathimah bin Ahmad, beliau adalah ibu Syekh Ali dan Syekh Abdullah Ba Alawi, Syekh Ahmad meninggal pada 650H, belajar fiqh pada Syekh Ali bin Ahmad Ba Marwan.
2. Abdul Malik bin Alawi, beliau memiliki keturunan di (Bruj) India, berriwayat hidup bagus, tidak diketahui data tentang wafat beliau, dikatakan kapal beliau ketika pulang dari haji ditiup angina dan berlabuh di India lalu disana beliau hidup menikah dan beranak.
3. Abdurrahman bin Alawi, pemilik keutamaan dan peniti Thariqah, zuhud, wara', dan ahli fiqh, diantara kitab yang beliau hafal Al wasith karangan Imam Ghazali, berputra satu bernama Ahmad yang terkenal dengan orang yang paling mendalami Al Wajiz dan menghafalnya, dan gemar membaca kitab-kitab AL Ghazali dan Abu Ishak Al Syairazi, kitab-kitab tersebut dibaca pada Al Faqiih Abdul Rahman bin Abi Ubaid, Ali bin Ahmad bin Abi Marwan, dan Al Faqiih AL Muqaddam.
2. Abdullah bin Al Imam Muhammad Shahibul Mirbath:
Imam Al Muhadist (baca: Ahli Hadist yang meriwayatkan hadist) berilmu luas sekaligus ahli mengamalkan ilmunya beliau terhitung satu-satunya yang mencapai derajat ini, Al Imam Muhammad bin Ali Al Qal'iy menyebutkan di juz pertama kitab Jami' Al Turmudzi didalam ijazah beliau yang kemudian diikuti oleh Al Imam Syekh Abu Al Qasim bin Faris bin Madli : Al Imam Abdullah bin Muhammad membaca kitab tersebut dan Ibnu Madli mendengar bacaan beliau. Model Ijazah beliau sebagai berikut: Aku mengijazahi keduanya kitab Jami' Abi Isa Al Tirmidzi dan lainya. Hali ini terjadi pada tahun 575 H.
3. Ali bin Al Imam Muhammad Shahibul Marbath:
Beliau mengikuti jalan ayahnya, beliau ini lah ayah Al Faqiih Al Muqaddam, pelindung serta pendidiknya, beliau meninggal dunia di Tarim.
4. Ahmad bin Al Imam Muhammad Shahib Al Mirbtah :
Beliau termasuk Ulama yang mengamalkan ilmunya, beliau tidak berketurunan kecuali putri beliau satu-satunya yaitu : Syaikhah Zainab Ummul Fuqaraa (baca : ibu orang-orang faqir) beliau adalah istri Al Faqiih Al Muqaddam dan ibu putra-putranya, beliau meninggal pada 12 syawwal 699H.


Al Imam Muhammad bin Ali di Dhafar

Al Imam Muhammad bin Ali meninggal di kota Mirbath Dhafar kuno (sekarang masuk wilayah Oman,Pen) pada tahun lima ratus enam puluh sekian hijriah , di sana terdapat tempat tinggal beliau, makam, dan riwayat hidup terpuji beliau. Sebab dengan kebaikan-kebaikan dan manfaat-manfaat yang diberikan Allah dan memancar dari tangan beliau dan menyinari hati setiap orang beliau, akhlaq terpuji beliau, kewara'an beliau dalam berdagang, kemauan dan tekad beliau yang kuat, ini semua menjadika beliau diberikan oleh Allah banyak Karamah, juga menyebabkan keseganan orang kepada beliau. Kesabaran beliau dalam berdakwah dan methode dakwah beliau yang menggunakan cara hikmah dan mauidhah hasana menjadikan hati orang-orang badui lunak.

Oleh sebab ini meninggal beliau membawa pengaruh besar pada kejiwaan mereka, karenanya para pecinta dan pengagum beliau merasa tenang dengan adanya makam beliau disana, konon makam beliau menjadi salah satu tempat tujuan ziarah terkenal di Dhafar, karena para murid dan orang-orang yang pernah menimba ilmu dari beliau serta penerus mereka tidak henti-hentinya mengunjungi makam beliau silih berganti.

Orang-orang shaleh yang dalam hidupnya memiliki hubungan kuat dengan syariah khususnya syariah islam, peninggalan mereka tetap hidup sebab para generasi yang memiliki cara pandang normal dan dengan kesadaran penuh tetap memegang teguh peninggalan-peninggalan tersebut,

Di Mirbath Al Imam Muhammad bin Ali selepas kwafatan beliau serasa beliau tetap hidup sebab majelis-majelis hadhrah dan riwayat beliau tetap dijaga dan diingat, hati ribuan generasi telah terbiasa dengan mengingat prinsip-prinsip, sopan santun, dan karakter-karakter beliau yang mulia. Bahkan ilmu beliau menjadi perekat tali kasih antara penduduk setempat dengan orang-orang pedalamannya di satu sisi, disisi lain menjadi bukti sejarah hubungan kuat antara Yaman dan Oman . juga menjadi teladan bagi generasi selanjutnya dalam hal penyatuan pengaruh ilmu dan praktiknya, serta pnyebaran prinsip perdamaian, cinta dan kasih saying diantara sesama tanpa mlirik kejalan kekerasan dan penggunaan senjata dan perang.

Wawasan ilmiah tentang sejarah tercermin padaWawasan tentang prinsip para pelaku sejarah, mengembalikan wawasan ini dengan methode modern yang dimuati dengan Syariah islamiyah yang murni dari limbah siasat merupakan cara jitu bagi umat islam khususnya dan umat manusia pada umumnya untuk mengetahui hakikat kehidupan baik secara materi ataupun spiritual.

Peninggalan para kekasih Allah dan para pejuang expansi islam di dunia merupakan contoh jelas dari isi wawasan ini, makam keluaraga nabi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dan terlatih oleh tangan-tangan mereka, jika benar-benar dimanfaatkan untuk memperbarui dan merangsang tekad para pemuda yang telah terpolusi oleh limbah peradaban baru, akan berdampak besar dalam membentuk generasi yang menyandang dalam dirinya dua hal yaitu, keutamaan hubungan dengan para solihin dan prinsip-prinsip mereka juga kehidupan modern beserta efek ilmiyah dan praktisnya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar